TITIK BALIK FENTY ..

ft1

Saya termasuk orang yang sangat gembira dan bangga jika ada sahabat-sahabat yang meraih kesuseksesan di bidangnya. Jika ada acara-acara khusus yang berkaitan kesuksesan itu, dan jika saya diundang, saya akan berusaha untuk memenuhinya dan ikut merasakan atmosfir kesuksesan itu. Nah, tadi malam (23/09/2013) saya menghadiri acara syukuran sekaligus peluncuran buku-buku terbaru karya Fenty Effendy, seorang sahabat sejak di Padang dulu. Acara berlangsung di Kunstkring Paleis Art and Gallery, sebuah art exhebition hall yang nyaman. Fenty satu sekolah dengan saya di SMA Negeri 2 Padang, tetapi kami tidak pernah sekelas. Tetapi dengan isteri saya, Iid, Fenty sudah bersahabat sejak SMP dan di SMA mereka malahan pernah sekelas. Oh ya, saya dan isteri juga pernah diundang dan hadir pada acara sahabat kami yang lain, yaitu John de Rantau alias JDR, yang sekarang menjadi salah satu sutradara top di Indonesia dengan berbagai film berkualitas, dan saat itu kami hadir pada pemutaran perdana film “Obama Anak Menteng” (01/07/2010, tiga tahun yang lalu, dan Fenty juga hadir saat itu).

Ada yang menarik, mungkin kesamaan (mungkin) tak disengaja antara kedua sahabat ini, JDR dan Fenty. Mereka sama-sama pernah terlibat dalam kegiatan yang bersentuhan dengan Obama, Presiden AS saat ini. JDR pernah menjadi sutradara film “Obama Anak Menteng” (2010) dan Fenty pernah terlibat sebagai tim penulis buku biografi “Barack Obama: The Story” yang ditulis oleh wartawan The Washington Post dan pemenang Pulitzer, David Maraniss tahun 2012. Fenty punya panggilan akrab di kalangan teman-teman SMA dulu sebagai “Jippie”, dan John de Rantau (nama aslinya Jhonedi Kurnia) sekarang ngetop dengan panggilan JDR, ya sama-sama “J”, begitulah. Bagaimana kalau kedua orang ini dijodohkan saja ya? .. hahaha ..

Judul coretan singkat saya ini diinspirasi oleh buku Fenty yang terbit beberapa bulan yang lalu, yaitu “Titik Balik Bima Arya” yang berkisah tentang titik balik kehidupan yang dialami tokoh muda politik, Bima Arya, yang baru saja terpilih menjadi Walikota Bogor. Ya, titik balik. Saya yakin setiap manusia memiliki titik balik masing-masing, yang mungkin memiliki skala yang berbeda-beda dalam bingkai makro, tetapi buat si pelaku itu adalah suatu perjalanan kehidupan yang penuh dinamika dan pembelajaran. Saya mengenal JDR sejak SMA dulu di Padang, dan dengan apa yang sudah dia capai sekarang, saya yakin JDR sudah mengalami titik balik dalam kehidupannya. Demikian pula Fenty, pasti juga mengalami titik balik. Setidaknya acara perhelatan semalam menunjukkan titik balik dari seorang Fenty, terlihat dari tamu-tamu yang hadir, topik yang dibahas, serta rencana Fenty untuk mengundurkan diri dari seorang eksekutif di sebuah televisi swasta untuk sepenuhnya berkarir sebagai penulis. Sebuah titik balik bukan?

ft2

Fenty memang sangat produktif. Saya hitung (semoga tidak salah), dia sudah menulis delapan buku, dan semuanya tentang biografi, baik sebagai anggota tim penulis, maupun sebagai penulis utama. Salah satu buku yang “meledak” di pasar adalah buku biografi Karni Ilyas, seorang wartawan senior yang sekarang berkiprah di TV One dan terkenal dengan panggilan “Bang One”. Buku-buku lainnya juga menarik, seperti “Titik Balik Bima Arya” yang sebenarnya bisa sangat inspiratif untuk anak-anak muda. Mungkin kiprah seorang Bima Arya dalam pentas nasional baru saja dimulai, tetapi selalu ada kisah-kisah menarik yang bisa disimak dari capaian-capaian tertentu, terutama oleh anak-anak muda. Hal yang sama juga terlihat pada buku “Ahmad Sahroni, Anak Priok Meraih Mimpi”. Tetapi kalau buku tentang Pak Jusuf Kalla dan Agum Gumelar, kita tidak usah heran, semua orang juga sudah tahu siapa kedua tokoh senior bangsa ini.

Buku tentang Bima Arya dan Ahmad Sahroni menjadi menarik karena Fenty mengangkat tokoh muda yang “baru saja berkiprah”. Memang ada saja pihak-pihak yang sinis terhadap kedua buku ini, setidaknya saya dengar percakapan seperti itu pada acara semalam. Misalnya, buku tentang Bima Arya itu ditulis sebagai salah satu senjata yang bersangkutan dalam pertarungan pilkada untuk jabatan Walikota Bogor. Bima Arya yang hadir semalam juga mengatakan demikian, bahwa suara sinis itu memang ada, dan dia juga tidak menampik bahwa buku ini memberi dampak terhadap keberhasilannya memenangi pilkada Kota Bogor dan mengantarkannya ke jabatan Walikota. Begitu juga dengan buku tentang Ahmad Sahroni, beberapa pihak semalam mempertanyakan (saya nguping beberapa pembicaraan hadirin), apa sesungguhnya yang ingin diangkat dari sosok Ahmad Sahroni ini? From zero to hero yang seperti apa? Kalau “hero” yang dimaksud adalah kesuksesan materi sebagai orang kaya, lantas apa lessons learned yang ingin disampaikan ke masyarakat?

Tetapi saya punya perspektif tersendiri. Saya pribadi sangat mendambakan lahirnya suatu learning society di Indonesia. Kondisi seperti itu bisa dicapai jika orang-orang mau berbagi kisah positif (dan mungkin juga kisah negatif supaya tidak terulang) kepada sesama. Dengan demikian terjadi suatu proses pembelajaran pada tingkat masyarakat secara kolektif dan lama-kelamaan akan menjadi akumulasi pengetahuan dan berkembang menjadi social capital di masyarakat. Berbagi kisah dan pikiran melalui media sosial (seperti blog, facebook, twitter, dan sebagainya), mengadakan kegiatan pembelajaran kolektif di masyarakat seperti gerakan Akademi Berbagi dan sejenisnya, menciptakan lingkungan belajar yang kritis, terbuka, tetapi penuh keramahan di sekolah atau kampus, sampai dengan penulisan buku-buku mengenai kisah yag layak dipelajari bersama walaupun hal-hal kecil. Dengan demikian, apa yang dilakukan Fenty ini selaras dengan konsep learning society tersebut. Buku-buku yang ditulis pasti akan memberikan kontribusi ke arah situ, pasti ada pembelajaran, dan besar-kecilnya pembelajaran itu tergantung kepada sejauh mana si pembaca bisa memberikan apresiasi. Hopefully, we are going towards the learning society. Demikian pula yang dilakukan banyak sahabat lainnya lewat tulisan di blog, posting singkat di Facebook, dan sebagainya.

ft6

Akhirnya, saya mengucapkan selamat untuk Fenty atas semua pencapaian dan titik baliknya. Terima kasih sudah mengundang saya dan Iid pada acara semalam. Acara perhelatan tersebut menunjukkan siapa sosok Fenty Effendy saat ini. Tentu kalau seorang nobody, orang-orang sekaliber Jusuf Kalla (mantan Wakil Presiden), Roy Suryo (Menteri Pemuda dan Olah Raga), Agus Suhartono (mantan Panglima TNI), Nanan Soekarna (mantan Wakapolri), serta tokoh-tokoh papan atas di dunia media, tidak akan hadir pada acara Fenty ini. tetapi mereka hadir, dan ini sudah menunjukkan bahwa sahabat saya ini adalah somebody .. Congratulations!

Selamat berkarya .. salam sukses selalu untuk Fenty

Riri

3 responses

  1. […] ya, walaupun tidak menggunakan istilah writerpreneur, tetapi sahabat saya yang satu ini, Fenty Effendi, menurut saya adalah salah satu contoh seorang writerpreneur untuk penulisan non-fiksi. Dunia […]

  2. Terima kasih sudah berbagi Riri, tulisan yang bagus, dan aku sangat setuju bahwa banyak hal positif yang bisa dipelajari dari orang lain. Salut dengan apa yang dilakukan 2 orang teman Riri di atas. Setuju dengan berkembangnya learning society di Indonesia. Salam – Tri Daryanto

    1. Fenty itulah hidup penuh dengan misteri. Tuhan sebenarnya ingin memberikan suatu yang besar dalam kehidupan fenty, tapi hidup memang satu rahasia yang baru terbuka pintunya ketika kita mulai kehilangan kunci. Ketika kunci kita temukan dan pintu terbuka kita heran, ternyata jalan kehidupan yang telah kita jalani selama ini mungkin telah salah arah. Tapi sekarang jalannya sudah ditemukan tinggal fenty yang menjalaninya. Yakin dan percaya Tuhan akan memberi suatu yang lebih besar dari apa yang pernah kita dapati dalam kehidupan ini. Fenty, menjadi besar bukan diukur dari banyaknya materi, tapi orang besar adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Saya ucapkan selamat kepada fenty, do’a kami menyertai fenty dalam kesuksesan dan penemuan jati diri. KAHARUDDIN / FITRI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s