BELAJAR DARI UBUD WRITERS AND READERS FESTIVAL 2014 #UWRF14

2014-10-01 11.19.17 copy

Selama tiga hari (1-3 Oktober 2014) saya mengikuti acara Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2014 yang diselenggarakan oleh Yayasan Mudra Swari Saraswati di Ubud – Bali. Saya juga mengikuti acara ini tahun 2013 yang lalu di mana saat itu juga dilakukan perayaan tepat 10 tahun penyelenggaraan acara ini. Silakan baca ulasan saya mengenai UWRF 2013 di sini, lalu album foto pertama dan kedua, serta videoklip singkat yang saya buat di YouTube.

2014-10-01 11.10.04

Sama dengan tahun 2013 yang lalu, pada tahun 2014 ini saya juga tidak bisa mengikuti acara ini secara penuh karena harus kembali ke Jakarta untuk Hari Raya Idul Adha. Silakan lihat album foto pertama di sini dan kedua di sini. Tetapi walaupun demikian, banyak pelajaran yang saya peroleh selama mengikuti acara ini.

Acaranya sangat banyak dan padat, ada tiga paralel sessions setiap hari yang diselenggarakan di tiga tempat utama, yaitu Neka Art Gallery dan Museum, Indus Restaurant, serta Left Bank Hall. Semua berlokasi di wilayah Sanggingan – Ubud. Selain itu banyak kegiatan pameran dan diskusi yang berlanngsung di berbagai tempat lain.

ub05

Banyak topik yang menarik bentrok jadwalnya sehingga kita harus memilih. Sama seperti tahun yang lalu (dan mungkin juga begini sejak awalnya) pelaksanaan acara sangat rapi. Semua informasi dan petunjuk acara sangat jelas sehingga kita tak mungkin salah, kecuali kalau tidak bisa membaca dan memahami peta. Panitia yang terdiri dari berbagai warga negara pun siap sedia di semua lokasi acara dan mudah ditemui. Mereka pun akan memberikan informasi atau menjawab pertanyaan kita dengan baik.

Di sela-sela acara, saya berkesempatan mengunjungi Museum Rudana dan sempat ngobrol singkat dengan Pak Putu Supadma Rudana serta ada juga Pak Aristides Katoppo serta tamu lainnya, tentang kebudayaan nasional (silakan baca ulasannya di sini) serta Agung Rai Museum of Art dan bahkan ngobrol satu jam lebih dengan Pak Agung Rai, si pendiri museum, mengenai alam dan kebudayaan manusia (silakan baca ulasannya di sini). Tentu saja tidak ketinggalan menikmati suasana Ubud di sore dan malam hari untuk santai sejenak setelah mengikuti acara UWRF 2013 setiap hari.

ub08

Setelah ketua penyelenggara UWRF 2014, Janet DeNeefe memberikan sambutannya, maka tampil Bustar Maitar dari Greenpeace Indonesia membawakan keynote speech. Pada kesempatan itu Bustar menyampaikan betapa pentingnya pelestarian lingkungan hidup untuk keberlanjutan pembangunan di negara ini, bahkan juga di dunia. Beliau memberikan penekanan kepada pelestarian hutan. Ada suatu hal yang menjadi keprihatinan, di mana kepentingan ekonomi jangka pendek sering mengorbankan kepentingan kehidupan jangka panjang. Ekologi lingkungan hidup serta kebudayaan yang pro terhadap pelestarian lingkungan sering tidak dianggap penting. Banyak kita temukan kearifan lokal di Indonesia yang pro terhadap pelestarian alam dan lingkungan, bahkan juga ajaran agama, tetapi seringkali semua kalah oleh kepentingan ekonomi jangka pendek. Bustar menghimbau para penulis agar mengambil peran untuk menuliskan lingkungan hidup, menyuarakan dan mengkampanyekan pentingnya pelestarian itu semua dengan bahasa yang menggugah. Dengan cara demikian, para penulis juga berperan penting dalam upaya pelestarian alam dan lingkungan, demi kehidupan manusia itu sendiri.

ub12

Pidato Bustar Maitar memang singkat, tetapi memberikan pesan penting. Seorang penulis, bahkan penulis fiksi sekalipun serta puisi, bukanlah sosok yang steril dari isu-isu penting di lingkungan hidup. Mereka harus mampu memotret berbagai fenomena yang terjadi dan menyajikan berbagai realitas itu dalam tulisannya dengan bahasa yang menggugah. Apakah nantinya berbentuk puisi, novel, atau tulisan non-fiksi, semua itu hanyalah cara yang ditempuh. Sebuah tulisan sejatinya harus mampu membangun berbagai kearifan untuk menyikapi lingkungan hidup, termasuk lingkungan sosial.

ub24

Diskusi panel pertama yang saya ikuti berjudul “Destination Unknown” yang dipandu oleh Janet Steele (seorang asisten profesor dari George Washington University untuk studi media dan kebijakan publik) dengan panelis Azyumardi Azra (mantan rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta), Elizabeth Pisani (seorang peneliti tentang Indonesia asal Australia, penulis buku Indonesia Etc) and Goenawan Mohamad (tokoh budaya dan jurnalistik Indonesia). Pada diskusi ini terungkap adanya suatu teka-teki besar mengenai sistem politik Indonesia setelah Pemilu 2014 ini. Situasinya menjadi berbeda dengan tahun-tahun yang lalu, di mana konflik antar dua kubu yang bersaing yaitu Koalisi Indonesia Hebat (pemenang pemilu Presiden) dengan Koalisi Merah Putih (yang menguasai parlemen atau DPR). Muncul kekhawatiran konflik ini tidak mengarah ke konflik yang konstruktif, melainkan ke arah yang destruktif. Kedua kubu kemungkinan akan saling meniadakan seperti zero-sum game. Jika itu yang akan terjadi, maka akan menjadi suatu pertanyaan besar, ke mana arah sistem politik dan sosial Indonesia akan bergerak berikutnya? Bangsa Indonesia sudah lelah dengan berbagai konflik. Akankah perseteruan ini akan membuat suatu konflik yang lebih besar ke depan? Semua sangat berpulang kepada kearifan para politisi yang diberi amanah untuk mengurusi negara, baik di legistaltif maupun eksekutif. But still, the destination is still remain unknown.

ubud209

Sesi menarik lainnya adalah tentang “Chief Belief Officer” yang menampilkan Devdutt Pattanaik, seorang pengamat mitologi dan penulis buku “Business Sutra : A Very Indian Approach to Management”. Beliau sudah menulis 25 buku dan 400 artikel mengenai hal ini. Silakan kunjungi website beliau di sini. Devdutt menyampaikan bahwa dalam sistem sosial masyarakat dikenal dua jenis nilai-nilai (values) atau bahkan sering disebut kebenaran (truth). Pertama adalah objective values yang membutuhkan validasi dari pihak lain dengan berbagai metode seperti yang dikenal dalam dunia ilmu pengetahuan atau sains. Kedua adalah subjective values, yaitu sesuatu yang masih diragukan kebenarannya, tetapi diterima sebagai sebuah kebenaran oleh suatu kelompok masyarakat dan dipergunakan sebagai filosofi hidup, dan ini yang disebut dengan mitos. Devdutt mengatakan bahwa tidak ada yang salah jika kita menggunakan mitos ini sebagai filosofi kehidupan, termasuk dalam dunia bisnis dan ekonomi. Tetapi memang harus dipahami bahwa subjective values tentu akan bertemu dengan subjective values yang lain, dan di sinilah pentingnya mencari titik temu atau “suatu kesepakatan bersama” supaya bisa bersinergi.

ubud206

Nah, pada tataran dunia saat ini, peradaban Barat sering menganggap subjective values versi mereka adalah suatu universal values yang harus diterima oleh dunia. Inilah letaknya kesombongan dunia Barat. Padahal dunia ini sangat beragam dan banyak sekali subjective value yang lain. Tetapi memang tidak bisa dimungkiri bahwa setiap peradaban akan berupaya membawa subjective values mereka menjadi suatu universal values yang harus diterima orang lain. Jadi, menurut Davedutt, Chief Belief Officer adalah seseorang yang selalu menumbuhkan semangat dan kekuatan dalam organisasi untuk mencapai visi dan misinya dengan menggunakan mitos atau subjective values sehingga menghasilkan suatu kekuatan serta motivasi yang besar untuk personel di dalam organisasi.

2014-10-02 15.33.55

Sesi yang paling menarik perhatian para peserta UWRF 2013 kali ini menurut saya adalah “Understanding Islam” yang menampilkan Janet Steele sebagai pemandu dengan panelis Azyumardi Azra, Goenawan Mohamad serta Sacha Stevenson. Menarik jika menyimak kehidupan Sacha yang mualaf, bahkan pernah menjadi fundamentalis, tetapi sekarang dia mengaku “Islam KTP”. Sesi ini tentu saja tidak akan bertujuan untuk membuat kita paham tentang Islam, karena kalau itu harapannya, maka siap-siap untuk kecewa. Sesi ini lebih banyak membahas bagaimana Islam dipotret oleh berbagai pihak dari berbagai perspektif atau sudut pandang. Saya jadi paham bagaimana Islam menurut sudut pandang A, B, C dan seterusnya, serta mengapa mereka berpandangan demikian. Ada yang menarik kesimpulan dari hal-hal yang sifatnya filosofis Islam, tetapi ada pula yang menyimpulkan secara empiris dari perilaku orang Islam itu sendiri.

2014-10-02 15.33.03

Pengamatan saya di ruangan itu menyimpulkan bahwa orang Barat memang sebagian besar menyimpulkan Islam dari perilaku pemeluknya, bukan dari filosofi dasarnya. Ini tentu tidak salah, karena itulah yang paling mudah untuk dilihat. Bagaimana kiprah partai Islam di Indonesia, umat Islam di Indonesia, umat Islam di Timur Tengah, umat Islam di berbagai negara, bahkan sampai ISIS pun akan menjadi fakta bagi mereka untuk menyimpulkan Islam seara cepat. Tentu berbeda pemahamanya jika melakukan penelitian dengan serius. Nah masalahnya, pemahaman ini sering menjadi topik dalam berbagai tulisan yang dihasilkan dunia Barat, sehingga semakin menambah runyam potret tentang Islam.

2014-10-02 12.45.11

Saya juga mendengar sesi tentang Can Xue, seorang penulis terkenal dari RRC. Can Xue pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya di bawah pemerintahan otoriter RRC. Ini disebabkan karena ayahnya termasuk penentang rezim otoriter tersebut. Akibat kiprah sang ayah, Can Xue kecil sering hidup berpindah, serba kekurangan, dan penuh tekanan. Pengalaman inilah yang menjadi inspirasi Can Xue dalam menuliskan karyanya.

Seperti yang dikatakan Can Xue (yang saya kutip dari Wikipedia) :
In very deep layers,” she says, “all of my works are autobiographical.”[5] As for those who struggle to find meaning in her stories, Can Xue has this to say: “If a reader feels that this book is unreadable, then it’s quite clear that he’s not one of my readers.

Can Xue orangnya baik dan ramah, hanya sayang Bahasa Inggrisnya kurang lancar sehingga agak terkendala kalau ngobrol dengannya.

Pada acara tersebut saya juga ketemu dengan Debra Yatim dan saya dikasih sebuah buku puisi oleh Debra Yatim. Saya bertemu Debra setelah mengikuti sesi beliau di Neka Art Gallery and Museum. Judul bukunya “Forest Highs and Turning Tides : Songs for My Sisters” diterbitkan tahun 2007. Buku ini berisikan puluhan puisi dalam Bahasa Inggris dan didedikasikan untuk para perempuan Aceh untuk bangkit kembali setelah bencana alam tsunami tahun 2004. Buku puisi Debra Yatim ini saya bahas khusus di sini.

ubud213

Saya juga menikmati acara terakhir yang saya ikuti, yaitu diskusi tentang sesi “An Economy of Words”. Menurut pengantar acaranya “Poets are the economist of words“. Sebuah puisi pada hakekatnya merupakan suatu kumpulan kata-kata yang juga memiliki “prinsip ekonomi”. Sesi ini menampilkan sejumlah panyair dari berbagai negara dan juga dipandu oleh seorang penyair. Sesi ini menjadi sangat menarik karena setia panelis harus tampil membacakan puisi. Khusus untuk hal ini, saya ulas pada tulisan tersendiri (silakan baca di sini).

ub35

Sama seperti tahun lalu, ebagian besar peserta adalah orang asing. Saya benar-benar merasa aneh pada acara ini. Rasanya kok saya yang menjadi orang asing di sini. Tidak banyak orang Indonesia saya temui sebagai peserta. Apakah benar seperti sinyalemen yang disampaikan Ayu Utami setahun yang lalu pada acara yang sama bahwa membaca (readership) masih rendah di Indonesia. Jika ini benar maka tentu sangat memprihatinkan, karena membaca adalah ibarat membuka jendela dunia. Mudah-mudahan lelucon sinis “we are Indonesia, we don’t read but we listen, we don’t write but we talk” tidak benar, sebab kalau benar ini tentu memprihatinkan.

2014-10-02 15.32.33

Hal yang menarik selama acara ini adalah, para peserta datang ke ruang diskusi dengan pakaian bebas, mau bawa kopi bahkan bir juga silakan, tetapi merek semua menyimak jalannya diskusi dengan serius dan bahkan diskusi pun berjalan dengan kualitas pembicaraan yang tinggi. Tidak ada yang keluar-masuk ruangan, apalagi dering telepon. Sikap atau perilaku pembelajar lebih dikedepankan daripada artefak.

2014-10-01 11.20.03 copy

Demikianlah .. saya sangat menikmati acara ini .. semoga bisa hadir lagi pada tahun-tahun berikutnya ..

Salam
Riri

5 responses

  1. […] acara UWRF 2015. Ini adalah ketiga kalinya saya mengikuti acara UWRF ini, dimulai tahun 2013, 2014 dan sekarang […]

  2. […] kecil saya tentang UWRF tahun 2013 di sini (sekaligus perayaan ulang tahun UWRF yang ke-10) serta UWRF 2014 di […]

  3. […] penulis yang saya temui pada acara Ubud Writers and Readers Festival di Ubud baik tahun 2013 maupun 2014 yang lalu. Bahkan para penulis pemula membangun usaha penerbitan sendiri yang kecil-kecil dikenal […]

  4. Wiwik S. Suhartati | Balas

    Terima kasih ulasan yang informatif sekaligus kontemplatif, Ri. Jadi pengen ikut, meski baru akan sekedar mengamati perilaku para pembelajar. Sangat suka ‘sikap dan perilaku pembelajar lebih dikedepankan daripada artefak’ hmmm….

    1. sama-sama Wiwik .. ayo tahun depan ikutan yuk🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s