SEGMENTASI PASAR PEREMPUAN URBAN DI INDONESIA

segmen perempuan

Ada satu hal yang menarik perhatian saya saat mengikuti acara Pre-Conference ASEAN Blogger Festival 2013 yang dilaksanakan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri RI di Jakarta (20/04/2013). Ini berkaitan dengan presentasi Pak Hermawan Kartajaya tentang hasil penelitian MarkPlus tentang segmentasi pasar perempuan di Indonesia berkaitan dengan gaya hidup urban. Nah, topik ini juga berkaitan dengan hari Kartini yang jatuh pada hari ini bukan? Walaupun tulisan ini terinspirasi oleh hasil penelitian pemasaran, tetapi pada tulisan ini saya tidak akan membahas aspek pemasaran atau bisnis, melainkan lebih banyak mengangkat ini sebagai suatu realita sosial yang sudah terjadi.

ab17Penelitian yang dilakukan oleh MarkPlus sangat menarik menurut saya. Mereka meneliti segmen pasar yang bertumbuh cepat akhir-akhir ini (emerging) yaitu kaum muda (youth), perempuan (women), dan pengguna internet (netizen). Memang terdapat overlap antara ketiga kelompok tersebut, tetapi penelitian ini sangat membantu para pebisnis untuk menyusun strategi bisnis ke depan, terutama creative industries yang memang menyasar ketiga segmen pasar ini.

Khusus untuk segmen pasar perempuan di daerah urban (tidak termasuk rural), MarkPlus membagi mereka atas empat kategori, yaitu energetic leader, trendy influencer, independent dominant, serta domestic follower. MarkPlus menggunakan dua variabel utama untuk mengkategorikan ini, yaitu peran sosial (social role) dan pola pembuatan keputusan (decision making role), (lihat gambar untuk memahami definisi masing-masing kategori). Mereka pun akhirnya semakin independen dan memiliki daya beli yang tinggi.

Ternyata perempuan urban di Indonesia berada pada kategori trendy influencer (51%) dan independent dominant (31%). Ini menunjukkan bahwa peran perempuan di masyarakat urban memang semakin tinggi dalam kehidupan sosial masyarakat. Isteri saya pun termasuk ke dalam trendy influencer ini, di mana dia memerankan gaya multitasking antara profesi yang dia jalani, kehidupan dan status sosial pergaulan dia, dan tentu saja kehidupan berkeluarga. Kalau laki-laki menjalankan peran multitasking tentu bukanlah hal yang aneh. Tetapi buat perempuan, menjalankan peran multitasking ini butuh effort yang tinggi, dan menurut saya, hanya perempuan-perempuan dengan kemampuan tinggi yang sanggup melakukannya dengan baik. Ini bisa terjadi karena kaum perempuan semakin banyak yang mendapatkan pendidikan yang tinggi sehingga juga memberikan dampak kepada kemampuan mereka di berbagai dimensi kehidupan. Bahkan dalam menjalankan peran multitasking tersebut, perempuan pun “dituntut” untuk memberikan waktu yang lebih besar untuk keluarga dan inilah yang membedakannya dengan laki-laki.

Telepas dari setuju atau tidaknya kita dengan konsep multitasking pada kaum perempuan ini, tetapi ini adalah suatu fenomena sosial yang menjadi realita saat ini. Definisi multitasking ini tidak melulu berarti perempuan berkarir di korporasi atau perusahaan raksasa, melainkan juga dengan berbagai aktivitas sosial. Perempuan yang tidak bekerja di sektor bisnis, tetapi menjalankan berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan pun termasuk ke dalam kategori trendy influencer ini, karena mereka pun menjalankan peran multitasking.

Bagaimana kaum Adam (termasuk saya sendiri) menyikapi hal ini? Nah, setiap kita tentu sah-sah saja punya filosofi hidup masing-masing. Sebagai laki-laki, manakah yang membuat lebih nyaman? Apakah berbagi hidup dengan seorang perempuan yang energetic leader yang mungkin memiliki leadership yang lebih baik dari seorang laki-laki, atau seorang trendy influencer yang memiliki peran multitasking, atau mungkin independent dominant sehingga anda sebagai laki-laki harus rela hanya mendapatkan sisa-sisa waktunya dan peran terbatas (karena perempuan kategori ini independen dan dominan lho), atau mungkin juga domestic influencer yang memang banyak memberikan waktu bersama anda dengan keluarga? Yang manakah yang membuat anda nyaman? Itu kembali kepada pilihan masing-masing, dan yang terpenting semuanya adalah kesepakatan kan?

Saya pribadi sangat nyaman hidup dengan seorang wanita trendy influencer yang multitasking yang jadi isteri saya saat ini. Berbagai hal tentu bisa didikusikan dengan baik mengenai apa harapan atau ekspektasi masing-masing, karena trendy influencer ini umumnya memiliki latar belakang pendidikan dan kecerdasan yang memadai, jadi tak susah jika diskusi bersama. Perdebatan yang kontruktif adalah suatu hal yang biasa terjadi, selama tujuannya untuk mencari solusi dan kesepakatan bersama tanpa harus mengedepankan ego masing-masing yang berlebihan. Saya punya ekspektasi dan peran, dia pun punya ekspektasi dan peran, dan mari kita diskusikan bersama. Saya bangga jika isteri saya memiliki pencapaian-pencapaian tertentu dalam karirnya dan bahkan mendorong serta memberi dukungan. Saya berkeyakinan, dengan cara seperti itulah akhirnya saya bisa membuat seorang trendy influencer seperti dia bisa lebih mencinta saya dan keluarga. It’s beautiful, isn’t it?

Nah, bagaimana dengan anda? ..

Salam
Riri

3 responses

  1. menurut saya, perempuan sejatinya memang dituntut untuk multitasking ..http://www.bbc.com/news/science-environment-24645100

    tetapi secara keseluruhan, info ttg segmentasi pasar perempuan sangat berguna🙂

    terimakasih

  2. Bagussss… Tapi saya masih bingung saya yang mana pak hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s