PENDIDIKAN HOLISTIK : SEBUAH CATATAN RINGAN …

532939_154650018037027_598722336_nBeberapa waktu yang lalu, saya menerima kiriman buku dari seorang “sahabat maya” dan juga penulis buku tersebut, yaitu Dr. Amie Primarni, yang berjudul “Pendidikan Holistik : Format Baru Pendidikan Islam Membentuk Karakter Paripurna”. Mengapa Amie saya sebut “sahabat maya”? Ini dikarenakan saya mengenal beliau di dunia maya dan belum pernah bertemu sekalipun walau sudah sering berdiskusi di Facebook. Amie sering memberikan komentar-komentar yang cerdas pada beberapa pemikiran saya yang terungkap secara spontan melalui media sosial Facebook. Sejak itu, kami pun bersahabat di Facebook (atau di dunia maya), tetapi sampai tulisan ini saya buat, kami belum pernah ketemu. Sebelum saya meneruskan tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih atas kiriman buku ini, dan tentu juga terima kasih atas semua diskusi bernas yang pernah kita lakukan di media sosial. Semoga semua itu membawa kebaikan untuk kita semua.

Membaca buku karya Amie (bersama dengan Khairunnas) ini memang membutuhkan persyaratan tertentu. Sebagai sebuah disertasi doktoral yang dibukukan, maka sudah bisa diperkirakan seperti apa isi dan juga format penulisan buku ini. Kalau kita tidak memiliki landasan pemikiran mengenai filsafat, terutama filsafat ilmu pengetahuan dan filsafat pendidikan, maka besar kemungkinan buku ini akan membuat kita “pening”, karena memang kajian buku ini banyak berada pada tataran filosofis. Ya, begitulah sebuah gagasan atau wacana yang dihasilkan sebagai suatu penalaran ilmiah (scientific inquiry) pada tingkat disertasi doktoral.

Sampai akhir buku ini, saya memang belum menemukan suatu model yang lebih operasional atau model yang berada pada tataran praktikal terhadap pendidikan holistik yang berbasiskan Islam. Tetapi di situlah letak keunggulan buku ini, di mana Amie dan Khairunnas memang mencoba untuk fokus dan membedah dengan tajam pada satu aspek saja, yaitu pada tataran filosofis. Ini yang membuat bahasannya menjadi menarik dan tidak bertele-tele. Jika anda membaca buku ini, pada bagian awal anda akan diajak “berlayar” untuk melihat berbagai pulau-pulau filsafat, terutama filsafat ilmu pengetahuan dan filsafat pendidikan, sesuai dengan fokus bahasan buku ini.

Buat saya pribadi, menarik ketika menemukan kedua penulis juga mempelajari pemikiran Fritjof Capra, seorang ahli fisika dan belakangan menjadi pemikir filsafat ilmu pengetahuan. Bermula dari berbagai teori fisika, akhirnya Capra berhasil mensintesakan sebuah gagasan yang lebih holistik mengenai semesta. Berbeda dengan Stephen Hawking yang mencoba untuk memotret semesta ini benar-benar dari filsafat ilmu pengetahuan yang positivistik dengan berbagai penalarannya, maka Capra banyak memasukkan unsur spiritualitas atau metafisika ke dalam pemikirannya. Buku “The Tao of Physics” tulisan Capra mencoba untuk mengintegrasikan kedua “alam” itu, yaitu ilmu pengetahuan (science) dan spiritualitas atau metafisika.

Tentu saja sebagai sebuah buku yang membahas tentang pendidikan berbasis ajaran Islam, maka filsafat Islam yang bersumber dari Al Qur’an mendapatkan porsi bahasan yang mayoritas pada buku Amie dan Khairunnas ini. Sangat terlihat pemikiran Amie dan Khairunnas diwarnai oleh pemikiran Armahedi Mazhar mengenai “Integralisme : Sebuah Rekonstruksi Filsafat Islam” (ada sedikit hal yang menganggu ketika saya tidak menemukan buku tulisan Armahedi Mazhar yang menjadi salah satu landasan pemikiran di dalam daftar pustaka buku tulisan Amie dan Khairunnas ini).

Membaca judul buku ini pun harus hati-hati, karena ada anak judul yang berbunyi “.. format baru pendidikan Islam …”. Tadinya saya berpikir kedua penulis akan menggagas “format baru” pendidikan Islam dan membuat perbandingan dengan suatu “format lama” yang mungkin sudah tidak relevan lagi. Tetapi begitu membaca bukunya, kelihatannya buku ini tidak membuat “jarak” dengan “format lama” pendidikan Islam, melainkan dengan format pendidikan Barat. Bahkan kedua dikotomi ini disandingkan pada sebuah tabel analisis di halaman 162 – 163 dilanjutkan pada halaman 184 – 187. Tetapi tidak ada suatu analisis sejenis yang memcoba membedakan “format lama” dan “format baru” pendidikan Islam. Jadi, saya berkesimpulan bahwa Amie dan Khairunnas sebenarnya ingin menggagas “format baru pendidikan” yaitu pendidikan holistik yang berbasiskan Islam dan “menarik jarak” dengan “format pendidikan Barat”. Walaupun demikian, bahasan “format baru” pendidikan Islam juga mendapatan porsi bahasan yaitu pada halaman 139 – 158.

Kata-kata “Barat” pada buku ini mungkin lebih banyak mengacu kepada filsafat ilmu pengetahuan yang bermazhab positivism serta empiricism yang sangat berkembang di zaman modern. Tetapi pada zaman post-modern, di Barat juga berkembang mazhab yang lebih banyak memasukkan unsur humanistik seperti intuisi, kasih sayang, dan yang tak kalah penting adalah memasukkan unsur spiritualitas dalam ilmu pengetahuan. Kata-kata “spiritual intelligence” pertama kali diungkapkan oleh Ian Marshall dan Danah Zohar dalam buku mereka yang berjudul “Spiritual Intelligence”. Ada baiknya jika Amie dan Khairunnas juga mengkaji (atau jangan-jangan sudah, mohon maaf jika ternyata saya salah ..) konsep spiritual intelligence dari Ian Marshall dan Danah Zohar yang (menurut saya) lebih relevan daripada konsep emotional intelligence dari Daniel Goleman.

Ringkas kata, filsafat ilmu pengetahuan Barat pun akhirnya melahirkan mazhab interpretive epistemology yang melengkapi positivism dan empricism dalam ilmu pengetahuan. Ternyata Barat pun menjadi semakin holistik. Hanya saja mereka menempuh jalur yang berbeda. Jika pemikiran Islam (dan juga filsafat berbagai agama di dunia) memulai sesuatu itu dari keimanan (faith) dan baru menuju ke ilmu pengetahuan (science). Sebaliknya dunia Barat menempuh jalur yang sebaliknya, yaitu dari ilmu pengetahuan ke keimanan, terutama semenjak terjadi pertentangan antara kaum rohaniawan dan ilmuwan di abad pertengahan dulu di Barat.

Sebagai penutup ulasan sederhana ini, saya ingin mengungkapkan pemikiran pendidikan dari dua tokoh pendidikan bangsa Indonesia di masa lalu. Tokoh pertama adalah Ki Hajar Dewantara, yang mengatakan bahwa pendidikan harus mampu menghasilkan peserta didik yang berkepribadian merdeka, sehat fisik, sehat mental, cerdas, menjadi anggota masyarakat yang berguna, dan bertanggungjawab atas kebahagiaan dirinya dan kesejahteraan orang lain. Metode yang yang sesuai dengan sistem pendidikan ini adalah sistem among yaitu yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh. Dengan demikian, Ki Hajar Dewantara mengingatkan kita betapa pentingnya peranan seorang pendidik, di mana harus mampu melakukan asih (mendidik dengan tulus), asah (selalu mengasah ilmu dan keterampilan anak didik), serta asuh (selalu memotivasi peserta didik untuk menjadi yang terbaik dan memegang teguh etika dan kebenaran).

Tokoh kedua adalah Angku M. Sjafei, pendiri Perguruan INS Kayu Tanam di Sumatera Barat pada tahun 1930-an mengatakan bahwa dasar pendidikan haruslah berorentasi pada kecakapan hidup, dimana otak, raga dan kalbu merupakan tiga bagian anugerah Tuhan dalam tubuh manusia. Jika ketiga unsur ini bersinergi akan menghasilkan manusia yang utuh dalam menapaki hidup. Sangat terlihat prinsip pendidikan holistik dari Angku M Sjafei yang mengatakan pendidikan itu harus terintegrasi antara tiga komponen tubuh manusia. Otak untuk berpikir atau bernalar, raga atau fisik yang prima, serta kalbu atau keimanan dan nilai-nilai kebaikan yang hakiki. Angku M. Sjafei juga memberikan perhatian khusus kepada kemampuan gerak atau motorik yang harus dikembangkan sejak dini. Beliau mengatakan bahwa tangan-tangan mungil anak-anak yang terus bekerja aktif itulah yang akan mendorong kecerdasan mereka. Anak-anak harus dibawa pada keterampilan mengolah tanah liat, menggunting, serta merobek kertas. Pada anak-anak usia 0-8 tahun inilah terdapat penyempurnaan pertumbuhan tiap-tiap bagian tubuh sehingga juga mempengaruhi kejiwaan anak.

Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada Amie dan Khairunnas atas gagasan yang ditulis pada buku ini. Buku ini bisa menjadi bahan pemikiran buat kita semua (termasuk saya tentunya) mengenai bagaimana “pendidikan yang baik dan benar” itu. Saya pribadi berharap agar kedua penulis (dan juga para pemikir lainnya) ada yang menterjemahkan pemikiran pendidikan holistik pada tataran filosofis ini menjadi tataran operasional sehingga bisa dilaksanakan dengan baik pada proses pendidikan sehari-hari di mana pun, baik di sekolah, rumah, dan lingkungan.

Selamat untuk Amie dan Khairunnas ..

Salam
Riri

3 responses

  1. […] manajemen holistik dan saya juga pernah dikirimi buku tulisan beliau beberapa waktu yang lalu (lihat di sini ulasan saya tentang buku tersebut). Oh ya, walaupun sudah kenal dengan Amie cukup lama dan instensif berdiskusi di dunia maya, tetapi […]

  2. Terima kasih banyak atas ulasannya yang sangat membantu saya untuk terus memperdalam materi ini. Jika ditataran aplikasi sesungguhnya telah banyak yang melakukan implementasi pendidikan holistik, pun para pakar pendidikan Indonesia sudah menyadari itu sejak awal, sementara pemikir Barat justru menyadarinya di akhir. Untuk daftar pustaka memang ada kesalahan teknis karena faktor pencetakan yang memotong lembar akhir karena dianggap terlalu panjang, tetapi di disertasi saya nama Armahedi Mahzar termasuk di dalamnya. Selama ini dalam perspektif Islam saya lihat justru jarang memberikan fondasi filsafat, melainkan langsung pada praktek. Jadi sering kita terjebak, mengatakan pendidikan Islam tetapi menggunakan kerangka pijakan filsafat Barat, sehingga kita kebingungan ketika menghadapi masalah di lapangan. Untuk sampai pada tataran implementasi saya yakin tidak bisa sendirian, saya butuh gerbong ilmuwan yang memperkaya semua ini. Terima kasih bang atas ulasannya, saya mohon izin untuk share materi ini ya…dan saya tunggu masukan selanjutnya.

    1. keep on doing this great work ya Mbak Amie😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s