SOCIAL MEDIA, SOCIAL CAPITAL, SOCIAL-PRENEUR, SOCIAL MOVEMENT

Tadi siang (13/10/2012) saya menghadiri Indonesia Social Media Festival (SocMedFest) 2012 di Senayan, Jakarta. Ini adalah Social Media Festival yang kedua dilaksanakan secara besar-besaran di Jakarta, di mana yang pertama dilaksanakan pada tahun 2011 yang lalu. Acara ini diikuti oleh para pelaku yang berkaitan dengan social media, baik yang berbentuk perusahaan ataupun gerakan komunitas di masyarakat yang dikenal dengan istilah social-preneur.

Saya menemukan banyak sekali social-preneur pada acara Indonesia Social Media Festival 2012 kali ini. Contoh pertama adalah Blood for Life (BFL) yang digagas oleh sahabat saya Valencia “Silly” (@justsilly)dan kawan-kawan yang merupakan sebuah social movement. Saya beberapa kali menjadikan BFL sebagai contoh kasus di kelas kuliah yang saya asuh (mengenai network economy) bagaimana social media sudah menjadi suatu wahana atau katalis yang mampu menggerakkan potensi masyarakat yang mungkin selama ini terpendam sehingga secara kolektif mampu berbuat sesuatu untuk sesama masyarakat (community movements for the community).

Sepengetahuan saya, BFL lahir karena spontanitas beberapa orang yang terdorong ingin melakukan sesuatu untuk sesama terutama berkaitan dengan donor darah untuk mereka yang membutuhkan. BFL menghimpun para pendonor sukarela yang terkoneksi melalui media sosial dan siapapun bisa menjadi pendonor asalkan memenuhi syarat medis. Jika anda membutuhkan bantuan transfusi darah maka anda dapat mengontak BFL dan dalam hitungan menit kebutuhan anda akan tersebar di kalangan anggota BFL. Lalu akan ada anggota BFL yang lokasinya dekat dengan anda yang akan mengontak anda untuk tindaklanjut. BFL lahir dari spontanitas masyarakat, tanpa ada “pembinaan” dari pemerintah seperti halnya gaya birokrasi. Social media memungkinkan semua itu terjadi dan BFL sudah membuktikannya. Community movements for the community. Salut untuk kawan-kawan penggagas serta anggota BFL semua.

Contoh kedua, saya ketemu dan ngobrol dengan Usman Hamid, Campaign Director Indonesia – Change.org. Mereka memberdayakan masyarakat untuk ikut serta dalam partisipasi publik berkaitan dengan hal-hal kebijakan pemerintah dan bahkan politik yang dijalankan oleh pemerintah, mulai dari hal yang kecil-kecil, sampai dengan yang skala nasional, bahkan internasional. Untuk skala nasional, gerakan mereka yang teranyar adalah #saveKPK, yaitu suatu bentuk dukungan moral kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk tetap bernyali dalam melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia walau mengalami tekanan-tekanan, bahkan upaya-upaya pelemahan dari berbagai pihak.

Gerakan ini berhasil menghimpun masyarakat untuk ikut berpartisipasi memberikan dukungan moral kepada KPK dan juga menyuarakan aspirasi mereka kepada pemerintah melalui petisi online yang ditandatangi oleh masyarakat yang jumlahnya ribuan (mungkin juga mencapai ratusan ribu). Ini semua bisa terjadi karena fasilitas social media, dan potensi masyarakat yang selama ini mungkin sangat besar menjadi terbangkitkan untuk ikut berpartisipasi dalam berbagai keputusan politik pemerintah. Sejalan dengan pemikiran tersebut, saya juga memiliki pemikiran yang sama tentang KPK, silakan baca di sini.

Satu lagi social movement yang membuat saya kagum adalah gerakan Save Street Child (@savestreetchild), yang digagas oleh beberapa anak muda yang peduli dengan pendidikan untuk anak-anak jalanan. Mereka mengadakan “rumah” dan “pendidikan” untuk anak-anak jalanan yang tidak beruntung dan tidak memiliki akses kepada pendidikan formal. Mereka sangat peduli dan banyak relawan yang tergabung untuk ikut serta dalam gerakan spontan ini. Saat ini mereka sudah menjalankan aktivitasnya di berbagai kota di Indonesia, dan anak-anak muda penggiat dan relawan yang sempat saya temui dan ngobrol tadi siang begitu semangat dan antusias dengan apa yang mereka kerjakan. Mereka sangat yakin, hanya dengan pendidikan maka anak-anak jalanan bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik. Gerakan ini akan memberikan pendidikan tersebut sesuai dengan kemampuan mereka. Mereka memanfaatkan social media untuk “membesarkan” gerakan ini dan menyebar ke berbagai kota di Indonesia. Luar biasa!

Banyak lagi gerakan-gerakan masyarakat yang digagas oleh para social-preneur yang hampir semuanya masih berusia muda alias para net-generation atau X-generation, yang sangat akrab dengan dunia internet dan social media. Mereka sanggup menggunakan social media menjadi alat atau katalis untuk memberikan sesuatu kepada masyarakat untuk membentuk masyarakat yang lebih baik, tanpa banyak slogan, tanpa banyak cerita, langsung bergerak secara kolektif.

Bentuk lain dari penggunaan social media adalah di dunia bisnis. Seperti yang pernah saya bahas dalam presentasi saya pada Indonesia Knowledge Forum 2012 yang lalu, maka social media pun sudah memberikan kontribusi terhadap dunia bisnis dengan mengubah business model dan bahkan membentuk business model yang baru. Contohnya Kaskus, sebuah wahana komunitas Indonesia yang pertama dan sekarang sudah bergerak menjadi wahana transaksi bisnis yang sangat aktif di dunia maya, terutama transaksi jual-beli antar penggunanya yang terkenal dengan istilah C-to-C (customer to customer). Kemudian berkembang dengan banyaknya usaha kecil yang menggunakan Kaskus sebagai wahana transaksi bisnisnya. Bisa dikatakan, Kaskus berhasil membentuk suatu social capital, dan social capital inilah yang akan mengakibatkan maraknya transaksi bisnis melalui social media. (Tulisan saya tentang social capital dapat dibaca di sini dan juga di sini)

Demikian juga dengan model bisnis B-to-C (business to customer), juga marak dengan menggunakan social media. Saya lihat pada acara kali ini, model bisnis seperti ini didominasi oleh perusahaan travel atau biro perjalanan. Mereka menggunakan social media untuk menjaring pelanggan dengan menciptakan komunitas, dan dengan menciptakan komunitas ini mereka bisa menawarkan berbagai produk-produk yang sesuai dengan kebutuhan komunitas tersebut sebagai pelanggannya. Nah, komunitas inilah yang disebut dengan social capital.

Terakhir, saya mengunjungi Creative Commons Indonesia (@cc_id), sebuah organisasi non-profit yang tergabung dalam suatu jejaring global untuk mendukung penerapan hak cipta dalam era network economy ini sesuai Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. Ternyata dalam organisasi ini, nama Ivan Lanin juga muncul sebagai salah satu penggagasnya di Indonesia. Terima kasih untuk kawan-kawan di Creative Commons Indonesia atas pemberian buku yang berjudul “Budaya Bebas : Bagaimana Media Besar Memakai Teknologi dan Hukum untuk Membatasi Budaya dan Mengontrol Kreativitas” oleh Lawrence Lessig.

Well, that’s social media, yang memberikan banyak kontribusi, baik di dunia bisnis, maupun gerakan-gerakan sosial masyarakat. Saya sangat yakin bahwa hal seperti akan berkembang lebih pesat lagi di masa mendatang .. Welcome to network and creative economy ..

Salam
Riri

3 responses

  1. […] juga pernah menuliskan bagaimana kaitan social capital dengan social media di tulisan yang ini. Saya pun pernah mempresentasikan hasil penelitian saya berkaitan dengan social capital pada […]

  2. […] dalam setiap acara yang berkaitan dengan social media alias blogging dan dunia maya, seperti pada Social Media Festival 2012 yang […]

  3. […] masih exist sampai saat ini. Tetapi acara Pesta Blogger sudah tidak ada lagi, dan tahun ini hadir Social Media Festival 2012, dengan para aktor dan pelaku yang hampir sama dengan Pesta […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s