SELAMAT JALAN PROF. SJAFRI MANGKUPRAWIRA

IMG_5774

sjafri1Tadi pagi (Rabu, 06 Februari 2013) sekitar jam 10:30 pagi, masuk pesan ke handphone saya, sebuah berita yang sangat mengejutkan, guru saya Prof. Sjafri Mangkuprawira, guru besar emeritus pada Program Doktor Manajemen dan Bisnis – Institut Pertanian Bogor, juga yang pembimbing utama disertasi doktor saya, meninggal dunia. Sungguh sebuah berita yang sangat mengejutkan. Kenapa tidak? Tadi malam saya dan beliau masih ngobrol singkat melalui komen-komen di Facebook milik beliau. Tetapi jika memang Allah SWT, Sang Pemilik Alam Semesta sudah berkehendak, maka tak ada satupun yang bisa menghalanginya. Pak Sjafri meninggal dunia pagi tadi pukul 10 pagi dalam sebuah acara seminar ilmiah di kampus IPB, dan beliau meninggal saat seluruh hadirin menyanyikan Himne IPB.

Sebagai seorang ilmuwan, seorang guru, maka ruang jihad beliau adalah di perpustakaan, laboratorium, ruang kelas, ruang diskusi dan seminar, dan mencetak generasi baru yang kompeten dan memiliki wisdom yang baik. Dengan demikian, Pak Sjafri dipanggil oleh Yang Maha Kuasa sedang dalam jihadnya, di kampus, sesuai dengan panggilan hidupnya untuk memberi kemaslahatan untuk masyarakat melalui pendidikan. Untuk yang satu ini, saya merasakan betul dedikasi beliau yang sangat tinggi, bahkan tidak hanya di dalam kampus, di dunia maya pun beliau tak segan-segan berbagi ilmu, terutama di blog ronawajah.wordpress.com milik beliau.

paksjafri02Saya mengenal almarhum pada tahun 2006, saat saya mendaftar untuk mengikuti Program Doktor Manajemen Bisnis di Institut Pertanian Bogor (IPB). Beliau yang melakukan wawancara sebagai ajang seleksi untuk saya agar bisa diterima pada program tersebut. Pada saat wawancara, saya bisa merasakan suatu gaya yang berbeda pada diri beliau, wawancara tidaklah dibuat seperti suasana ujian yang menegangkan, melainkan ngobrol santai biasa saja, tetapi saya tahu bahwa saya sebenarnya sedang diuji. Hasilnya, saya lulus dan diterima menjadi mahasiswa di program tersebut. Ternyata di kelas saya itu terdapat nama-nama terkenal, seperti Mbak Aviliani (pengamat ekonomi), Pak Rudjito (mantan Dirut BRI dan saat itu menjabat Ketua LPS), Pak Suswono (saat itu anggota Komisi IV DPR dan kemudian menjadi Menteri Pertanian), dan sebagainya.

Pada tahun 2007, saya lagi diskusi di ruang kerja Pak Sjafri di kampus IPB di Dramaga – Bogor, dan tercetuslah ide untuk membuat blog untuk beliau. Mengapa ide itu tercetus? Karena saya melihat Pak Sjafri suka sekali menulis berbentuk tulisan santai dan ringan namun berbobot isinya. Saat itu Pak Sjafri memberi saya dua buku, judulnya “Rona Wajah I” dan “Rona Wajah II”. Isinya adalah kumpulan tulisan singkat beliau, ditulis dengan bahasa ringan dan sederhana, isinya membahas suatu fenomena aktual dengan tajam. Saat itu, saya pikir alangkah baiknya jika Pak Sjafri juga punya blog sehingga semua ide tulisan tersebut bisa disebarkan ke banyak pihak secara luas dan bisa dinikmati banyak orang melalui internat. Pak Sjafri pun setuju, dan akhirnya lahirlah blog beliau yaitu ronawajah.wordpress.com. Saat itu, melalui komputer yang ada di atas meja Pak Sjafri, saya pun membuatkan blog dengan menggunakan wordpress untuk beliau, dan beliau beri nama “Rona Wajah”, persis seperti nama kedua buku itu. Hari itu kami cukup lama berdiskusi, terutama berkaitan dengan peranan internet untuk strategi bisnis perusahaan. Bahkan tak terasa, hari pun sudah siang, dan Pak Sjafri mengajak saya makan siang di kantin dekat Rektorat IPB di Dramaga.

Di mata saya, Pak Sjafri adalah sosok dosen yang rendah hati dan menganggap kami para mahasiswanya itu adalah kolega. Apakah itu mungkin karena kami adalah mahasiswa program S3 (doktor)? Mungkin saja, beliau mungkin berpikir bahwa para mahasiswa S3 sudah mencapai maturity tertentu, sehingga bisa diaajak sebagai kolega. Tetapi ternyata saya keliru, beliau bersikap begitu ke semua orang, dan itu adalah sikap rendah hati tidak dibuat-dibuat. Beliau tidak segan-segan bertanya kepada kami mengenai banyak hal, termasuk bentuk implementasi dari berbagai teori yang kami bahas di kelas. Beliau juga sering mengajak kami ngumpul santai di luar kelas, baik sambil menikmati sore di rumah beliau di Bogor, atau sambil memancing, dan rupanya memancing adalah salah satu hobbi beliau. Mungkin tulisan para blogger ini menggambarkan kepada kita sikap beliau tersebut. (lihat tulisan para Blogger Bogor : MatahariTimoer, HarrisMaul, Unggul, Ilhabibie, Kimi, Wong Kam Fung, MasFaj, utami utar, Elka Firmanda), Desi Fitri, dan juga Awam. Juga ada tulisan Ririn Wulandari, mahasiswi beliau.

Pada saat mulai penulisan disertasi, Pak Sjafri memenuhi permintaan saya untuk menjadi pembimbing utama saya. Saya beruntung memiliki pembimbing yang tune-in dengan era internet atau digital, karena topik penelitian saya berkaitan dengan hal tersebut, yaitu media sosial dan kinerja bisnis. Pada tahun 2013 ini, sebelum beliau wafat, walaupun berusia 69 tahun, beliau sangat akrab dengan media sosial dan aktif menulis di blog ronawajah,wordpress.com, juga posting di Facebook beliau, serta nge-tweet di Twitter dengan nama @smprawira. Karena sesuatu hal, maka studi saya tidak selesai-selesai, dan Prof. Sjafri sudah dipanggil oleh Allah SWT.

Pak Sjafri juga dianggap sebagai sesepuh dan pembina komunitas Blogger Bogor (Blogor). Beberapa kali acara ngumpul Blogor dilakukan di rumah beliau, atau di tempat lain atas inisiatif beliau. Semua link tulisan di atas adalah anggota komunitas para Blogger Bogor, dan Pak Sjafri pun diberi “gelar kehormatan” sebagai Blog-Father.

img_0007Saya bersama Pak Sjafri pada acara kumpul Blogger Bogor di rumah beliau di Bogor (foto saya ambil dari blog-nya Angga).

Ada kisah yang lain lagi. Pada bulan April tahun 2012 yang lalu, saya mendapatkan undangan dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen – Institut Pertanian Bogor (FEM-IPB) untuk jadi pembicara pada acara Dies Natalis FEM IPB, yang diselenggarakan di Kampus IPB di Dramaga Bogor, pada tanggal 02 Mei 2012 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Saat itu saya sempat galau, karena di satu sisi ini adalah suatu kehormatan diundang untuk tampil pada forum terhormat seperti itu. Tetapi di sisi lain tentu banyak dosen di FEM-IPB tahu bahwa studi doktoral saya tidak selesai-selesai. Walaupun saya punya banyak alasan untuk itu dan kesalahan memang ada pada diri saya sendiri, tetapi tetap saja saya dianggap sebagai “not a good student“.

Saat itulah saya ngobrol dengan beliau lewat sms :

Saya : Pak, saya diundang oleh FEM-IPB untuk menjadi pembicara pada acara dies natalis FEM-IPB. Sungguh ini suatu kehormatan buat saya. Tetapi Bapak kan tahu, I am not a good student at IPB. Apa pantas nih Pak?

Pak Sjafri : Being a student and professional consultant are two different things. I believe FEM-IPB invited you as a professional consultant. So go for it.

Ucapan Pak Sjafri itu memperkuat semangat saya untuk pergi ke kampus IPB, dan saya pun memenuhi undangan tersebut. Benar saja, ada saat acara dies natalis itu, beberapa dosen FEM-IPB sempat bercanda dengan saya, ini kok mahasiswa belum lulus tetapi jadi pembicara pada acara dies natalis. Pak Sjafri pun tak mau kalah ikutan bercanda, beliau mengatakan “lulus” saat saya turun dari panggung acara dies natalis tersebut selesai menyampaikan pemikiran saya.

paksjafri01
Saya lagi diskusi seru dengan Pak Sjafri pada acara Dies Natalis FEM-IPB (02/05/2012)

Rabu, 06 Februari 2013, selamat jalan Pak Sjafri, tuntas sudah tugasmu di dunia. Dengan rasa sedih mendalam, saya sampai di rumah duka di Gunung Batu Bogor sekitar jam 12:30 siang dan begitu ramai manusia yang melayat ingin mendoakan dan melepas Pak Sjafri. Saya hanya bisa memunajatkan doa di depan jenazahmu Prof, yang terbaring di ruang tamu, ruang di mana kita beberapa kali ngobrol di masa lalu. Saat itu langit pun mendung di kota Bogor, dan gerimis pun turun, mungkin ikut bersedih mengiringi pemakaman beliau di Dreded.

Pada saat meninggal seorang manusia, maka putuslah semua kaitannya dengan dunia kecuali tiga perkara, amal jariah, ilmu yang bermanfaat, serta doa anak yang saleh. Semoga semua ilmu yang Bapak berikan kepada kami semua anak didik akan menjadi amal ibadah buat Bapak untuk menghadap Sang Pencipta, amin. Doa kami mengiringi langkahmu menghadap Sang Pencipta .. Selamat jalan Prof. Sjafri Mangkuprawira ..

Salam
Riri

13 responses

  1. Saya baru mengetahui kepergian beliau, baru 2 minggu terakhir, saat saya secara tak sengaja mengunjungi perbatasan Papua nugini di wilayah timur Merauke, ketika itu saya bertemu dengan peneliti dari IPB, klo gak salah bapak BUDI, yang sedang melakukan penelitian di daerah perbatasan, maklum saya sudah jarang buka internet klarena ketiadaan jaringan,ada suatu kesan yang mendalam saya simpan, sampai saat ini, Beliau terus memotivasi saya untuk lanjutkan Sekolah , walaupun S2 saya tercecer, karena kepindahan saya di PAPUA, Maklum sebagai seorang serdadu, menjelang tesis saya harus pindah ke PAPUA SELATAN, Almarhum adalah
    sebagai guru dan dosen pembimbing saya di salah satu Perguruan Tinggi di Jakarta … Dari Papua saya mendoakan semoga Bapak mendapat tempat yang layak disisi Allah… Saya turut merasa kehilangan seorang Bapak yang baik…(Mayor Arm Mustafa Lara, Stafter Korem 174/ATW Merauke-Papua Selatan).

    1. Ya, setuju Pak .. beliau adalah seorang guru yang baik .. bahkan sangat baik .. kita semua merasa kehilangan ..

  2. beliau benar-benar guru,
    beliau mengajari saya tanpa harus bertatap muka, tanpa harus berbicara,
    beliau mengajari saya melalui tulisan dan sifat beliau yang ramah

  3. Terima kasih Pak Riri..Selamat jalan Prof. Sjafri..

  4. “sikap rendah hati tidak dibuat-buat”, walaupun saya hanya bertemu beliau tiga kali tapi kesan itu memang begitu melekat terpancar dari diri beliau. Selamat jalan Prof…

  5. Tak gampang mencari pengganti sekaliber Pak Prof untuk menjadi pembina Blogor.😉

    Salam persahablogan,
    @wkf2010

  6. […] 1. Selamat Jalan Prof. Sjafri Mangkuprawira (Riri Satria) […]

  7. Pak Riri terima kasih atas tulisan mengenai ayahanda kami….kiranya bagus sekali jika tulisan2 kenangan mengenai beliau yang ditulis oleh berbagai kalangan dapat dikumpulkan supaya dapat menjadi teladan bagi banyak pihak…

  8. Terima kasih Pak Riri Satria, memang almarhum benar-benar guru yang benar-benar guru :’)

  9. Saya mengenal Beliau hanya melalu dunia maya, tidak sekalipun bertemu muka. Tahun 2010 Prof. Sjafri salah satu penyumbang dana untuk membeli kursi roda yang saya usahakan buat sepupu teman saya, kisahnya bisa dibaca di http://alrisblog.wordpress.com/2010/04/05/dia-tidak-sempurna/. Terakhir saya masih sempat me-like dan kasih komentar di akun facebook Beliau.
    Selamat jalan Prof. Sjafri, kebaikan dan amalmu selalu mengikuti. Kiprahmu di ladang jihat pendidikan akan selalu kami jadikan inspirasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s