DARI RAPAT PLENO SISTEM DAN MANAJEMEN POLRI TERPADU

IMG_6881

Pada hari Kamis, tanggal 23 Mei 2013 yang lalu, saya bersama sahabat saya Christian Siboro diundang sebagai konsultan / narasumber untuk Rapat Pleno Sistem dan Manajemen Polri Terpadu. Rapat pleno kali ini membahas hasil dari setiap kelompok kerja yang ditugaskan. Setiap kelompok kerja mempresentasikan hasil rancangan sistem dan manajemen terpadu untuk bidang masing-masing serta satu kelompok membahas sistem dan manajemen terintegrasi yang menjadi payung besarnya.

Setiap kelompok diketuai oleh seorang perwira tinggi bintang dua (Inspektur Jenderal Polisi) dan bertanggung jawab untuk bidang-bidang tertentu di dalam organisasi Polri. Rapat ini dihadiri juga oleh pimpinan dan beberapa anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), para penasehat ahli Kapolri dipimpin oleh Jenderal Pol (Purn) Prof. Awaluddin Jamin, seorang Jenderal pertama di Indonesia yang juga memiliki gelar Profesor. Dari pihak Polri, hadir para perwira tinggi dan perwira menengah, termasuk para perwira tinggi bintang tiga (Komisaris Jenderal) sebagai pembahas utama.

Apakah tugas saya? Merangkum dan membuat suatu konstruk sebagai kesimpulan jalannya diskusi. Jadi sebenarnya proses penyusunan sistem dan manajemen Polri terpadu ini mengikuti kaidah-kaidah focus group discussion dan juga soft systems methodology. Metodologi soft systems methodology dipergunakan secara parsial untuk mengidentifikasi permasalahan yang ada serta merancang sistem pada ranah konseptual atau yang ideal, kemudian baru dicari gap yang ada. Perlahan-lahan diharapkan kita akan menemukan suatu sistem yang ideal untuk kondisi organisasi Polri. Kami juga bertugas untuk mengkritisi setiap rancangan yang dihasilkan oleh semua kelompok kerja, sehingga hasilnya menjadi lebih baik lagi.

Memang tidak mudah melakukan pembenahan organisasi untuk organisasi sebesar Polri yang memiliki hampir 400.000 personel dan tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Proses asimilasi pembenahan organsiasi akan berjalan dengan lambat untuk bisa sampai di tingkat grass-root yang justru itu yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Banyak sekali yang harus diselesaikan secara sistem keorganisasian, di samping juga pembenahan dari sikap mental serta perilaku aparat kepolisian itu sendiri.

Tetapi saya senang, karena ada kemajuan yang dibuat oleh Polri waktu demi waktu walau masih jauh untuk mencapai sempurna. Semoga Polri bisa jauh lebih baik lagi ke depan.

Salam
Riri

3 responses

  1. […] penugasan saya di Polri dapat dilihat di sini, di sini, di sini, di sini, di sini, di sini, di sini, di sini, di sini, di sini, serta di […]

  2. Bang apakah pola yang sama bisa dilakukan untuk membahas visi, misi dan struktur organisasi secara umum ? Saya sedang mendapat tugas untuk memberikan dulu rancangan visi dan misi. Saya memulainya dengan melibatkan struktur organisasi didalam di tiap level dalam bentuk quesioner dan wawancara, dari situ setelah quesioner diolah saya akan dapat menggambarkan visi dari orang2 di internal organisasi. Setelah itu baru saya kolaborasi dengan harapan owner. Nanti diakhir sesi saya ingin top level menerjemahkan visi itu dalam strategic manajemen, dan operational masing-masing. Dalam metodenya, saya ingin menggunakan focus group discussion. Sehingga visi ini mendapat dukungan kuat dan representatif dari aspirasi yang beragam. Setelah itu baru diperhalus, dipertajam. Bisakah demikian. ?

    1. polanya sama kok Amie .. ini adalag suatu bentuk dari policy research and development🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s