HIKMAH IDUL ADHA : DIALOG DENGAN ANAK

Sudah banyak yang mengulas hikmah atau pelajaran (lessons learned) yang bisa dipetik dari Hari Raya Idul Adha. Nah, pada tulisan ini saya mencoba mengangkat suatu hikmah yang mungkin jarang diulas (setidaknya saya jarang membaca ulasannya), tetapi menurut saya juga sangat penting berkaitan dengan Idul Ada.

Apakah yang dilakukan Nabi Ibrahim AS ketika turun wahyu Allah SWT kepadanya untuk mengorbankan anaknya Ismail? Bayangkan, mengorbankan sang anak tercinta, dan ini adalah wahyu Tuhan. Dengan predikat kenabian yang dimilikinya, maka tidak mungkin Nabi Ibrahim AS berbohong, sehingga tidak diperlukan melakukan verifikasi atau validasi terhadap kebenaran perintah dalam wakyu tersebut. Dengan singkat kata, sebuah wahyu Tuhan itu benar apa adanya.

Tetapi Nabi Ibrahim AS tidaklah sosok yang otoriter atau semena-mena. Mentang-mentang seorang Nabi dan juga seorang ayah, dia justru mengajak Ismail berdialog. Dia menyampaikan bahwa dia mendapatkan wahyu dari Allah SWT untuk mengorbankan Ismail, lalu dia akhir penyampaiannya dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimana menurutmu ya anakku?”.

Kalimat terakhir ini sungguh dahsyat. Nabi Ibrahim AS justru tidak otoriter dalam menyampaikan waktu Tuhan. Untuk sesuatu yang sudah jelas pun dia masih membuka ruang dialog dengan sang anak. Jika kita berandai-andai, tanpa dialog pun mungkin Ismail akan menerima kondisi itu. Tetapi Nabi Ibrahim AS adalah seorang Nabi dan juga seorang bapak yang arif bijaksana. Dia membuka ruang dialog dengan sang anak yang sudah mulai beranjak dewasa.

Ya, membuka ruang dialog dengan anak, terutama yang sudah beranjak dewasa. Ini suatu hikmah dalam kisah Nabi Ibrahim AS dengan Ismail (yang kelak juga menjadi Nabi). Sebagai seorang Bapak yang juga kepala rumah tangga (saya juga termasuk) apakah kita cenderung bersikap otoriter (memerintah) atau cenderung membuka ruang dialog dengan anggota keluarga (isteri dan anak). Ini sebuah perenungan yang menarik. Pelajaran yang diberikan oleh Nabi Ibrahim AS sangat berharga, yaitu bagaimana sejatinya seorang bapak itu harus membangun ruang dialog dengan anaknya, walaupun untuk sesuatu hal yang sudah diyakini benar. Dialog itu tetap penting.

Ah, jika Nabi Ibrahim AS yang notabene seorang Nabi yang pemikiran dan ucapannya “dijaga dan dikawal” oleh Allah SWT masih membuka ruang dialog dengan anaknya, apalagi kita yang manusia biasa, dengan ilmu pengetahuan yang terbatas, serta sikap arif bijaksana yang masih jauh di bawah seorang Nabi. Terlalu sombong jika kita tidak membuka ruang dialog dengan anak dan keluarga pada umumnya.

Jika kita diberi amanah untuk memimpin sekelompk orang, apakah sudah dibuka ruang dialog dengan orang yang kita pimpin?

Buat saya ini adalah suatu hikmah yang menarik berkaitan dengan Idul Adha, di samping tentunya hikmah-hikmah lainnya.

Alangkah indahnya kehidupan jika semua pendapat dipertemukan dalam sebuah ruang dialog, bahkan untuk sesuatu yang dipakini benar sekalipun. Jika memang demikian, maka sikap otoriter dan menutup ruang dialog (karena sudah merasa benar sendiri) menempatkan kita menjadi orang yang sombong karena seorang Nabi pun tidak bersikap begitu.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1435H, semoga kita mampu memetik berbagai hikmah dari kisah teladan Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail AS.

Salam
Riri


Pintu masuk Masjid Nabi Ibrahim AS di kota Hebron, sebuah wilayah Palestina yang sekarang diduduki Israel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s