KATO MANDAKI, KATO MALERENG, KATO MANURUN

Ada suatu filosofi komunikasi yang berasal dari wisdom di kampung saya di Ranah Minang, yaitu kato mandaki, kato malereng, dan kato manurun. Mungkin ini adalah suatu etiket komunikasi sosial yang perlu dilestarikan, suatu nilai luhur yang berakar dari budaya bangsa ini, terkait dengan sopan-santun dan adab dalam komunikasi.

Kato mandaki adalah suatu adab bicara kepada orang yang lebih tua, lebih senior, atau yang lebih dihormati karena berbagai sebab. Bisa jadi juga karena kedudukan sosialnya. Pilihan kata untuk kato mandaki ini penuh dengan rasa hormat. Dalam adat Minang, perdebatan dalam rangka musyawarah untuk mufakat, ibarat bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakek, memungkinkan orang yang lebih muda mendebat atau bahkan berbeda pendapat dengan yang lebih tua. Tetapi perdebatan itu harus dilakukan dengan adab kato mandaki. Kato mandaki bisa berupa minta nasehat, petunjuk, ajaran, pendapat, pertimbangan, tetapi juga bisa berupa penyampaian pendapat, ketidaksetujuan, perdebatan, dan sebagainya. Jadi kato mandaki ini adalah masalah adab atau etiket, tetapi tidak ada hubungannya dengan subtansi.

Mungkin ada benarnya kata sebagian pengamat, bahwa untunglah sidang pertama DPR dan MPR yang baru terbentuk beberapa waktu yang lalu dipimpin oleh anggota dewan yang sangat senior dan perempuan, karena memang aturannya begitu. Melihat panasnya sidang, mungkin jika bukan kedua perempuan senior itu yang memimpin sidang, sudah terjadi baku hantam di ruang sidang. Setidaknya para anggota DPR dan MPR yang terhormat masih memiliki filosofi “kato mandaki” sehingga ada suatu penghormatan kepada sosok yang lebih senior, sehingga kericuhan yang lebih parah bisa dihormati.

Tetapi jangan lupa, bagi sosok yang lebih tua, lebih senior, lebih terhormat, mereka pun tidak akan terlepas dari adab kato manurun yang akan saya bahas di bagian akhir nanti.

Kato malereng adalah adab komunikasi untuk pihak yang hampir sama usianya, kedudukannya, sama status sosialnya. Saya lebih suka menggunakan istilah kato malereng daripada kato mandata atau kata mendatar karena sebenarnya hampir tidak ada kesejajaran mutlak tersebut, pasti ada plus dan minusnya, sehingga adakalanya kita perlu sedikit merendah (malereng). Kato malereng memiliki adab yang sifatnya konsultatif, meminta pendapat, dilakukan dalam kerangka tukar pikiran antar pihak yang hampir sejajar atau setingkat. Jika anda memiliki perilaku yang bossy terhadap pihak yang sama usianya, sama kedudukannya, sama status sosialnya, maka ini bukanlah sesuatu yang bisa diterima dalam filosofi ini. Pada kato malereng, perdebatan yang lebih “panas” diperbolehkan, tetapi tentu saja dalam kerangka mancari nan bana, indak nio manang surang (mencari kebenaran, bukan ingin menangnya sendiri). Walaupun begitu alua jo patuik (tata krama dan kepatutan) tentu tetap diperlukan. Kato malereng sesama laki-laki atau perempuan, tentu berbeda dengan kato malereng antar seorang laki-laki dengan perempuan atau sebaliknya.

Kato manurun adalah adab komunikasi untuk pihak yang lebih muda usianya, lebih yunior, termasuk yang lebih rendah dari sisi status sosial. Kato manurun ini bersifat mambaok ka nan luruih, bajalan ka nan tarang, mambukak pangana nan tatutuik (membawa ke jalan yang lurus, berjalan ke yang terang, membuka pikiran yang tertutup). Ini merupakan suatu sikap bijak (wisdom) dari pihak yang lebih senior, lebih tinggi kedudukan, lebih pintar, dan sebagainya. Kato manurun tidak boleh bersifat bossy, walaupun yang berucap adalah yang lebih tua, lebih senior, lebih tinggi kedudukan, atau lebih pintar. Kato manurun harus mampu membuar orang maranuang di hati, indak mambuek bangih (merenung di hati tanpa membuat marah).

Jika dipelajari lebih jauh, banyak sekali budaya luhur bangsa ini berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Tetapi menjadi suatu keprihatinan jika budaya luhur, adab dan budi pekerti ini, justru menjadi asing oleh bangsa sendiri, di tanah air sendiri.

Saya sendiri banyak “ditertawakan” apabila mengungkapkan filosofi kato mandaki, kato malereng, kato manurun ini. Beberapa mengatakan bahwa saya “terlalu tradisional” alias “kampungan” dan tidak sejalan dengan perkembangan globalisasi di dunia. Banyak sahabat saya yang berpendidikan sangat tinggi akhirnya merasa asing dengan nilai-nilai luhur bangsa sendiri. Tentu saja kita harus memahami filosofi nilai luhurnya, bukan pelintiran atau manipulasi dari nilai-nilai luhur itu sendiri.

Saya yakin, pada suku lainnya di Indonesia ini banyak tersimpan nilai-nilai luhur lainnya yang bisa diangkat sebagai adab atau budaya positif bangsa ini. Jika semua nilai luhur itu digali, maka ditemukan suatu harta karun budi pekerti yang mungkin sudah lama hilang dari peradaban kita.

Sebuah tantangan untuk “Revolusi Mental” Presiden Joko Widodo.

Salam
Riri

3 responses

  1. rancak bana!,salam dari itb da hehe

  2. Saya tidak sengaja membaca judul tulisan Abang Riri, ketika sedang mencari tugas sekolah untuk anak saya, terkait budaya di Sumatera Barat. Dan kebetulan istri saya adalah berasal dari Bukit Tinggi (Kampung Matur tepatnya, Maninjau).

    Filosofi komunikasi yang disampaikan, kato mandaki, kato malereng, kato manurun, sungguh amat cocok dengan budaya agama Islam yang sudah banyak ditinggalkan yakni adab. Adab berkedudukan lebih tinggi daripada akhlaq dalam agama Islam, karena adab memperlihatkan seseorang apakah ia berakhlaq ataupun tidak. Beradab bukan berarti kolot, tetapi lebih menjadikan seseorang itu adil, yakni menempatkan sesuatu pada tempatnya. Sudah jarang terlihat lagi adab antara anak-anak dan orang-tua. Adab antara laki-laki dan perempuan, adab anak menantu dan mertua, bahkan adab antara murid dan guru.

    Salam kenal,
    Oki Tambunan

    1. terima kasih Bang Oki Tambunan .. ya, saya setuju .. begitulah .. tetapi sayang, hal-hal seperti ini sudah jarang diperhatikan .. itu yang menyedihkan ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s