THE RAID : SEBUAH CATATAN KECIL

Kalau anda sudah nonton film The Raid, pasti kita sepakat bahwa adegan-adegan dalam film ini sangat menegangkan dan juga penuh kekerasan (tapi masih bisa dinalar) sejak awal sampai akhir. Film ini pun mendapatkan banyak peghargaan di luar negeri, dan semua itu membawa film ini menjadi salah satu film yang diperbincangkan karena kehebatannya. Saya pun setuju dengan hal itu.

Tetapi jangan menalar film ini dengan plot-plot cerita, karena mungkin anda akan banyak herannya. Keunggulan film ini bukanlah di ceritanya, melainkan di adegannya, dan memang sepanjang film ini kita akan dibawa ke dalam pusaran adegan film tanpa sempat memikirkan plot ceritanya.

Nah, tulisan ini hanyalah sebuah catatan kecil berkaitan dengan film the Raid. Catatan kecil ini dibuat dari perspektif kepolisian, artinya bagi Anda yang kebetulan memahami dunia kepolisian, pasti akan mencatat hal-hal ini.

Pertama, dalam sistem kepangkatan kepolisian di Indonesia, saat ini tidak dikenal pangkat dengan sebutan Letnan dan Sersan. Sebutan Letnan dan Sersan saat ini hanya dikenal dalam sistem kepangkatan TNI. Dulu, sewaktu TNI dan Polri bersatu di bawah naungan ABRI, maka penyebutan pangkat memang sama. tetapi sejak TNI dan Polri berpisah, maka penyebutan pangkat sangat berbeda (kecuali Jenderal). Sebutan Letnan dalam sistem kepangkatan Polri saat ini adalah Inspektur, dan sebutan Sersan adalah Brigadir. Kecuali kalau plot cerita film ini berkisah tentang situasi sebelum tahun 1999.

Kedua, penyerbuan pasukan polisi (bisa dipastikan ini adalah brimob dilihat dari peralatan dan kendaraannya) menggunakan kendaraan barracuda. Kendaraan jenis ini biasanya dipergunakan untuk melakukan penyerbuan untuk tingkat bahaya yang tinggi. Artinya kendaraan jenis ini tidak mungkin keluar kalau masalah yang dihadapi itu tidak berat, dan biasanya pasukan cukup dibawa pakai truk. Tetapi jika kendaraan barracuda sudah diturunkan, berarti kondisi yang dihadapi sangat gawat. Sesuai dengan SOP yang berlaku di kepolisian, pada kondisi gawat demikian, tidak mungkin hanya satu pasukan yang terdiri dari 20 orang yang diturunkan. Pada kondisi tersebut, pasti diturunkan pasukan yang berlapis-lapis, kecuali kalau ini adalah tindakan penyusupan. Tetapi melihat dari judul film-nya, ini bukanlah penyusupan, melainkan penyerbuan (the Raid). Jadi, agar terasa aneh saja, kok penyerbuan begitu ya?

Ketiga, berdasarkan informasi yang dimuat di berbagai media, pembuatan film ini memang bekerja sama dengan salah satu korps di TNI, bukan dengan Polri, dan ini mungkin dengan alasan-alasan tertentu. Walaupun demikian, dalam film-film yang sangat teknis seperti ini (seperti film SWAT, Die Hard yang di airport, dsb) selalu ada yang namanya technical consultant. Kelihatannya, film ini memang tidak melibatkan technical consultant yang sangat memahami dunia kepolisian dan kriminal di Indonesia. Ini mungkin karena keunggulan yang disajikan film ini adalah di adegan laganya, bukan plot ceritanya, dan film ini memang berhasil membangun keunggulan di adegan laga tersebut.

Well, inilah catatan kecil tentang film The Raid, yang dibuat dalam perspektif teknis kepolisian. Tentu saja film The Raid akan lebih sempurna jika aspek-aspek seperti ini diperhatikan sehingga membuat keunggulan dalam adegan laganya, serta juga plot ceritanya.

Salam
Riri Satria

Catatan ini juga ditayang di BicaraFilm.com serta notes saya di Facebook.

(sumber gambar : Wikipedia)

Terima kasih untuk moderator BicaraFilm.com yang telah memasukkan tulisan ini sebagai pilihan moderator.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s