COMPUTERIZATION ESSAY CONTEST 1991 – TOKYO

sc000e8f4b
Pertama kali ke luar negeri, ke Jepang tahun 1991, saat berusia 21 tahun dan semester 6 di ilmu komputer Universitas Indonesia.

Kapan saya pertama kali ke luar negeri? Jawabannya pada tahun 1991. Saat itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa di program studi Ilmu Komputer di Universitas Indonesia.

Pada tahun itu, saya diundang ke Tokyo – Jepang oleh sebuah organisasi yang bernama CICC atau Center of the International Cooperation for Computerization. Saya menjadi salah satu pemenang pada Computerization Essay Contest 1991 yang diselenggarakan oleh organisasi tersebut. CICC adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh korporat raksasa di Jepang yang bergerak di bidang teknologi komputer antara lain seperti NEC, Fujitsu dan Toshiba.

Saya belum pernah berpergian ke luar negeri sebelumnya. Jadi persiapan pun menjadi galau antara urusan administratif seperti paspor dan visa sampai masalah pakaian untuk penampilan nantinya.

Ternyata urusan paspor dan visa tidak susah. Apalagi mengurus visa di Kedutaan Jepang. Begitu saya tunjukkan surat undangan dari CICC maka semua urusan menjadi mudah. Bahkan petugas di urusan visa juga memberi beberapa buku dan brosur mengenai Jepang kepada saya begitu dia tahu bahwa ini pertama kali saya mengunjungi Jepang.

Untuk penampilan, saya membawa kemeja resmi, setelan jas, dasi, baju batik untuk resepsi malam, serta beberapa t-shirt dengan tulisan serta logo Universitas Indonesia.

Kemudian tiket pun sampai di tangan. Saya kaget setengah mati, karena saya dikasih tiket business class Garuda Indonesia! Wow, pertama kali ke luar negeri dan dapat business class rute Jakarta – Tokyo. Kemudian berbagai petunjuk juga disampaikan lewat surat bagaimana menuju pusat kota Tokyo dari Narita International Airport.

Oke, semua sudah siap dan tinggal berangkat.

Selasa, 15 Oktober 1991 malam saya check in di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Saya sebenarnya tidak tahu bahwa ternyata business class itu memiliki perlakukan istimewa sejak saat check in sampai dengan boarding (kecuali pas melewati imigrasi), karena memang belum pernah naik business class. Tetapi saya melihat papan petunjuk check in untuk business class dan dengan percaya diri daya menuju ke counter tersebut.

Saya sempat melihat petugas check in yang menunjukkan wajah keheranan melihat saya berada di situ. Hampir semua penumpang business class yang check in saat itu adalah orang Jepang dan rata-rata berpenampilan eksekutif lengkap dengan jas mereka. Hanya saya yang pakai celana jeans, t-shirt dan jaket. Setelah saya tunjukkan tiket saya, maka mereka pun tersenyum dan dengan ramah melayani walau sekali-sekali melirik wajah saya yang saat itu mungkin jauh dari kesan eksekutif. Maklum, masih mahasiswa hehehe ..

Di pesawat, semua serba mewah dan pelayanan pun memuaskan. Rupanya penumpang business class agak sepi dan saya pun duduk sendiri di deretan kursi dekat jendela, paling depan malahan. Saya masih ingat, ada seorang pramugari cantik yang mengajak saya ngobrol dan banyak tanya seperti interogasi. Salah satu pertanyaannya adalah tinggal di mana dan saya jawab ngekos di Pondok Cina dekat kampus UI. Dia keheranan. Mungkin dia ingin tahu apakah saya anak pejabat yang tinggal di kompleks pejabat negara atau sejenisnya. Lama juga dia ngajak ngobrol sampai menganggu konsentrasi saya nonton film di layar lebar di pesawat. Saya masih ingat, saat itu filmnya “Dances with Wolves” dibintangi Kevin Costner.

Rabu, 17 Oktober 1991 saat subuh saya menyaksikan cahaya aurora di luar jendela pesawat. Itulah pertama kali saya melihat cahaya aurora tersebut yang hanya muncul menjelang musim dingin dan sampai sekarang saya belum punya kesempatan menyaksikannya kembali. Pukul 08.30 pagi pesawat pun mendarat di Narita International Airport di Tokyo – Jepang.

Setelah melewati Imigrasi dan pengambilan bagasi, saya pun mengikuti petunjuk yang diberikan untuk menuju pusat kota Tokyo. Saya disediakan hotel di tengah kota Tokyo, dekat Istana Kaisar malahan di daerah Takebashi, yaitu Tokyo KKR Takebashi Hotel. Petunjuknya, naik bis bandara, lalu turun di Tokyo Railway Station, dari situ naik taksi ke hotel. Semua informasi lengkap dengan harga-harga yang harus dibayar serta prosedur yang dilewati. Jika diikuti dengan baik, tidak mungkin nyasar!

Tak sengaja sewaktu membeli tiket bis bandara, saya berkenalan dengan seseorang berwajah Timur Tengah, namanya Sameh Husein Ghwanmeh, asal Jordania. Rupanya dia memiliki tujuan yang sama dengan saya. Spontan saya bertanya, “Are you invited by CICC?“. Dia tertawa mendengar pertanyaan saya dan menjawab, “I want to ask the same question anyway“. Nah, asyik dapat teman di perjalanan, apalagi dengan tujuan yang sama.

sc000e5227
Bersama Avtar Singh dari India di IT Expo 1991 di Tokyo.

IMG_1025
Bersama para peserta konferensi.

Sekitar jam 12 siang, saya sampai di hotel dan langsung ke kamar untuk istirahat sejenak. Tetapi rupanya rasa lapar mulai menyerang dan tidak ada teman untuk bisa diajak jalan makan. Saya pun jalan-jalan sendiri di sekitar hotel dan ketemu semacam warung makan di semacam pusat perbelanjaan. Menunya mie dan tidak mengandung babi, aman. Rasanya aneh! Tetapi apa boleh buat, daripada lapar, ya di makan saja. Pulangnya saya singgah di sebuah toko dan membeli roti serta minuman untuk stok di kamar.

sc000ecd63
Di kereta bawah tanah, perempuan di sebelah saya itu undangan CICC dari RRC (saya lupa namanya) dan di sebelahnya adalah Sameh dari Jordania.

Sekitar jam 4 sore, saya ditelepon petugas hotel untuk pergi ke sebuah ruang pertemuan dan ditunggu oleh panitia dari CICC. Rupanya di dalam ruangan, semua undangan CICC dikumpulkan untuk mendengarkan briefing mengenai acara dan semua agenda kegiatan kami di Tokyo. Acaranya sangat menarik, mulai dari menghadiri IT Expo 1991, mengikuti berbagai seminar, mendengarkan kuliah umum, kunjungan ke NEC, sampai dengan acara resepsi.

sc000ee98a
Makan siang, saya berusaha keras beradaptasi dengan masakan Jepang saat itu.

IMG_1026
Dinner party.

Saya berkenalan dengan para undangan lainnya, Watana dari Thailand, Erick dari Malaysia, Gerardo dari Mexico, Avtar Singh dari India dan beberapa orang lainnya (saya lupa). Malam itu, Watana mengajak kami semua makan malam di sebuah restoran dekat hotel. Rupanya dia pernah diundang oleh CICC sebelumnya.

sc000e71c5

Kunjungan yang paling berkesan adalah saat mengunjungi NEC Intelligent Building di pusat kota Tokyo. Saat itu riset mengenai artificial intelligence belum lama dimulai di Jepang. Itu juga alasan mengapa CICC didirikan, yaitu untuk melakukan riset tentang Fifth Generation Computer yang berbasis artificial intelligence. Salah satu proyeknya adalah membuat mesin penterjemah bahasa dan untuk Bahasa Indonesia, CICC bekerja sama dengan BPPT.

sc000f738b
Mengunjungi NEC Intellegent Building.

Acara memang sangat padat. Tetapi setelah jam 5 sore acara bebas, kecuali di hari pertama ada acara resepsi. Saya tentu tidak akan melewatkan jam-jam kosong tersebut. Saya jalan-jalan di sekitar Hotel di Takebashi dan Ginza, mengunjungi Hibiya Park dan daerah anak muda di Shinjuku. Saya naik kereta bawah tanah sendiri dan tidak usah takut nyasar. Semua informasi begitu jelas dan tinggal diikuti.

11041767_469108139924545_8664533836256602055_n

Sabtu, 19 Oktober 1991 adalah acara penyerahan hadiah untuk para pemenang Computerization Essay Contest 1991. Para pemenang Computerization Essay Contest terdiri dari enam orang yaitu Watana dari Thailand, Erick dari Malaysia, Gerardo dari Mexico, Avtar Singh dari India serta Sameh dari Jordania (yang bertemu dengan saya pada saat kedatangan di Narita) serta saya.

11102757_469106219924737_482689574699390969_n

Minggu, 20 Oktober 1991 semua undangan kembali ke nagara masing-masing. Kami sepakat tidak mau naik bis bandara lagi ke Tokyo, melainkan mencoba kereta api baru saat itu, yaitu Narita Express.

Sayonara Tokyo, until we meet again …

sc000f4041
Narita Express.

riri japan 3
Narita International Airport – Tokyo.

Tidak lama setelah kembali ke Indonesia, saya mendapatkan surat dan berkorespondensi dengan Hiroko Nishihara, seorang staf CICC yang sering ngobrol dengan saya selama di Jepang. Kami cukup lama berkorespondensi sampai akhirnya terhenti pada tahun 1993.

Lalu pada tahun 1992, pada saat acara SEARCC (South East Asia Regional Computer Confederation) Expo 1992 di Jakarta, saya bertemu dengan Kurosawa-san dan Michiko Niimi dari CICC. Saat itu, Fakultas Ilmu Komputer UI pun mendapat stan gratis dari pihak panitia dan kami pun ikut pameran di sana.

Sampai sekarang, saya masih berteman dengan Michiko Niimi di Facebook.

Cheers.
Riri

IMG_1028

riri japan2

IMG_6319

IMG_6322
Piala dari CICC ini saya peroleh tahun 1991, hampir 24 tahun yang lalu, dan sampai sekarang masih terpajang rapi di lemari saya.

IMG_6321

2 responses

  1. salam, pak Riri..kenalkan saya Denny dosen perikanan UBB (Bangka Belitung), senang membaca kisah memori bapak di Jepang, oia bapak tau nggak pada tahun tersebut di Jepang tahun itu sedang demam drama percintaan jepang ” Tokyo Love Story” yang ngetop banget di Indonesia tahun 1995 di Indosiar, pemerannya Oda Yuji dan Honami Suzuki

    1. hehehehe .. salam juga😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s