[OPINI] KISAH CERAI ADHIMIX PRECAST INDONESIA

(Komentar saya pada Majalah SWA 14/XXVII 5-18 Juli 2012, halaman 98, mengenai spin-off AdhiMix dari Adhi Karya yang membawa berkah untuk AdhiMix, halaman 90-98. Terima kasih untuk Mas Sudarmadi dari Majalah SWA yang sudah mewawancarai saya dan memuatnya di Majalah SWA).

Apakah yang terjadi di AdhiMix? (ringkasan sekedar pengantar dari halaman 90-94).

Dicerai atau dipisah sering menjadi kata-kata yang sangat menakutkan bagi dua pihak yang memiliki pertalian hubungan, khususnya bagi pihak yang pada posisi diceraikan. Dicerai identik dengan dicampakkan, dibuang, tak dipakai lagi, tak dibutuhkan, alias tak akan dipedulikan lagi. Pada pihak yang diceraikan pun biasanya segera terbayang masa depan hidup yang kelam, susah, tiada tempat bergantung lagi. Begitulah selalu?

Nanti dulu. Pendapat seperti itu rasanya akan ditolak mentah-mentah karyawan PT. AdhiMix Precast Indonesia, perusahaan bidang konstruksi seperti penyedia material ready mix (beton cor) dan precast (beton pracetak). Seluruh awaknya tak bakal setuju pendapat itu. Setidaknya mereka akan membandingkan saat masih menjadi anak usaha di bawah PT. Adhi Karya dan kondisi sekarang yang sudah berdiri sendiri. Kondisi sekarang sungguh lebih menyenangkan. Lebih makmur. Gaji, tunjangan, dan fasilitas lebih baik. Kinerja perusahaan jauh lebih kinclong. Belum lagi karyawan juga memiliki saham dengan nilai menggiurkan dan hingga kini harganya sudah naik 12 kali lipat.

Sejarah baru dimulai tahun 2002, ketika manajemen Adhi Karya memisahkan (spin off) dan menjual anak usahanya itu. Ada beberapa alasan mengapa AdhiMix dilepas. Antara lain, sang induk ingin fokus di bisnis intinya yaitu konstruksi. Apalagi waktu itu sang anak, AdhiMix, dianggap tidak menarik, punya hutang di mana-mana, dan selalu mengalami kerugian. Adhi Karya juga sulit untuk mengembangkan AdhiMix karena sudah banyak muncul pesaing. Kenyataan itu ditambah dengan fakta bahwa AdhiMix tidak dikelola secara profesional sehingga kinerjanya juga tak menggembirakan. Tak mengherankan, manajemen Adhi Karya memutuskan melepas anak usahanya itu ke pihak lain.

Menariknya, pelepasan ini tak menimbulkan guncangan berarti pada karyawan. Ini tak terlepas dari sikap manajemen AdhiMix yang bijak dalam memberi solusi kepada karyawan. Karyawan diberi kebebasan memiliki tiga opsi. Pertama, bergabung dengan AdhiMix, berarti akan di-PHK dari Adhi Karya, tetapi pesangonnya dalam bentuk saham AdhiMix, bukan uang. Opsi kedua, tetap bergabung dengan Adhi Karya. Opsi ketiga, keluar atau tidak ikut Adhi Karya ataupun AdhiMix.

Mayoritas karyawan memilih opsi pertama, dan sejarah baru AdhiMix pun dirintis oleh mereka yang memilih opsi ini. Pada tahun 2002, jumlah saham yang dimiliki karyawan adalah 80% dan Adhi Karya 20%. Pada tahun 2004, semua saham AdhiMix 100% dimiliki oleh karyawannya. Bermodalkan aset seadanya, tim manajemen AdhiMix yang didukung seluruh karyawan berusaha bangkit dan membangun perusahaan. Karyawan sangat berkepentingan perusahaan maju karena bila membesar dan menguntungkan, mereka juga yang menikmatinya berhubung mereka adalah pemegang saham.

Kerja keras itu tampaknya membuahkan hasil. Pada tahun 2007, omset AdhiMix sudah mendekati Rp. 1 triliun dan pada tahun 2011 sudah mencapai Rp 2 triliun. tahun 2012, targetnya adalah 3,2 triliun. AdhiMix pun sudah sejajar dengan pemain asing seperti Pioneer Beton (Heidelberg).

Betul kata sebagian orang, perceraian itu sangat dibenci, tapi tak selamanya buruk. Setidaknya para awak AdhiMix tentu mengamininya, terbukti dari pengalaman mereka setelah dicerai Adhi Karya. Hidup justru menjadi lebih hidup.

———- dari halaman 98 ——–

Riri Satria, pengamat manajemen dari Universitas Indonesia, melihat pada dasarnya berbagai proses turn-around yang berhasil di berbagai perusahaan di dunia setidaknya berkat adanya empat komponen yang saling bersinergi. Pertama, pemimpin dengan karakteristik transformational leader, yaitu pemimpin yang memiliki visi jauh ke depan, mampu keluar dari pakem dan berani membuat keputusan di luar kebiasaan. Kedua, strategi manajemen perubahan (change management strategy) yang jelas, terarah, dan tersosialisasi dengan baik. Ketiga, sumber daya finansial yang cukup. Keempat, sumber daya manusia yang mau berubah.

Riri melihat di AdhiMix sudah terbentuk sinergi dari keempat komponen di atas walaupun masih belum mencapai titik paling optimal. “Tapi setidaknya mereka sudah berjalan di jalur yang benar,” katanya. “Tugas AdhiMix saat ini, harus mampu membentuk identitas diri, dari tataran physical evidence seperti kekuatan merek (brand equity), desain organisasi, sistem dan prosedur manajemen, sampai dengan budaya organisasi (corporate culture).

—–

4 responses

  1. Menarik juga history dari perkembangan usaha adhimix. nekat dan semangat pantang menyerah menjadi modal, dan akhirnya berhasil menjadi perusahaan besar. hebat….

    1. iya .. suatu kisah teladan ..

      1. alhamdulillah, bersyukur karena tergabung didalamnya
        Semoga Adhimix Semakin maju
        aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s