INTERPRETIVE-BASED STRATEGIC MANAGEMENT

SGU1

Tadi pagi sampai siang (27/07/2013) saya mengikuti rapat dosen di lingkungan Swiss-German University (SGU). Walaupun saya berstatus dosen tidak tetap (saya ikut mengasuh kuliah Research Methodology pada Master of Information Technology Program), tetapi saya bersama para dosen tidak tetap lainnya diundang pada acara ini. Ada satu agenda yang menarik pada rapat dosen kali ini, yaitu pemaparan rencana strategis SGU ke depan oleh Rektor, Prof. Martin Loeffelholz.

Bagi saya yang kebetulan mendalami manajemen strategis, paparan Prof. Loeffelholz sangat menarik, karena kerangka berpikir beliau mengenai manajemen strategis berbeda dengan pakem umum (mainstream) manajemen strategis yang ada saat ini (setidaknya di Indonesia). Kebanyakan para pimpinan organisasi di Indonesia, terutama institusi pemerintah, menganut prinsip linear approach yang menghasilkan suatu dokumen manajemen strategis yang sangat komprehensif. Tetapi Prof. Loeffelholz melakukan pendekatan yang berbeda, di mana beliau melakukan penyusunan strategi itu secara iteratif dan selalu melibatkan aktor-aktor utama yang berkaitan dengan SGU. Beliau percaya bahwa suatu rencana strategis itu selalu harus diperbaharui waktu demi waktu dan merupakan suatu pola (pattern) yang berasal dari gagasan atau pemikiran berbagai pihak yang terkait dan berpengaruh.

Ini menunjukkan “identitas” Prof. Loeffelholz. Mengapa demikian? Karena kerangka berpikir manajemen strategis seperti ini ditemui dalam mazhab manajemen strategis yang sangat diwarnai oleh disiplin ilmu sosiologi, di mana suatu “kebenaran” itu lahir melalui suati interaksi sosial atau dialog yang intensif antar aktor-aktor utama yang relevan dan berpengaruh terhadap organisasi. Pendekatan ini dikenal dengan paradigma interpretive atau ada juga yang menyebut paradigma constructive dalam ilmu sosiologi. Ternyata memang Prof. Loeffelholz memiliki latar belakang keilmuan di bidang sosiologi dan komunikasi. Maka tidaklah mengherankan jika beliau percaya dengan mazahab seperti ini dalam penyusunan suatu rencana strategis.

Interpretive-based strategic management ini memang membutuhkan waktu yang lama utuk diterapkan di organisasi. Mengapa demikian? Karena pendekatan ini membutuhkan keterlibatan yang tinggi dari berbagai aktor utama yang terkait dengan organisasi. Pendekatan ini lebih menekankan kepada kualitas pemikiran daripada kecepatan bertindak. Ini yang membedakannya dengan pendekatan linier yang sering kita temui di Indonesia saat ini. Pakem umum dalam penyusunan rencana strategis yang linier ini hanya melibatkan satu kelompok kecil tim penyusun, mengolah data yang demikian banyak, tetapi tidak perlu melibatkan banyak aktor dalam prosesnya. Sementara pendekatan interpretive tidak menekankan kepada banyak data empiris, melainkan kepada kualitas opini, gagasan, atau pemikiran para aktor yang terlibat. Prof. Loeffelholz percaya kepada kualitas pemikiran daripada kecepatan untuk membangun strategi SGU.

Tetapi begitu ditanya mengenai kecepatan yang menjadi ciri khas era digital saat ini, maka Prof. Loeffelholz mengatakan bahwa kecepatan itu tetap harus dilakukan tetapi para tataran yang lebih operasional, bukan pada tataran strategis.

Jujur saja, baru kali ini saya menemukan seorang pucuk pimpinan organisasi menggunakan pendekatan yang agak berbeda dengan apa yang lazim saya temui dalam menyusun manajemen strategis di Indonesia. Ya, tidak usah heran, walaupun Prof. Loeffelholz bukanlah seorang profesor dalam ilmu manajemen, tetapi beliau sangat memahami bagaimana ilmu sosiologi ikut mewarnai disiplin ilmu manajemen, terutama dalam penyusunan rencana strategis.

Jika dikaitan dengan pihak yang ikut mewarnai kampus SGU ini, yaitu paradigma akademik yang berkembang di Jerman dan Swiss, maka tidak mengherankan, karena paradigma interpretive dan pengaruh ilmu sosiologi terhadap ilmu manajemen memang banyak terjadi di daratan Eropa, terutama Jerman, Perancis, dan sebagian Inggris. Mereka tidak banyak menggunakan pendekatan kuantitatif dalam ilmu manajemen seperti yang banyak dilakukan oleh ilmu dan praktik manajemen yang berkembang di Amerika Serikat. Di Eropa, ilmu manajemen masih terjaga sebagai bagian dari ilmu sosial, maka aspek sosiologinya masih kental. Sementara itu di AS, metode kuantitatif sangat mewarnai perkembangan ilmu manajemen dan ekonomi secara umum.

Tetapi apapun pendekatan yang dipergunakan, ada pepatah dalam dunia akademik yang mengatakan bahwa “a good theory is a working theory“.

Salam
Riri

2 responses

  1. saya senang membuat design organisasi, dan perencanaan2…tapi jujur awalnya saya tidak tahu kalau itu ada ilmunya yang disebut Management Strategis… jadi tulisan ini saya baca untuk memudahkan saya memahami apa itu Management Strategic sesungguhnya… terus… saya jadi berfikir rasanya potongan tulisan2 ini sudah bisa dijadikan pelengkap untuk buku Management Startegic by Riri Satria. Bagaimana ? saya tunggu bukunya kalau sudah launching ya Bang. Buat buku Management Strategic yang mudah dipahami dan mudah di praktekkan. Supaya saya bisa cepat paham Bang….

    1. heheheh amin .. semoga .. niat sudah ada sih .. tinggal eksekusi .. tapi itu juga yang susah ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s