APA YANG SAYA PELAJARI DARI UBUD WRITERS AND READERS FESTIVAL 2013? #UWRF2013

Ubud01Halo .. salam dari Ubud – Bali. Saya memang tidak mengikuti secara penuh acara Ubud Writers and Readers Festival 2013 atau #UWRF2013 ini karena harus segera kembali ke Jakarta. Tetapi walaupun demikian, banyak pelajaran yang saya peroleh selama mengikuti acara ini.

Harus saya akui, pelaksanaan acara sangat rapi. Semua informasi dan petunjuk acara sangat jelas sehingga kita tak mungkin salah, kecuali kalau tidak bisa membaca dan memahami peta .. hehehe .. Panitia pun siap sedia di semua lokasi acara dan mudah ditemui. Mereka pun akan memberikan informasi atau menjawab pertanyaan kita dengan baik. Panitia adalah gabungan antara orang Indonesia dengan orang-orang asing. Saya temui banyak panitia orang bule, dan umumnya berasal dari Australia.

Acaranya sangat banyak dan padat, ada tiga paralel sessions setiap hari .. banyak topik yang menarik bentrok jadwalnya .. sehingga kita harus memilih.

uw00

Goenawan Mohamad pada pidato pembukaannya mengatakan bahwa mungkin pada awalnya pada yang sinis bahwa acara ini bukanlah sebuah acara yang serius, melainkan hanya acara wisata yang bertujuan untuk mendatangkan turis-turis dari Australia. Mungkin tidak salah juga pada awalnya, karena acara ini digagas oleh Janet DeNeefe setelah peristiwa bom bali yang pertama, di mana kehidupan wisata Bali jatuh ke titik paling rendah. Dengan demikian, perlu suatu terobosan kreatif yang mampu menjelaskan kepada dunia bahwa sebenarnya Bali itu aman. Maka cara yang paling mudah untuk menjelaskan itu adalah dengan menghadirkan para “juru bicara dunia” yaitu para penulis ke pulau Bali.

Tahun demi tahun acara ini berkembang dan akhirnya menjadi ajang tahunan untuk para penulis-penulis dunia dan para pembacanya sambil menikmati suasana Ubud – Bali. Ini juga sejalan dengan visi Ubud, yaitu membangun keunggulan sebagai kota seni dan budaya di Bali.

uwf241

Dalam ilmu sosial dijelaskan bahwa seringkali masyarakat butuh “cermin” untuk memahami dirinya. Karya seni seperti sastra, seni rupa, musik, dan sebagainya bisa menjadi cermin tersebut. Itulah sebabnya beberapa karya seni mengangkat topik yang secara tradisional dibahas dalam ruang privat menjadi terbuka di ruang publik. Sebagai sebuah “cermin” maka apa yg terlihat bisa dipahami dengan lapang dada, tetapi juga tidak jarang ditolak dan dikecam. Tetapi walaupun demikian, seorang penulis harus tetap menyuarakan apa-apa yang terjadi pada masyarakat, supaya bisa menjadi “cermin” tersebut. Ini yang dilakukan oleh Bernice Chauly dari Malaysia. Dia membahas bagaimana kisah kedua orang tuanya yang mengalami cinta terlarang dan ditentang oleh kedua keluarga besar dan adat. Walaupun ini kisah privat, tetapi dia membawa ke ranah publik supaya bisa menjadi “cermin”. Tetapi dia sangat menyadari bahwa apa yang dia tulis itu bisa juga ditolak oleh masyarakat walaupun faktanya itu terjadi.

Para penulis juga bisa memainkan peranan penting, yaitu sebagai agen perubahan. Bagaimana caranya? Dengan membuka mata dan menggugah masyarakat tentang berbagai fenomena sosial. Para penulis harus mampu membuka mata dan wawasan masyarakat dengan menceritakan berbagai kisah di tempat lain dan paradigma berpikir yang berbeda. Ini tidak hanya sekedar menceritakan, melainkan juga menggugah, sehingga masyarakat berpikir, dan perlahan-lahan berubah. Tetapi sekali lagi, perubahan tidak selalu berjalan mulus, selalu penuh tantangan, bahkan kecaman, termasuk kepada para pengusung ide seperti penulis. Janganlah pernah kecewa dan lalu berhenti menulis. Pada saat penulis berhenti menulis, maka bencana sosial pada masyarakat mulai berdatangan. Metta Dharmasaputra menulis “Saksi Kunci” yang berisikan skandal Asian Agri dalam penggelapan pajak di Indonesia. Dia ingin mengubah masyarakat agar jangan takut menegakkan kebenaran. Perubahan atau menegakkan kebenaran harus dilakukan secara kolektif.

uw603Saya terpesona dengan Lydia Cacho, seorang jurnalis asal Mexico yang good looking dan sexy. Tetapi bukan karena itu saya terpesona, melainkan karena kiprahnya sebagai jurnalis dan penulis buku reportase yang luar biasa yang selalu menginvestigasi dan melaporkan berbagai kejahatan kekerasan terhadap anak-anak dan juga perdagangan / perbudakan anak. Dia pernah ditahan oleh pemerintah Mexico, disiksa di dalam penjara, bahkan diintimidasi dan diancam. Tapi semua itu tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap menjadi jurnalis yang melaporkan kekerasan. Dia punya impian bahwa kekerasan, terutama terhadap anak-anak lenyap dari muka bumi ini. Great work Lydia!

Pesan dari para penulis hebat yang hadir pada acara ini hampir seragam, jangan pernah takut menulis bahkan menulis hal-hal yang kritis dan melawan arus besar paradigma masyarakat. Sebuah tulisan itu sejatinya mengusung ide, dan sebuah ide tentu saja perlu diperbincangkan, dibahas, dan didiskusikan. Bahkan jika seorang penulis sudah sampai dikerangkeng pun sehingga tak bisa menulis lagi oleh rezim yang berkuasa atau karena tirani mayoritas, maka sesungguhnya hanya fisik yang dikerangkeng, dan ide-ide tak akan mati walau fisik di balik jeruji besi. Inilah keberanian yang dianut oleh Goenawan Mohamad. Dia tetap menulis, walaupun apa yang terjadi. Ini juga dilakukan Laksmi Pamuntjak dengan bukunya Amba yang diterjemahkan ke Bahasa Inggris menjadi The Question of Red. Novel ini sangat kritis memotret kondisi masyarakat.

Memang masyarakat, bahkan masyarakat terpelajar sekalipun selalu punya stereotipe. Misalnya, menurut Pallavi Aiyar, kalau ada orang India yang menulis hal-hal yang berbau internasional, maka pasti topiknya tentang diaspora India atau seputar topik itu. Tetapi jika ada orang India yang menulis tentang China, maka orang akan bertanya, bisakah dia? Stereotipe ini masih ada saat ini, bahkan di negara maju pun hal ini terjadi. Kita menilai kemampuan orang bukan dari kompetensi yang dimilikinya, melainkan dari etnik, ras, dan sebagainya.

Di sisi lain memang kemampuan berkarya seorang penulis juga ditentukan oleh wawasan dan lingkungannya. Kris Karmila daru Brunei Darussalam pernah bingung, mengapa dalam suatu acara sastra dan budaya dia menemukan penulis dari berbagai negara banyak bersuara kritis kepada pemerintah negaranya? Hal yang sama tidak dia temui di Brunei. Akibatnya, karya dia banyak berisikan puja-puji dan penyemangat untuk mengabdi kepada negara. Dia menjelaskan bahwa semua urusan di negara itu sudah ditangani oleh Sultan dan hidup di sana sangat enak, serba gratis, tak ada pajak, dan sebagainya. Apa lagi yang perlu dikritisi? Dengan demikian, seorang penulis memang perlu memperluas wawasannya supaya mampu menghasilkan karya-karya yang lebih luas jangkauan efeknya, tidak hanya suatu masyarakat lokal tertentu semata.

Pesan menarik disampaikan oleh Richard Flanagan, seorang penulis dari Australia yang banyak menulis novel tentang keajaiban cinta dalam situasi sulit seperti perang. Semua buku karya dia mampu menguras emosi para pembacanya. Pesannya adalah menulis itu harus dilakukan dengan hati dan merupakan kristalisasi batiniah yang mendalam dari si penulis. Sejalan dengan Lydia Chacho yang mengatakan bahwa sebenarnya bukan penulis yang ingin menyampaikan pesan, melainkan pesan itu sudah ada di masyarakat, dan penulis hanyalah mengungkapkan pesan itu ke permukaan, maka Flanagan melakukannya dengan menulis fiksi berupa novel, sedangkan Lydia Chacho melalui reportase. Tetapi semua tetap dilakukan dengan hati dan harus mampu menggugah si pembaca, apapun topiknya.

Salah satu bentuk tulisan adalah menuliskan pengalaman perjalanan atau travel writing. Bagaimana menuliskan perjalanan ini dengan baik? Prinsipnya sama dengan tulisan lainnya, harus dengan hati dan merupakan kristalisasi batiniah penulisnya. Tetapi menurut Agustinus Wibowo yang terkenal dengan trilogi petualangannya dan Trinity di Naked Traveller, saat ini menuliskan tempat-tempat baru sudah hampir tak mungkin lagi karena kemajuan teknologi internet, orang bisa memperoleh berbagai informasi mengenai suatu tempat dengan mudah. Menuliskan perjalanan saat ini harus mampu membuat si pembaca juga ikut berpetualang bersama di penulis. Penulis harus mampu mencario berbagai perspektif yang hanya bisa diperoleh si penulis melalui pendalaman-pendalaman di suatu wilayah. Tulisan perjalanan akan semakin menarik jika penuh dengan hal-hal tak terduga atau kejutan yang merupakan rahasia di suatu tempat yang tidak diketahui khalayak ramai.

Oh ya, ada satu sesi yang paling ramai, yaitu sesi erotik atau seksualitas “Sex in Words” dan kesimpulan pada sesi tersebut yang menarik adalah ternyata wanita mampu menuliskan masalah seksual dan erotika lebih baik daripada pria .. Nah lho! ..

uw613

Sebagian besar peserta adalah orang asing. Saya benar-benar merasa aneh pada acara ini. Rasanya kok saya yang menjadi orang asing di sini. Tidak banyak orang Indonesia saya temui sebagai peserta. Apakah benar seperti sinyalemen yang disampaikan Ayu Utami bahwa membaca (readership) masih rendah di Indonesia. Jika ini benar maka tentu sangat memprihatinkan, karena membaca adalah ibarat membuka jendela dunia. Mudah-mudahan lelucon sinis “we are Indonesia, we don’t read but we listen, we don’t write but we talk” tidak benar, sebab kalau benar ini tentu memprihatinkan.

Hal yang menarik selama acara ini adalah, para peserta datang ke ruang diskusi dengan pakaian bebas, mau bawa kopi bahkan bir juga silakan, tetapi merek semua menyimak jalannya diskusi dengan serius dan bahkan diskusi pun berjalan dengan kualitas pembicaraan yang tinggi. Tidak ada yang keluar-masuk ruangan, apalagi dering telepon. Sikap atau perilaku pembelajar lebih dikedepankan daripada artefak.

uwf204

Demikianlah .. saya sangat menikmati acara ini .. semoga bisa hadir lagi pada tahun-tahun berikutnya ..

Semoga ulasan ini bermanfaat .. Oh ya, album foto ada di sini (pertama) dan di sini (kedua).

Salam
Riri

Screen shot 2013-10-14 at 8.51.15 AMNB : Tulisan ini sempat menjadi highlight untuk kategori sosial budaya di Kompasiana, silakan lihat di sini.

10 responses

  1. […] tentang acara UWRF 2015. Ini adalah ketiga kalinya saya mengikuti acara UWRF ini, dimulai tahun 2013, 2014 dan sekarang […]

  2. […] 2015 ini juga akan ke Ubud menghadiri acara yang sama. Silakan baca catatan kecil saya tentang UWRF tahun 2013 di sini (sekaligus perayaan ulang tahun UWRF yang ke-10) serta UWRF 2014 di […]

  3. […] ngobrol singkat dengan Matt Mullenweg, si pendiri WordPress. Terakhir saya ketemu Valent di acara Ubud Writers and Readers Festival 2013 di Ubud – Bali. Saya juga kenal baik dengan kakaknya Valent, yaitu Ana Mustamin, seorang […]

  4. […] Insan ini sejalan dengan beberapa penulis yang saya temui pada acara Ubud Writers and Readers Festival di Ubud baik tahun 2013 maupun 2014 yang lalu. Bahkan para penulis pemula membangun usaha penerbitan sendiri yang […]

  5. […] juga dilakukan perayaan tepat 10 tahun penyelenggaraan acara ini. Silakan baca ulasan saya mengenai UWRF 2013 di sini, lalu album foto pertama dan kedua, serta videoklip singkat yang saya buat di […]

  6. […] last year. You can visit my photo albums on UWRF 2013 (here the first, and here the second) and my notes about UWRF 2013 (in Bahasa Indonesia). I made a simple videoclip about UWRF 2013, please visit here on […]

  7. […] Festival 2013. You can visit my photo albums on UWRF 2013 (here the first, and here the second) and my notes about UWRF 2013 (in Bahasa Indonesia). I made a simple videoclip about UWRF 2013, please visit here on […]

  8. […] tahun 2013 ini saya mengikuti acara Ubud Writers and Readers Festival 2013 atau #UWRF2013. Goenawan Mohamad pada pidato pembukaannya mengatakan bahwa mungkin pada awalnya pada yang sinis […]

  9. […] yang lalu, saya mengunjungi sebuah festival yang berkelas internasional di Ubud – Bali, yaitu Ubud Writers and Readers Festival 2013. Itu adalah festival atau ajang diskusi dan ketemuan antar para penulis internasional dengan para […]

  10. […] mengikuti acara Ubud Writers and Readers Festival 2013 beberapa hari yang lalu, ada sinyalemen yang disampaikan seorang penulis, Ayu Utami bahwa membaca […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s