EXTRAORDINARY : CRIME, STRATEGY, AND ORGANIZATION

Semalaman saya mengikuti berita “konflik” antara Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) dengan Kepolisian RI (Polri), di mana sejumlah perwira menengah Polri dari Polda Bengkulu dan Polda Metro Jaya mendatangi kantor KPK berkaitan dengan dugaan adanya salah satu penyidik KPK yang juga seorang perwira menengah Polri terlibat dalam tindakan kekerasan kepada masyarakat saat si penyidik masih berpangkat perwira pertama dan bertugas di Bengkulu.

Suasana semakin memanas, karena banyak aparat kepolisian yang mendatangi KPK dan bahkan ada provos segala. Kejadian semakin seru, kerena diberitakan bahwa Kapolri tidak mengetahui kejadian ini, dan kemudian Menko Polhukam memerintahkan penarikan anggota polisi yang mendatangi KPK itu segera.

Malam menjelang pagi, dilakukan konferensi pers yang bersamaan waktunya. Terdapat penjelasan yang bertolak belakang pada kedua konferensi pers tersebut. Suasana menjadi semakin panas ketika semakin banyak pihak masyarakat yang memberikan dukungan kepada KPK, dan perseteruan cicak vs buaya lanjutan kelihatannya memang terjadi. Kondisi ini pasti akan menempatkan Polri pada posisi yang tidak menyenangkan, karena secara moral saat ini KPK memang di atas angin.

Hal ini mengakibatkan polisi harus lebih hati-hati dalam memberikan pernyataan dan bertindak. Masyarakat dengan mudah membaca bahwa ini tentu terkait dengan kasus yang sedang hangat dibahas saat ini, yaitu dugaan terjadinya korupsi di tubuh Polri, yaitu di Korlantas Polri. Konon sang penyidik yang ingin didatangi oleh para polisi dari Polda Bengkulu tersebut adalah penyidik yang menjadi andalan KPK dalam kasus ini.

Pada tulisan ini, saya tidak bermaksud membahas kejadian semalam. Tetapi saya adalah orang sangat prihatin dengan terjadinya “konflik” antara KPK dan Polri, karena walau bagaimanapun keduanya adalah lembaga negara yang kita butuhkan. Sejatinya kedua lembaga tersebut bersinergi dengan baik, dan bahkan berbagai dokumen kerjasama pun sudah ditandatangani oleh pimpinan kedua lembaga tersebut. Tetapi kenyataan yang terjadi mungkin masih jauh dari harapan. Benturan-benturan masih terjadi dalam operasionalnya.

Jika kita melihat ke masa lalu, maka keberadaan KPK tidak terlepas dari kondisi Indonesia sehabis runtuhnya rezim orde baru. Saat itu, korupsi dianggap sebagai salah satu extraordinary crime yang menjadi warisan orde baru. Dengan demikian, korupsi haruslah mendapat perhatian khusus, setidaknya demikian bunyi sebuah Tap MPR di awal orde reformasi dahulu.

Saat ini di Indonesia, ada tiga jenis extraordinary crime, yaitu korupsi, narkoba, dan terorisme. Ketiganya ditangani oleh organisasi khusus. Korupsi ditangani KPK, narkoba ditangani Badan Narkotika Nasional (BNN), dan terorisme ditangani Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Pembentukan organisasi khusus ini dikarena kita butuh strategi khusus untuk mengatasinya. Prinsipnya adalah extraordinary strategy for extraordinary crime. Tetapi pembentukan organisasi atau lembaga baru ini memang akan mengambil sebagian kewenangan aparat penegak hukum yang sudah ada, terutama Polri. Istilah kerennya, mereka harus bersinergi dengan Polri, tetapi kenyataannya memang Polri harus menyerahkan sebagian kewenangannya kepada organisasi atau lembaga baru ini.

Tetapi dari ketiga organisasi khusus tersebut (KPK, BNN, BNPT), hanya KPK yang sering mendapat cobaan. Mungkin karena pembentukan KPK itu ditenggarai agak setengah hati. Penyebabnya bisa jadi yang berteriak berantas korupsi adalah aktor korupsi itu sendiri, dan mereka khawatir kalau KPK menjadi kuat. Tetapi KPK tetap harus ada karena amanat undang-undang dan tak bisa dibubarkan. Kalau begitu, KPK dilemahkan saja, dia ada, tetapi bagaimana caranya dibuat menjadi lemah. Siapa yang berkepentingan? dengan mudah bisa kita jawab, tentu para aktor korupsi.

Sebenarnya extraordinary crime itu adalah urusan polisi, tetapi kita masih memiliki pe-er besar dengan organisasi Polri. Pada zaman orde baru, Polri tenggelam dalam wadah ABRI dan seakan tak punya taji. Pemisahan Polri dari ABRI di awal orde reformasi dimaksudnya supaya Polri bisa kuat dan punya taji untuk mengatasi kriminalitas (termasuk extraordinary crime) di negeri ini. Tetapi transformasi di tubuh Polri (transformasi struktural, instrumental, dan kutural) yang dicanangkan berjalan sangat lambat dan hasilnya masih jauh dari harapan. Akibatnya kita butuh extraordinary organization yang sanggup menjalankan extraodinary strategy guna mengatasi extraordinary crime tersebut, yaitu KPK, BNN, dan BNPT.

Sempat Polri sedikit menguat dan membaik pada zaman orde reformasi, tetapi “ditebas” lagi oleh mereka yang tidak suka Polri membaik. Proses membuat Polri tetap lemah kelihatannya sudah berhasil dan sekarang upaya itu tengah dilakukan ke KPK. Bagaimanakah dengan BNN dan BNPT? apakah juga akan dilemahkan, who knows?

Meminjam istilah Adam Smith dalam teori ekonomi zaman dahulu yang ditulisnya, ada suatu “invisible hand” yang mengatur tatatan masyarakat ini. Mungkin istilah “invisible hand” yang saya maksud di sini berbeda dengan makna yang diungkapkan Adam Smith. Walau demikian, ada suatu kesamaan, di mana kita menyakini adanya sekelompok pihak tertentu yang bermain, mampu menciptakan kondisi tertentu di masyarakat, tetapi tidak diketahui dengan persis siapa kelompok ini. Saya yakin ada suatu invisible hand yang sekarang sedang menjalankan agendanya di negara ini, yaitu melemahkan semua aparat penegak hukum.

Harapan saya sederhana saja, semoga para aparat penegak hukum tidak berhasil dilemahkan, dan semua tetap kuat untuk menjalankan tugasnya. Saya yakin sekali, banyak aparat penegak hukum yang memiliki hati nurani dan siap untuk menjalankan tugas mulia mereka. Mari kita kawal mereka, supaya tidak diobok-obok invisible hand tadi ..

Salam
Riri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s