BERNOSTALGIA DI LOMBA KARYA ILMIAH REMAJA (LKIR) LIPI 2014

2014-10-30 16.21.41Seminggu yang lalu, tiba-tiba saya mendapatkan undangan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) via mailbox saya. Kali ini topiknya bukan tentang permintaan jadi narasumber atau konsultasi manajemen organisasi, melainkan undangan untuk mengikuti acara reuni para finalis Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang dilaksanakan oleh LIPI. Ini sungguh mengagetkan sekaligus menyenangkan. Saya pun antusias untuk hadir pada acara tersebut yang dilaksanakan pada hari Kamis, 30 Oktober 2014, bersamaan dengan acara LKIR ke-44 tahun 2014, National Youth Inventors Award (NYIA) 2014, serta 10th International Exhebition for Young Inventors (IEYI) 2014.

Ketiga acara tersebut, LKIR, NYIA, serta IEYI diselenggarakan oleh LIPI. Khusus untuk IEYI, diselenggarakan bergantian di berbagai negara Asia, dan pada tahun 2013 yang lalu diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia.

LKIR kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh LIPI sejak tahun 1969. LKIR merupakan ajang kompetisi ilmiah bagi siswa SMP dan SMA atau sederajat berusia 12-19 tahun. Kompetisi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan mereka dalam menganalisa permasalahan dan mencari solusi yang tepat melalui penelitian dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Kegiatan ini bertujuan memotivasi generasi muda, khususnya para pelajar di seluruh Indonesia, untuk melakukan kegiatan penelitian mandiri.

20141031_163933

Setiap tahunnya, dari ratusan karya ilmiah yang masuk ditetapkan beberapa karya ilmiah sebagai finalis untuk dipresentasikan di depan dewan juri di LIPI Jakarta. Kategori karya ilmiah meliputi semua bidang ilmu, dari budaya sampai dengan ilmu alam dan rekayasa teknologi. LKIR menerapkan sistem kompetisi terbuka, di mana tidak ada kuota untuk wilayah di Indonesia. Bisa jadi ada siswa-siswa dari wilayah tertentu yang mendominasi jika memang kualitas penelitian yang dilakukan memenuhi standar mutu yang ditetapkan oleh dewan juri.

Pada tahun 1987, 27 tahun yang lalu, saya masih menjadi siswa di SMA Negeri 2 Padang, Sumatera Barat, mendapatkan panggilan ke Jakarta untuk menjadi salah satu finalis LKIR ke-19. Saya masih ingat, hanya dua orang finalis saat itu yang berasal dari luar pulau Jawa, dan salah satunya saya. Ringkas cerita, saya pun berangkat ke Jakarta dengan perasaan dag-dig-dug karena harus berkompetisi dengan para siswa-siswa yang berasal dari daerah lain di Indonesia, dan umumnya berasal dari pulau Jawa. Alhamdulillah, saat itu saya menjadi pemenang pertama untuk bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK).

20141030_150602
Bersama Bapak Laksana Tri Handoko, Ph.D., seorang pejabat eselon I di LIPI yaitu Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik, beliau adalah pemenang pertama LKIR LIPI bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam tahun 1986.

Kisah dari LKIR LIPI tahun 1987 ini pun menyisakan persahabatan yang manis antara saya dan tiga finalis lainnya, Tri, Ratih, dan Eliza. Kisahnya dapat dibaca di sini.

Kembali ke acara reuni finalis LKIR LIPI. Rupanya ini acara kumpul-kumpul alias reuni yang pertama. Rupanya pimpinan LIPI ingin mengumpulkan semua personel yang pernah mengukir kisah sukses bersama LIPI melalui ajang LKIR. Tetapi sayangnya, semua data tentang para finalis sudah banyak yang hilang, terutama para finalis sebelum tahun 2000. Bahkan data setelah tahun 2000 pun sudah banyah yang tidak valid, karena para finalis sudah berpindah alamat, bahkan banyak yang tersebar di berbagai negara.

Hasilnya memang tidak banyak yang hadir pada acara ini. Undangan hanya dikirimkan kepada mereka yang masih terlacak datanya. Mungkin karena nama saya mudah terlacak melalui search engine di internet, maka saya pun menerima undangan untuk acara ini.

Setelah acara reuni ini, saya pun berkesempatan mengunjungi proses penjurian, di mana para peserta sedang diuji oleh para juri. Ini benar-benar mirip dengan sidang skripsi ataau tesis di kampus. Saya berkesempatan mengikuti proses penjurian para finalis bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan. Pikiran saya pun melayang ke suasana 27 tahun yang silam, di mana saya yang sedang berada di depan itu diuji oleh dewan juri. Saya paham betul bagaimana perasaan para finalis yang sedang berada di depan itu diuji oleh para juri.

20141030_152143

Setelah itu saya pun mengunjungi pameran LKIR, NYIA, serta IEYI. Berbeda dengan 27 tahun yang lalu, pada beberapa tahun terakhir ini, semua finalis harus menampilkan karya mereka pada pameran LKIR, bersamaan dengan pameran NYIA dan IEYI. Maka jadilah aula besar di gedung SMESCO di Jakarta saat itu sebagai ajang ilmiah para remaja dari berbagai wilayah di Indonesia (LKIR 2014 dan NYIA 2014) serta berbagai negara Asia (IEYI 2014).

20141030_155605

Saya ditemani keliling pameran oleh Bang Lauren Pardede, beliau adalah kepala asrama tempat para finalis LKIR LIPI menginap pada tahun 1987 dulu. Saya pun sudah lama tidak bertemu beliau, ya sejak 27 tahun yang lalu!

20141030_150650
Bang Lauren Pardede.

Saya takjub melihat berbagai ide atau gagasan brilian yang ditampilkan para remaja dari berbagai negara Asia seperti Malaysia, Filipina, Taiwan, Hongkong, Jepang, dan sebagainya. Banyak hal-hal inovatif ditayangkan oleh para remaja ini. Sayang sekali, pada zaman saya dulu, 27 tahun yang lalu, ajang internasional seperti ini belum ada. Para remaja sekarang punya kesempatan yang lebih besar untuk tampil di ajang internasional untuk bidang penelitian dan karya inovatif. Sejak muda mereka sudah mengenal suasana kompetisi tingkat internasional sehingga tidak lagi seperti “katak di bawah tempurung”.

20141030_160812

20141030_160909

2014-10-30 16.24.12

Terima kasih kepada LIPI atas undangannya. Saya bangga pernah menjadi bagian dari ajang seperti ini. Selamat untuk para peneliti remaja dengan karya-karya briliannya.

Oh ya, anak pertama saya Raihan mungkin mewarisi saya di bidang ini. Dia pernah menjadi pemenang kedua untuk Science Presentation Contest untuk tingkat SMP di sekolahnya SMP Islam Fajar Hidayah (lihat di sini), walaupun mungkin dia punya bakat juga di bidang musik (lihat di sini).

Salam sukses selalu.
Riri

2 responses

  1. […] ya, pada tahun 1987 saya pernah mendapat Juara Pertama untuk Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Nasional yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indones…. Saat itu, tulisan saya membahas arsitektur tradisional Minangkabau ditinjau dari sisi budaya. Nah, […]

  2. […] kesempatan ke LIPI, saya selalu mengatakan bahwa saya punya hubungan emosional dengan LIPI, terkait Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) LIPI di mana tahun 1987 saya juara pertama bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s