LEBAY

lebaySalah satu kata-kata yang sering kita jumpai dalam pergaulan sehari-hari saat ini adalah “lebay”. Saya tidak tahu dari mana asal-usul kata ini. Saya coba telusuri berbagai pendapat mengenai makna kata “lebay” ini melalui Google. Rupanya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata-kata “lebay” tidak ada. Jadi ini benar-benar sebuah istilah dalam pergaulan sehari-hari dan bukanlah kata baku dalam Bahasa Indonesia. Singkat cerita, semua penelusuran saya mendapatkan jawaban bahwa “lebay” itu berarti “berlebihan”, “sesuatu yang di luar kewajaran atau kepatutan”, atau juga “keterlaluan”, ada juga “berpura-pura yang bertujuan untuk mencari perhatian”.

Misalnya begini, seorang pemain sepakbola diganjal sedikit saja oleh lawannya lalu jatuh terguling-guling sambil berteriak kesakitan, padahal ganjalan itu tidak ada artinya sebenarnya. Ini termasuk kategori “lebay”. Tujuannya adalah menarik perhatian wasit supaya memberikan hukuman yang berat kepada lawannya, padahal beradu fisik seperti itu adalah wajar dalam sepakbola. Kecuali kalau itu memang sebuah pelanggaran berat, maka urusannya jadi lain. Di sini makna “lebay” adalah memang “berlebihan” dan “berpura-pura untuk mencari perhatian”.

Tetapi bahasa memang tidak bisa dilepaskan dari aspek kultural. Saya sendiri pernah mendengar seorang kawan yang kena tilang sama polisi karena dia melanggar lalu-lintas, lalu sang polisi tidak mau diajak “damai” dan tegas menilang, maka si kawan saya ini bilang polisi itu “lebay”. Nah, di sini kita memang harus kritis, apakah benar si polisi itu “lebay”? Polisi itu menjalankan tugasnya sesuai dengan aturan yang ada, dan tidak ada yang berlebihan di sini. Hanya saja kata-kata “lebay” di sini muncul karena terdapat perbedaan antara ekspektasi dan kenyataan yang dialami oleh di kawan saya tersebut. Dia memiliki ekspektasi si polisi akan mau diajak “damai” seperti kebanyakan polisi lainnya, tetapi ternyata polisi yang satu ini tidak. Maka si polisi diberi label “lebay”. Di sini makna “lebay” yang diberikan jelas berbeda dengan makna lebay yang “berlebihan” atau “sesuatu yang di luar kewajaran atau kepatutan” tadi. Di sini makna “lebay” sudah berubah karena ada aspek kultural (atau perilaku) yang tidak terakomodasi dengan situasi, maka cap “lebay” pun diberikan kepada si polisi.

Akhirnya makna “lebay” yaitu “berlebihan” atau “sesuatu yang di luar kewajaran atau kepatutan” memang menjadi sangat subyektif bahkan sumir. Dengan mudah orang akan memberikan label “lebay” untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasinya. Bahkan orang yang menjalankan tugas sesuai dengan yang aturan yang seharusnya pun bisa diberi cap “lebay” apabila orang lain memiliki ekspektasi agar aturan tersebut tidak dijalankan.

Pada tingkat yang lebih mendalam lagi, label “lebay” pun bisa diberikan kepada orang lain yang memiliki prinsip hidup yang berbeda. Prinsip hidup yang berbeda menghasilkan ekspektasi yang berbeda, dan kata-kata “lebay” pun bisa mudah dilekatkan. Ada yang lebih parah lagi, di mana ada orang yang dengan mudah memberikan cap “lebay” kepada orang lain, padahal dia sendiri tidak memiliki patokan apa-apa mengenai “lebay” itu.

Ah, jangan-jangan tulisan ini pun dianggap “lebay” .. hehehehe ..

Salam
Riri

One response

  1. tidaklah bang,
    bagaimana sudah sehat bang riri, kelas menunggu abang.
    cepat sehat bang, supaya dapat memberikan yang terbaik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s