MAN OF STEEL : CONTOH MANAJEMEN PERUBAHAN BISNIS

tempMOS-posterAnda sudah menonton film “Man of Steel“? Buat saya menonton film ini kembali mengingatkan sekumpulan film Superman yang pernah saya tonton sejak saya kecil dulu, sejak Superman diperankan oleh Christopher Revee. Saya masih ingat sewaktu film Superman main pertama kali di kota Padang dulu (sewaktu saya masih sekolah di SD), antrian di bioskop luar biasa membludak! dan tentu saja didominasi oleh anak-anak. Obrolan saya dan teman-teman saat itu tak terlepas dari sosok Superman. Tetapi harga komik Superman yang diterbitkan Cypress saat itu sangat mahal untuk ukuran kami, sehingga untuk membacanya lebih baik pergi ke pusat penyewaan komik di pertokoan Padang Theater.

Nah, pada tulisan ini, saya tidak akan membahas atau meresensi film “Man of Steel” ini, ataupun film-film Superman lainnya. Saya tertarik untuk mengulas aspek bisnis dari film ini, terutama jika mencermati persaingan antar dua raksasa komik dunia, yaitu Marvel Comics dan DC Comics. Marvel Comics terkenal dengan tokoh-tokoh X-Men, Avengers, Fantastic Four, Spiderman, Daredevil, dan sebagainya. Sementara DC Comics memiliki tokoh-tokoh Superman, Batman, Wonder Woman, Green Lantern, Green Arrow, kemudian gabungan mereka di Justice League. Sudah menjadi rahasia umum bahwa persaingan kedua perusahaan komik dunia ini begitu ketat, dan umumnya para pengamat menempatkan Marvel menjadi pemenang saat ini.

Persaingan yang ketat itu juga dapat dilihat dari karakter komik yang dimunculkan. Jika DC Comics punya Superman sebagai tokoh yang muncul dari planet lain (Krypton), maka Marvel punya tokoh Thor yang juga muncul dari luar dimensi alam raya, yaitu dunia para Dewa (Asgard). DC Comics juga punya Bruce Wayne yang kaya-raya, jomblo, ahli teknologi, dan dengan penguasaan teknologi dia menjadi Batman. Marvel pun punya tokoh sejenis, yaitu Tony Stark dengan teknologi Iron Man. DC Comics punya si pemanah ulung yaitu Green Arrow alias Ollie, maka Marvel pun punya Hawkeye alias Clint Barton. Hanya di tokoh perempuan mereka tidak memiliki kesamaan. Jagoan perempuan DC Comics adalah Wonder Woman, sementara Marvel punya Black Widow di Avengers serta Storm dan Jean Grey di X-men.

Jika dilihat dari kesuksesan sirkulasi komik dan film, saat ini Marvel memang mengungguli DC Comics. Selama beberapa tahun terakhir, hanya tokoh Batman dari DC Comics yang sanggup menyita perhatian pasar. Sementara Marvel sukses dengan sekuel X-Men, Iron Man, Spiderman, serta tokoh-tokoh The Avengers, termasuk film the Avengers sendiri. Fantastic Four tak begitu sukses, tetapi masih bisa ditutupi oleh kesuksesan yang lainnya.

Bagaimana reaksi DC Comics? Mereka tentu harus mampu menahan gempuran Marvel. Tokoh Superman harus ditayangkan lagi. Tetapi selera masyarakat terhadap sosok tampilan tokoh superhero sudah berubah. Masyarakat tidak lagi menyukai superhero dengan kostum mirip badut yang warna-warni. Kalau pun masih berwarna-warni, maka kostum itu dibuat elegan, misalnya Iron Man, Spider Man, dan Captain America. Kostum superhero sekarang cenderung berwarna gelap dan elegan, memberikan kesan lebih macho dan tidak main-main. Lihat saja kostum Hawkeye di film Evengers, sangat berbeda dengan versi komik, demikian pula kostum Wolverine di film X-Men, sangat berbeda juga dengan yang di komik. Nah, jika DC Comics masih bertahan dengan kostum Superman yang lama di mana dia pakai celana dalam merah di luar, maka sudah pasti menjadi tertawaan para penonton.

Maka tokoh Superman perlu dimodifikasi sesuai dengan perkembangan zaman. DC Comics melakukan manajemen perubahan untuk memodifikasi di manusia baja alias man of steel. Warna kostum dibuat lebih gelap dan macho, dan kostum itu menggambarkan kostum yang biasa dipakai di planet asalnya yaitu Krypton. Simbol “S” di dada sang tokoh tidak lagi berarti “Superman” melainkan suatu simbol yang berarti “hope” atau “harapan” di Planet Krypton, hanya kebetulan mirip dengan huruf “S” di aksara bumi ini. Tokoh Jor-El, sang ayah, tidak lagi seorang ilmuwan yang jago berfilsafat, melainkan juga sanggup mengangkat senjata dan berperang.

Lumayan banyak perubahan yang dibuat pada film Superman kali ini. Sesuatu yang sangat menarik adalah, nama Superman hanya dua kali disebut dalam film ini. Kesannya, DC Comics ingin menghilangkan nama Superman. Apakah ini mengikuti tren yang dibuat Marvel di mana sesama tokoh hanya memanggil nama? Misalnya tokoh Hawkeye selalu dipanggil Clint, atau Black Widow yangs elalu dipanggil Natasha, dan Iron Man yang selalu dipaggil Tony. Terlihat di sini bahwa DC Comics melakukan perubahan ini karena “terpaksa” mengikuti setting yang sudah dibuat oleh Marvel. Tetapi DC Comics agak mengalami kesulitan, karena hampir semua tokoh superhero mereka adalah alter-ego yang sosok aslinya disembunyikan, sehingga Batman mustahil dipanggil Bruce.

Sesuai dengan the contigency theory of organization, di mana siapapun yang tidak sanggup menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan (termasuk selera pasar), maka dia akan tergilas dalam persaingan bisnis. Maka dengan demikian, sang Superman pun harus berubah.

Menarik bukan? .. Nah, bagaimana kabarnya Godam dan Gundala di tanah air? Saya berharap semoga suatu saat sahabat saya si sutradara John de Rantau bisa melakukan modifikasi pada tokoh Godam dan Gundala sehingga juga jadi bernilai jual pada zaman sekarang ..

Salam
Riri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s