MENGGUGAH LEWAT SENI RUPA

Barusan (20 Nov. 2012 – 19:00) saya menghadiri acara pembukaan Pameran Seni Rupa 11 Pelukis Jakarta, yang diselenggarakan di Galeri Cipta II Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) – Taman Ismail Marzuki (TIM). Acara pameran ini akan berlangsung sampai tanggal 26 November nanti, dan diselenggarakan dalam rangka menyambut ulang tahun ke-44 PKJ-TIM, yang jatuh pada tanggal 10 November. Ada 11 orang pelukis papan atas yang memanajng karyanya di sini, bahkan beberapa diantaranya sudah mendapatkan anugerah seni dari pemerintah serta berbagai penghargaan internasional.

Kali saya merasa beruntung, di sela-sela kesibukan sebagai konsultan dan dosen, ternyata ada sedikit waktu luang untuk hadir di dunia yang juga saya sukai yaitu dunia seni. Acara ini dibuka oleh seorang penyuka seni yang juga ahli hukum / pengacara papan atas di Indonesia, yaitu Dr. Todung Mulya Lubis. Bang Todung pada sambutannya mengatakan bahwa dunia seni membawa kita untuk memandang dunia dari perspektif lain yang sering dilupakan orang banyak. Saya sepakat dengan Bang Todung, di mana seni itu perannya adalah menggugah rasa dan kepekaan, menemani ilmu pengetahuan dan teknologi yang menggugah pikiran, serta spiritualitas / agama yang menggugah hati nurani untuk mencari kebenaran.

Pada kesempatan ini, saya ketemu dengan salah satu novelis Indonesia yang saya kagumi, yaitu Remy Sylado alias Yapi Tambayong. Saya membaca beberapa novel karya Bang Remy, tetapi saya belum tahu kalau ternyata beliau juga melukis. Lewat perbincangan singkat dengan Bang Remy pada kesempatan itu, saya jadi tahu, ternyata beliau adalah seniman yang komplit dan benar-benar mengabdikan dirinya untuk dunia seni, seni sastra, seni rupa, bahkan sampai teater dan film. Menarik juga ungkapan Bang Remy, bahwa dengan seni kita bisa menggugah manusia menganai banyak hal dalam hidup ini.

Selepas mengunjungi acara Pameran Seni Rupa 11 Pelukis Jakarta, saya menuju ke Galeri Cipta III PJK-TIM untuk mengunjungi Pameran Koleksi Dewan Kesenian Jakarta yang berjudul “Big Village”, yang diselenggarakan dalam rangka menyambut HUT TIM ke-44. Pada pameran ini, kembali kita digugah dan dibuat merenung sejenak mengenai kota Jakarta yang disebut sebagai sebuah “big village” atau “dusun besar”. Jakarta adalah sebuah kota metropolitan, tetapi pada kenyataannya masih memiliki nuasana “dusun”, sebuah “dusun yang besar”. Di sela-sela kemegahan, kita menemukan kemiskinan yang luar biasa, sangat kontras dengan kemegahan dan gemerlap Jakarta sebagai kota metropolitan dan ibukota negara. Kita diingatkan untuk tidak terlena dalam gemerlap megahnya Jakarta, karena ada sisi lain kehidupan Jakarta yang tidak sama dengan yang dilihat seperti yang megah itu.

Saya bukan seniman, tetapi saya sangat menikmati semua karya yang ditampilkan pada pameran ini, dan saya sepakat bahwa seni itu benar menggugah rasa dan kepekaan kita terhadap suatu berbagai fenomena kehidupan …

Salam
Riri

NB : tulisan ini juga sayang tayangkan di Kompasiana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s