APAKAH POLISI PUNYA KOMPETITOR?

24ozytnyrsPada beberapa diskusi terbatas dengan para perwira tinggi Polri yang pernah saya ikuti, saya sering menyampaikan bahwa sesungguhnya polisi (dalam hal ini tentu Polri) memiliki “kompetitor”. Tetapi tentu saja makna “kompetitor” di sini tidaklah sama dengan makna kompetitor yang kita kenal dalam dunia bisnis. Tetapi bukan berbeda sama sekali, justru banyak juga kesamaannya.

Dalam dunia bisnis, jika sebuah perusahaan tidak berupaya mempertahankan keunggulannya, maka bisa-bisa produknya dikalahkan oleh pesaing atau kompetitor di pasar. Secara perlahan-lahan, konsumen atau pelanggan akan beralih ke produk kompetitor. dengan kata lain, pasar menjadi lebih percaya kepada si kompetitor.

Nah, dalam konteks ini, siapa bilang Polri tidak punya kompetitor? Jika ternyata polisi tidak menjalankan tugasnya dengan baik di masyarakat, maka tentu secara perlahan tugas polisi tersebut akan diambil alih oleh para “kompetitor”. Siapakah “kompetitor” polisi tersebut? Jawabannya bisa organisasi masyarakat (Ormas) tertentu, bisa juga masyarakat itu sendiri, dan yang lebih mengerikan kalau yang mengambil alih adalah para preman.

Jadi dalam dinamika sosial masyarakat, ada unsur aksi-reaksi di sini. Jika ternyata memang polisi tidak menjalankan tugasnya dengan baik dalam melindungi dan melayani masyarakat, maka tugas ini akan diambil alih oleh pihak lain (sebagai “kompetitor”) dan perlahan-lahan kepercayaan masyarakat akan menurun kepada polisi. Sebagai contoh ringan adalah kiprah orang-orang yang menjaga tikungan, persimpanga, atau putaran di jalan raya. Para “penjaga tikungan” ini muncul karena kehadiran polisi tidak terjadi di lapangan, apalagi pada situasi macet, maka sang “kompetitor” polisi akan mengambil alih. Jika polisi lalu-lintas menjalankan tugasnya dengan baik, maka tentu saja para penjaga persimpangan dan putaran jalan raya tidak akan ada.

Pada skala yang lebih besar, apa yang terjadi pada aksi sweeping yang dilakukan oleh Ormas seperti FPI juga bermula dari kondisi seperti ini. Jika polisi menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik sebagai penjaga ketertiban dan keamanan, penegakan hukum, serta pelayan masyarakat, maka bisa dipastikan aksi sweeping seperti itu tidak akan terjadi, karena masyarakat sangat mempercayai Polri. Kalaupun ada Ormas yang mau “sok jagoan”, maka tentu para anggotanya akan berpiir seribu kali sebelum melakukan aksinya, karena polisi sangat tegas dalam menjalankan tugasnya.

Kalau kita analisis, umumnya aksi sweeping dilakukan oleh Ormas karena mereka beralasan bahwa polisi tidak menindak para pelaku pelanggaran yang terjadi di masyarakat, misalnya penjualan minuman keras ilegal, prostitusi, dan sebagainya. Nah, ini tentu saja ranah pekerjaan polisi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Jika ternyata polisi lambat dalam bertindak atau menjalankan tugasnya, maka Ormas atau elemen masyarakat lainnya akan mengambil alih tugas itu, dan ini berpotensi menimbulkan konflik sosial, bahkan mungkin konflik komunal.

Tetapi dalam banyak hal, polisi juga tidak bisa disalahkan, karena polisi berada pada bagian akhir dalam value chainsistem pemerintahan. Banyak keputusan atau kebijakan (misalnya perizinan, dan sebagainya) yang diberikan oleh pemerintah atau pemerintah daerah yang mungkin mengusik ketenteraman masyarakat. Dalam hal ini, polisi tidak bisa mengutak-atik keputusan atau kebijakan tersebut. Polisi hanya bisa mengamankan keputusan atau kebijakan tersebut.

Nah, walau bagaimana pun, secara sistem sosial kemasyarakatan, ternyata polisi itu memiliki “kompetitor”. Ini harus dipahami oleh polisi sebagai aparat penegak hukum. Dengan demikian, tentu saja polisi harus terus meningkatkan keunggulannya dalam menjalankan tugas. Jika tidak, tugas dan fungsi itu akan diambil alih oleh pihak lain.

Masyarakat tentu sangat mendambakan polisi yang unggul dalam menjalankan tugasnya, dan tentu saja ketertiban, keamanan, dan penegakan hukum akan berjalan dengan baik.

Semoga polisi menjadi lebih baik .. dan masyarakat menjadi lebih arif ..

Salam
Riri

8 responses

  1. buat Bapak Satria trimakasih atas partisipasinya memberikan pencerahan dan Perbaikan kepada Polri, dimana Polri dengan tugas-tugas dan keterbatasan yang dimilikinya sangat membutuhkan support dan dukungan agar Polri kedepannya lebih Profesional dalam melayani Masyarakat dan tdk diombang ambing oleh Politik, dan oknum2 yg menginginkan Polri kembali pada masa Orde baru…….hidup Indonesia lebih baik.

    1. terima kasih banyak .. selamat bertugas ..

  2. Polisi benar pun akan tetap di curigai salah……..apa lagi Polisi salah………saya sebagai Polisi secara Pribadi apapun yang kita perbuat bukan Kepada Manusia pertanggungjawabannya dan tdk membutuhkan komentar dan pengakuan Manusia ………krn semua yg saya lakukan cukup meminta Ridha ALLAH SWT………………..

    1. saya percaya masih banyak polisi yang baik dan ikhlas mengabdi untuk bangsa dan negara .. hanya saja mereka ini tidak muncul di media …

  3. […] Beberapa materi yang saya sampaikan dapat dibaca di sini (tentang Polri dan Kebijakan Negara), juga di sini (tentang kompetitor Polri dalam pelayanan publik). Saya juga membahas mengenai konsep pelayanan publik dalam birokrasi, serta bagaimana menggunakan […]

  4. […] Beberapa materi yang saya sampaikan dapat dibaca di sini (tentang Polri dan Kebijakan Negara), juga di sini (tentang kompetitor Polri dalam pelayanan publik). Saya juga membahas mengenai konsep pelayanan publik dalam birokrasi, serta bagaimana menggunakan […]

  5. akismet-8a8e865b604a27be1f55112445428c79 | Balas

    Penjaga tikungan kemungkinan partner Pak, bukan kompetitor he he he

    1. nah itu dia .. parah kan? .. hehehe ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s