POLISI YANG HUMANIS

Sudah lama kita mendengar slogan “polisi yang tegas dan humanis”. Buat saya pribadi, saya banyak terlibat diskusi dengan para petinggi Polri mengenai konsep polisi seperti ini, terutama dari sisi kata-kata “humanis” tersebut sejak beberapa tahun yang lalu. tetapi rupanya memang tidak mudah menterjemahkan kata-kata ini mulai dari tingkat wacana, konsep, sampai dengan pelaksanaan. Dalam beberapa hal mungkin sudah terlihat praktik “polisi yang humanis” ini di lapangan, seperti pelayanan SIM di Jakarta yang sudah jauh lebih baik, dan sebagainya.

Pertanyaannya, bagaimana dengan tugas-tugas kepolisian lainnya? Kalau menghadapi bandit atau bandar narkoba, tentu polisi harus sangat tegas, karena mereka nyata-nyata berhadapan dengan perusak bangsa. Menghadapi orang-orang seperti ini polisi bisa bersikap atau bertindak seperti dalam film “The Raid” yang banyak mendapatkan apresiasi itu.

Tetapi bagaimana jika yang dihadapi itu adalah para demonstran yang bermaksud menyalurkan apresiasi mereka kepada pemerintah atau pihak tertentu? Tentu saja mereka bukanlah bandit atau penjahat yang harus ditindak dengan represif. Menurut saya, di sinilah sisi humanis polisi perlu ditonjolkan.

Suatu contoh yang perlu kita berikan apresiasi yang sangat tinggi adalah seperti yang dilakukan oleh Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Abdul Rahman Baso, saat menghadapi demo di depan Gedung Sate yang menjadi pusat pemerintahan di kota Bandung. Alih-alih menyiapkan pasukan untuk “siap tempur”, dia justru memerintahkan sekitar 1.500 aparat gabungan dari Dalmas Polda Jabar, Dalmas Polrestabes Bandung, serta Pasukan dari Satbrimobda Jabar menenangkan diri, lalu duduk bersimpuh dengan barisan yang teratur, dan lalu berzikir melantunkan kebesaran Allah SWT (beritanya bisa dibaca di sini).

“Kami sadar akan tugas dan risiko kami, dan kami juga tahu siapa yang ada di hadapan kami. Sehingga tidak mungkin kami menyerang adik kami, rekan kami dan saudara kami sendiri,” ungkap Kapolrestabes Bandung.

Rupanya pendekatan ini sangat ampuh, seperti yang diberitakan, pada awalnya dalam kondisi saling berhadapan, demonstran dari kalangan mahasiswa berupaya memancing emosi aparat keamanan yang berjaga. Kata-kata seperti, “Polisi penghianat bangsa, polisi pelindung kapitalis,” diteriakkan. Para pendemo yang berasal dari Gema Keadilan dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sontak terdiam dan terperangah.

Kemudian seperti yang diberitakan oleh televisi tadi pagi (31 Maret 2012), mereka lalu berjabat tangan. Suasana damai pun tercapai, penyampaian aspirasi tetap dilakukan oleh para pendemo, namun tidak ada aksi anarkis yang terjadi.

Saya membaca dan menonton berita ini juga seakan tak percaya bahwa ini bisa terjadi. Polisi menghadapi demonstran bukan dengan kekerasan, melainkan dengan sikap lunak dan simpatik, dan inilah menurut saya salah satu pengejewantahan kata-kata “polisi yang humanis”. Terbukti, pendekatan ini mampu meredam terjadi konflik kekerasan. Bahkan di layar televisi saya menyaksikan, beberapa polisi menitikkan air mana sambil berzikir di teriknya siang.

Memang zikir ini tidak ada dalam protap ataupun perkap tentang penanganan demonstrasi atau unjuk rasa di lapangan. Tapi ini akan sungguh suatu pendekatan terobosan yang sangat humanis dilakukan oleh polisi.

Jadi polisi memang tidak mudah, di satu sisi polisi memang dilatih untuk menghadapi kondisi terburuk sehingga harus bertindak penuh kekerasan seperti yang kita tonton dalam film “The Raid”, tetapi di sisi lain juga harus bersikap simpatik, ramah, dan humanis. Menjadi polisi itu seakan-akan dituntut menjadi insan yang sempurna, dan ini memang tidak mudah. Repotnya, jumlah polisi yang nakal yang bikin susah masyarakat juga banyak.

Semoga aparat kepolisian bisa terus bersikap simpatik seperti itu, mengutamakan pendekatan humanis, apapun bentuknya, jika berhadapan dengan masyarakat, dan bertindak tegas jika berhadapan dengan para bandit, koruptor, dan sejenisnya. Memang tidak mudah membuat polisi yang jumlahnya 400.000 lebih ini memiliki budaya demikian secara instan. Tetapi saya tetap berharap, proses humanis ini tetap berlangsung, sehingga polisi lebih baik lagi dan mampu mendapatkan simpati masyarakat. Semoga juga polisi-polisi nakal jumlahnya berkurang, sehingga semakin memperbaiki organisasi dan personelnya dalam rangka “trust building“.

Selamat bertugas .. tetap semangat!

Salam
Riri

(sumber foto : VivaNews)

One response

  1. menarik artikelnya…semangat yaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s