TRANSFORMASI KEUNGGULAN WILAYAH BELITUNG

bt31

Mumpung masih fresh balik dari Belitung, maka kali ini saya ingin membahas sisi lain dari Pulau Belitung, yaitu bagaimana pulau ini perlu melakukan transformasi keunggulan wilayah. Pulau Belitung ini kondisinya mirip dengan kota Sawahlunto di Sumatera Barat. Apa yang terjadi di Sawahlunto? Dulu sejak zaman penjajahan Belanda, kota Sawahlunto dikenal sebagai kota penghasil batu bara yang sangat besar, terutama di daerah Ombilin.

Dengan demikian kota Sawahlunto dikenal sebagai kota tambang di Sumatera Barat. Kehidupan pertambangan telah membangun kota ini. Tetapi sejak batu bara di sana mulai menipis, maka kegiatan pertambangan berskala besar pun sudah tidak ada lagi. Saat ini yang tersisa hanyalah pertambangan rakyat, itu pun dengan nilai ekonomis yang kecil. Akibatnya Sawahlunto sempat menjadi “kota mati”, maksudnya kota tanpa identitas diri. Begitu batu bara “habis”, maka kehidupan di kota ini pun berhenti.

Fakta yang menarik tentang Sawahlunto (dikutip dari Wikipedia) :

Over the course of 100 years, the amount of coal exploited has reached approximately 30 million tonnes with remaining reserves of more than 100 million tonnes. However the future of the coal mining industry in Ombilin is now unclear due to reserves which can only be exploited internally. Whether or not these reserves will be exploited depends on the market price as well as market demand for coal and technological advancements. In addition, the implementation of coal mining is also facing a re-orientation due to its decentralised expansion. Regardless, the government and people of Sawahlunto are determined to make Sawahlunto a tourist destination with mining as an attraction. This reflects the new relationship between mining Ombilin and town of Sawahlunto which can be further developed.

In recent years, policy of the Sawahlunto municipal administration has been directed towards the twin goals of promoting structural adjustment in the local economy and tackling poverty. Structural adjustment measures have been implemented with the aim of transforming the city from being a coal town towards strengthening the tourist sector.

Tertulis di sana bahwa Sawahlunto berhasil melakukan transformasi keunggulan wilayah, dari kota pertambangan (khususnya batu bara) menjadi kota tujuan wisata. Peninggalan-peninggalan pertambangan zaman penjajahan Belanda dulu dirawat, bahkan ada yang direnovasi dengan baik, sehingga kota Sawahlunto menjadi “kota wisata kolonial”. Ini membuat denyut nadi perekonomian kota Sawahlunto kembali bergerak.

Harian Kompas pernah menulis tentang transformasi kota Sawahlunto ini :

Sawahlunto, dulu dikenal sebagai kota arang. Pada masa kolonial Belanda, kota ini menjadi lokasi pertambangan batubara. Para pekerja adalah orang-orang pribumi asal Sumatera dan Jawa. Mereka bekerja, makan, hingga tidur dengan rantai di kaki. Karena itu, mereka disebut dengan “Orang Rantai”. “Itulah sejarah Kota Sawahlunto. Karena itu, kami ingin kembangkan wisata sejarah dengan adanya cerita-cerita masa kolonial Belanda,” kata Wali Kota Sawahlunto, Amran Nur, kepada Kompas.com, Jumat (10/6/2011).

Kota Sawahlunto pun dipromosikan sebagai Heritage City, kota peninggalan kolonial Belanda yang dahulu terkenal sebagai pusat pertambangan. Kota ini dibangun Belanda sebagai kota tambang sekitar 120 tahun lalu. Amran menceritakan pertambangan batubara masih berlanjut hingga masa-masa setelah kemerdekaan Indonesia. Kota Sawahlunto sempat dianggap sebagai kota mati di tahun 2000. Menurut Amran, hal ini terjadi karena batubara di Sawahlunto dianggap sudah mau habis.

Nah, bagaimana dengan Belitung? Rasanya kondisi yang dialami Belitung mirip dengan Sawahlunto. Pulau Belitung pernah berjaya dengan tambang timahnya sejak zaman penjajahan Belanda. Tetapi saat ini timah hanyalah cerita atau sejarah masa lalu. Walaupun masih ada kegiatan penambangan timah, tetapi itu hanyalah berskala kecil alias tambang rakyat dengan nilai ekonomis yang rendah pula. Situasinya mirip dengan batu bara di Sawahlunto.

Harian Kompas pernah menulis tentang Belitung ini :

Sejak film dan novel Laskar Pelangi meraih ketenaran di kalangan masyarakat Indonesia, Belitung pun mendapatkan dampak dari hal ini. Tiap tahunnya, semakin banyak wisatawan yang datang ke Belitung. Di akhir pekan, jumlah wisatawan yang datang mencapai puncaknya.

bl07

Saya baru sekali mengunjungi pulau Laskar Pelangi ini, tetapi saya sangat terkagum-kagum dengan potensi wisata yang dimiliki oleh Belitung. Tidak bisa disangkal, Andrea Hirata dan Laskar Pelangi sudah mengubah suasana di pulau ini di mana kegiatan pariwisata berkembang demikian pesat, bahkan mengagetkan, demikian disampaikan oleh operator wisata yang membawa saya dan rombongan selama di Belitung. Wisata baharinya luar biasa (lihat tulisan saya di sini), demikian pula dengan potensi wisata lainnya (seperti yang saya tulis di sini). Kelihatannya Belitung berpotensi untuk menyaingi Bali dalam cluster pariwisata di Indonesia ini. Jika anda adalah seorang penggemar fotografi, maka wisata bahari di Belitung adalah sesuatu yang harus anda kunjungi.

bl23 Saya sangat mempercayai teori cluster dan dari Michael Porter. Jadi alat analisis saya di sini adalah teori cluster. Cluster adalah sebuah wilayah yang dibangun dengan fokus kepada satu keunggulan tertentu. Sebuah cluster ditopang oleh beberapa hal, yaitu kondisi bisnis, infrastruktur, kondisi pasar, regulasi pemerintah, pendidikan, industri lain yang relevan, serta sumber pendanaan atau keuangan.

Nah, jika dianalisis dengan teori cluster ini, maka pe-er Belitung masih sangat banyak. Pendidikan masih menjadi masalah besar di sini, bahkan para pelaku bisnis pariwisata pun mengatakan mereka belajar secara otodidak dan masih terkaget-kaget. Mereka mendambakan adanya semacam lembaga kursus pariwisata di Belitung, kalau bisa tentu setingkat Akademi atau D3. Ini bisa memberikan supply terhadap tenaga kerja terdidik untuk sektor pariwisata di Belitung.

Komponen-komponen cluster yang lain juga perlu dibenahi. Pe-er terbesar adalah bandar udara. Bandara Hanandjoeddin saat ini belum bisa didarati oleh pesawat-pesawat yang besar. Belum lagi kapasitas bandara yang masih minim. Menurut saya, pembenahan infrastruktur bandara adalah sesuatu yang mendesak untuk dilakukan. Infrastruktur jalan untuk sementara sudah oke, tetapi jika pariwisata berkembang pesat, maka jalan-jalan pun harus ditambah atau diperbanyak, terutama untuk menuju ke titik-titik obyek wisata yang tersebar di Belitung.

bt09

Belitung membutuhkan suatu transformasi untuk membangun keunggulan wilayah, berubah dari wilayah pertambangan menjadi wilayah pariwisata. Jika Sawahlunto bisa melakukannya, maka Belitung harusnya bisa lebih baik, karena mereka memiliki infrastruktur bandara dan pelabuhan laut sendiri, tidak seperti Sawahlunto yang berada di tengah pulau Sumatera.

Salam
Riri

bt48

One response

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s