PAK HABIBIE

Pak HabibieTulisan ini saya buat setelah menonton film “Habibie dan Ainun” dan menggambarkan bagaimana saya memotret sosok Pak Habibie, seseorang yang “mengajarkan” kepada kita (terutama saya) bagaimana manusia itu hidup dengan sebuah visi dan berjuang mewujudkannya, dan akhirnya harus ikhlas menerima apapun yang menjadi ketentuan Yang Maha Kuasa …

—————–

Agustus 1987.

Pertemuan pertama saya dengan pak Habibie terjadi pada bulan Agustus 1987. Sudah lama, sekitar 25 tahun yang lalu. Saat itu Pak Habibie menerima kami, para finalis Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Nasional yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di ruang kerjanya di gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di jalan Thamrin Jakarta. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas tiga di SMA Negeri 2 di kota Padang. Saya mendapatkan kesempatan bertemu dengan beliau karena saat itu sedang beruntung terpilih sebagai salah satu finalis pada LKIR tersebut.

Sebelum mendapatkan kesempatan ketemu langsung dengan Pak Habibie, saya sudah banyak membaca dan mendengar kiprah beliau dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Bagaimana beliau meninggalkan pekerjaannya yang sangat prestisius di Jerman dan kembali ke Indonesia memenuhi panggilan Presiden Soeharto saat itu. Kemudian beliau diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi sekaligus Kepala BPPT. Visi beliau mengenai Indonesia memasuki abad teknologi saat itu banyak tertulis di media massa. Tentu saja visi seperti itu sangat menarik perhatian anak muda seperti saya yang saat itu masih SMA.

Pada kesempatan pertemuan itu, Pak Habibie menjelaskan visi beliau mengenai Indonesia memasuki abad teknologi. Itulah pertama kalinya saya mendengarkan ceramah beliau dan memaparkan ide-ide besar beliau. Pada kesempatan itu, beliau berkali-kali menegaskan bahwa bangsa Indonesia ini harus mampu menguasai tiga teknologi pokok, yaitu dirgantara, bahari, dan telekomunikasi, karena kondisi geografis kita negara kita yang merupakan negara kepulauan. Pada kesempatan itulah saya mengenal pertama kali program STMDP (Science and Technology Manpower Development Program), yaitu program untuk mengirimkan lulusan-lulusan SMA di Indonesia yang terpilih dan berpotensi untuk dididik di luar negeri di bidang sains dan teknologi. Belakangan setelah lulus SMA, saya mencoba untuk ikut melamar di program STMDP tersebut, tetapi gagal.

Kebetulan para LKIR tahun 1987 itu, saya mendapatkan juara pertama di bidang ilmu pengetahuan sosial dan kemanusian. Nah, waktu Pak Habibie mengetahui itu, beliau juga mengatakan dengan menatap saya (saya masih ingat mata beliau yang melotot dengan serius saat itu menatap saya) bahwa, yang namanya ilmu pengetahuan dan teknologi tetap harus dikawal dengan ilmu sosial dan ilmu ekonomi. Ilmu sosial akan mengawal teknologi menjadi ramah dan humanis terhadap masyarakat, sedangkan ilmu ekonomi akan mengawal teknologi itu tetap efisien biayanya. Sejatinya ketiga ilmu tersebut harus bersinergi, yaitu teknologi, ilmu ekonomi, dan ilmu sosial. Pak Habibie bercerita juga bagaimana perkembangan ilmu sosial dan ilmu ekonomi di Jerman yang ternyata sanggup mendukung proses industrialisasi berbasis teknologi di negara tersebut.

Saat itu saya terkesan dengan semua paparan Pak Habibie. Buat anak muda seperti saya, semua itu sangat memukau, visioner, dan merupakan gambaran Indonesia masa depan. Pada kesempatan itu, Pak Habibie juga membagi-bagikan bukunya yang berisikan visi mengenai Indonesia berbasis teknologi di abad 21. Buku yang tipis, mudah dibaca, dan komprehensif. Buku tersebut masih saya simpan sampai sekarang. Satu hal yang membuat saya terkesan, Pak Habibie mengatakan bahwa teknologi itu harus direbut dan diperjuangkan, karena transfer teknologi secara sukarela itu tidak pernah ada. Tetapi saat itu saya belum paham apa yang beliau maksud dengan ucapan itu.

Anyway, saking terkesannya saya dengan Pak Habibie, maka dalam berbagai kesempatan, termasuk saat diwawancara oleh beberapa media saat itu (majalah, radio, dan koran), saya menempatkan Pak Habibie sebagai tokoh idola yang berasal dari Indonesia. Oh ya, saat itu saya cukup banyak diwawancara oleh media, terumata majalah remaja seperti majalah Hai, majalah Gadis, juga beberapa rubrik remaja di koran termasuk koran daerah, karena pencapaian di LKIR yang diseleggarakan LIPI tersebut .. hehehe .. ngerasain jadi selebritis sejenak🙂

——-

Agustus 1988.

Saya sudah menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia, tepatnya di program studi ilmu komputer. Mungkin karena pernah ketemu dengan Pak Habibie, maka itu yang menginspirasi saya untuk memilih kuliah di bidang ilmu komputer, karena memang ini bidang studi baru saat itu. Program Studi Ilmu Komputer UI baru dibuka dua tahun saat itu, dan saya adalah mahasiswa angkatan ketiga.

Saat itu, setiap mahasiswa baru wajib mengikuti penataran P4 atau Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila, dan mahasiswa baru dipencar di berbagai fakultas, sehingga mereka mengikuti penataran P4 bukan di fakultas tempat mereka diterima sebagai mahasiswa. Saya kebagian mengikuti penataran di kampus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI). Saat itulah saya mendapatkan pandangan yang kurang sejalan dengan pemikiran Pak Habibie.

Walaupun judulnya adalah Penataran P4, tetapi beberapa dosen senior (bahkan guru besar) di FEUI ternyata tidak sependapat dengan visi dan langkah-langkah yang ditempuh oleh Pak Habibie. Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) menjadi sorotan tajam, dan dianggap tidak efektif dan efisien untuk pembangunan Indonesia saat itu. Keberadaan IPTN dianggap sebagai pemborosan keuangan negara, dan umumnya mereka berpendapat bahwa belum saatnya Indonesia memiliki industri pesawat terbang.

Semua argumen yang disampaikan oleh para ahli ekonomi di FEUI saat itu juga menarik perhatian saya, karena mereka mengkaji dari sisi manfaat ekonomis bagi bangsa ini secara keseluruhan. Persoalan yang sangat fundamental bagi bangsa Indonesia saat itu masih banyak, terutama pemerataan pembangunan, sehingga keberadaan IPTN saat itu belum dianggap sebagai solusi untuk permasalahan bangsa, dan sebagian malahan menganggap sebagai bagian dari persoalan, terutama berkaitan dengan keuangan negara. Argumen yang mungkin kedengarannya pragmatis, tetapi secara realitas ekonomi mungkin memang demikian.

Sebagai mahasiswa yang baru kuliah, saya tentu belum paham teori keunggulan komparatif, keunggulan kompetitif, affirmative action, dan sebagainya. Saya cuma paham saat itu bahwa ternyata visi Pak Habibie itu bakal sulit terwujud, karena adanya pertentangan dari ahli-ahli ekonomi saat itu. Tetapi pertentangan ini setidaknya memperkaya pemahaman saya tentang bagaimana kita memotret suatu fenomena, di mana beda disiplin ilmu, beda pemikiran, tentu saja akan membawa kita kepada perbedaan cara pandang, dan akhirnya perbedaan dalam menentukan kebijakan, termasuk kebijakan negara. Belakangan, bertahun-tahun setelah itu, kita mendengar istilah Widjojonomics dan Habibienomics. Dua istilah yang muncul entah dari mana, tetapi setidaknya menggambarkan pengkristalan kedua cara berpikir tersebut, kaum teknologi di satu sisi, dan kaum ekonomi di sisi yang lain.

————

Juli 1990.

Saya aktif di Kelompok Studi Mahasiswa Universitas Indonesia “Eka Prasetya” (KSM-EP). Mahasiswa yang terhimpun dalam KSM-EP ini sangat beragam dan berasal dari berbagai fakultas serta jurusan di UI. Saat itu, FEUI masih berlokasi di Salemba, sehingga kawan-kawan dari FEUI jarang berkumpul bersama kami di Depok. Dengan demikian, saat itu KSM-EP didominasi oleh mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Teknik (FT), Fakultas Hukum (FH), dan Fakultas Sastra (FS, yang belakangan berubah menjadi Fakultas Ilmu Budaya atau FIB).

Melalui interaksi dalam bentuk diskusi, mulai dari yang sangat serius sampai dengan yang santai, saya akhirnya memahami bagaimana kawan-kawan dari disiplin ilmu sosial atau humaniora itu berpikir. Saat itulah pertama kalinya saya mendengar istilah teori konspirasi, teori ketergantungan, teori kemiskinan struktural, teori affirmative action, dan sebagainya. Berkaitan dengan teknologi, saya melihat kawan-kawan dari ilmu sosial memang tidak secara frontal menunjukkan pertentangannya, tetapi mereka mewanti-wanti bahwa jangan sampai teknologi itu akhirnya memperparah kemiskinan struktural di masyarakat, memperlebar jurang kondisi sosial, dan hanya akan mendatangkan manfaat untuk sekelompok elit di bangsa ini.

Berbagai diskusi dengan kawan-kawan dari disiplin ilmu sosial juga membawa saya mengenal apa yang disebut politik teknologi, di mana suatu negara, terutama negara-negara maju, juga menempatkan teknologi sebagai bagian dari senjata politiknya dalam pergaulan internasional. Teknologi bisa dipergunakan oleh negara maju untuk menekan negara lain, misalnya dalam bentuk embargo. Belakangan kita tahu bahwa militer Indonesia diembargo oleh AS sehingga banyak peralatan tempur militer kita menjadi tidak berfungsi optimal. Itulah sebabnya, banyak negara maju tidak suka jika ada negara berkembang yang menunjukkan kemajuan yang signifikan di bidang teknologi. Negara-negara maju yang selama ini menguasai teknologi akan terus berupaya mempertahankan keunggulan teknologi tersebut, dan selalu akan berupaya menggagalkan kemajuan teknologi di negara-negara berkembang, melalui berbagai cara. Saat itu, begitulah kawan-kawan dari ilmu sosial menjelaskan konsep politik teknologi kepada saya yang kebetulan belajar teknologi di UI, yaitu komputer.

Pada tahun 1990 itu, kembali saya bertemu dengan Pak Habibie, karena saat itu KSM-EP mengundang Pak Habibie untuk memberikan ceramah di Kampus UI. Saya melihat sosok Pak Habibie yang sangat enerjik dan penuh semangat memaparkan visi beliau mengenai Indonesia masa depan dengan teknologi tinggi. Saya melihat beliau sebagai sosok yang konsisten dengan visinya dan dengan sepenuh hati mengawal semua visi tersebut supaya bisa terwujud.

————-

Tahun 1999.

Era Reformasi di Republik Indonesia dimulai. Pemerintahan Orde Baru di bawah Pak Harto sudah runtuh. Pak Habibie sempat menjadi presiden selama sekitar satu setengah tahun menggantikan Pak Harto, tetapi pidato pertanggungjawaban beliau ditolak oleh MPR, dan akhirnya beliau pun tidak mencalonkan diri jadi Presiden berikutnya. Pak Habibie pun mundur dari pemerintahan di negara ini, dan seiring dengan hal itu, perlahan-lahan apa yang sudah beliau bangun pun satu persatu mulai “berguguran”. Bahkan lembaga internasional seperti IMF pun memberikan opini bahwa keberadaan IPTN adalah salah satu biang kerok rusaknya ekonomi Indonesia, sehingga perlu dipikirkan kembali keberadaannya. Satu persatu industri strategis pun mulai kelimpungan, dan terjadilah brain-drain di mana banyak para ahli teknologi yang dididik oleh Pak Habibie dulu akhirnya pindah ke luar negeri, karena lahan mereka untuk berkiprah di negara ini sudah “hilang satu persatu”.

Saat itu Indonesia juga sedang berjuang untuk mengatasi krisis ekonomi yang terjadi. Tentu saja berbagai hal yang bisa dilakukan untuk memperbaiki ekonomi bangsa perlu dilakukan. Apa boleh buat, saat itu kita mungkin kita harus mendengarkan IMF dengan semua resepnya, sehingga visi Indonesia di abad teknologi terpaksa dikubur. Ini adalah pilihan politik bangsa Indonesia ini.

————

Januari 2010.

Saya berstatus dosen di Kampus UI, dan pada saat acara wisuda di Balairung UI, saya menyaksikan Pak Habibie menerima gelar Doktor Honoris Causa atau Doktor Kehormatan dari UI. Sosok Pak Habibie masih penuh semangat walaupun sudah tidak lagi berada di lingkaran pemerintahan di negara ini. Saya kagum dengan sosok ini, selalu konsisten dengan visi dan pemikirannya, walaupun dia sekarang sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengawalnya dalam membuat kebijakan strategis negara.

Saya kutip dari situs HabibieCenter :

Habibie adalah sosok ilmuwan atau teknokrat kreatif dan inovatif yang tidak mengabaikan hasil pemikiran filosofi Jerman. Beliau kerap melakukan kajian dan penerapan praktis ‘Filsafat Teknologi’ (Philosophy of Technology) yang mendalami bidang ‘teknologi itu sendiri’ dan dikaitakan dengan ‘Filsafat Ilmu Pengetahuan’ (Philosophy of science) baik secara teoritis maupun praktis, dimana beliau sangat menaruh minat besar terhadap aspek kemasyarakatan dan aspek etis dari teknologi.

Pada acara penganugerahan tersebut, Habibie membacakan pidato berjudul “Filsafat dan Teknologi”. Pidato tersebut memaparkan bahwa berfilsafat tanpa memperhatikan dan memperhitungkan dampak dan kendala teknologi tidak mungkin lagi dapat menghasilkan karya pemikiran yang sempurna. Sekurang-kurangnya teknologi dan filsafat harus bersinergi agar tercapai kualitas unggul.

Habibie juga menginginkan agar industrialisasi melalui alih ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dilepaskan dari prinsip-prinsip filosofis pragmatis. Setidaknya ada tiga prinsip filosofis yang berkenaan dengan teknologi. Pertama, teknologi tidak bebas nilai. Kedua, kebertautan antara teknologi dan kebudayaan dan ketiga, kesiapan infrastruktur etis bagi teknologi.

————-

Januari 2013.

Saya baru punya kesempatan nonton film “Habibie dan Ainun”. Adegan yang paling menyentuh buat saya adalah ketika mereka berada di IPTN yang sekarang berubah jadi PT. Dirgantara Indonesia, di mana dengan penuh emosi Pak Habibie mengatakan kepada Ibu Ainun mengenai kekecewaan mengenai visinya yang akhirnya terkubur. Demi semua ini Pak Habibie tidak memiliki banyak waktu untuk keluarga, demi perjuangan untuk membawa Indonesia sebagai bangsa yang bisa disegani di bidang teknologi, tetapi semua itu ternyata tidak terjadi …

————-

Terlepas dari semua kekurangannya sebagai manusia, di mata saya Pak Habibie adalah seorang sosok yang langka yang dimiliki oleh negera ini. Pak Habibie mengajarkan kepada kita bagaimana manusia itu hidup dengan sebuah visi, memperjuangkan visi tersebut dengan sepenuh hati .. dan akhirnya menyerahkan semua hasilnya kepada Yang Maha Kuasa ..

Ajaran agama pun mengatakan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum itu tidak berupaya mengubah nasibnya sendiri. Perubahan dimulai dari sebuah visi mengenai masa depan, dan untuk itu diperlukan suatu pemikiran yang mendalam. Visi adalah sesuatu yang mempu membuat semangat seseorang itu tetap menyala dalam hidupnya. Mewujudkan visi butuh perjuangan, dan harus dilakukan sepenuh hati. Tetapi pada akhirnya, memang Tuhan Sang Pemilik Semesta yang menentukan hasilnya …

Terima kasih Pak Habibie karena sudah memberikan pelajaran kepada kami, terutama buat saya sendiri, bagaimana manusia itu hidup dengan sebuah visi ..

Salam
Riri

6 responses

  1. […] komputer yang masih baru saat itu di kota Padang. Apalagi setelah berkesempatan beraudiensi dengan Pak Habibie serta mengunjungi laboratorium LIPI dan BPPT di Serpong pada tahun 1987, semakin takjub saya dengan […]

  2. Bagus pak Riri…saya suka baca tulisan bapak ini

    1. terima kasih Bu Enny … salam

  3. Belum sempat untuk nonton…

  4. Sama seperti gus dur, pak habibie ini visi-nya sangat jauh kedepan. Sehingga banyak orang yg tidak bisa memahaminya.

    Semoga masih ada orang indonesia yg bisa melanjutkan visi2x pak habibie

    1. Saya kira P Habibie tidak sama atau jauh dibanding Gusdur.
      Gusdur memang tidak mudah dipahami….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s