VOX POPULI, VOX DEI?

Vox populi, vox dei, artinya kurang lebih suara rakyat adalah suara Tuhan, dengan kata lain ada suara Ilahiah di dalam suara batin masyarakat. Jika dinalar dengan logika, maka implikasi dari pemikiran tersebut adalah masyarakat tidak pernah salah, karena di sana terletak suara Tuhan, dan Tuhan tentu tidak pernah salah. Mungkin ini yang menjadi basis dari buku “Wisdoms of the Crowds” yang ditulis oleh James Surowiecki yang diterbitkan pada tahun 2004. Intinya adalah, suara kolektif masyarakat itu adalah suatu “kebenaran”.

Jujur saja, saya tidak memahami konteks dari vox populi, vox dei ini, karena saya memang bukan ahli filsafat. Tetapi jika kita menggunakan paradigma interpretive dalam scientific inquiry, maka “kebenaran” adalah suatu hasil dari kontruksi sosial yang terbentuk melalui suatu interaksi atau dialog sosial di dalam amsyarakat. Tetapi paradigma interpetive juga mengatakan bahwa “kebenaran” dalam perspektif ini adalah suatu kebenaran relatif, bukan kebenaran absolut.

Tetapi kita bisa terhalusinasi oleh kata-kata “vox dei” karena berarti “suara Tuhan”. Kalau ini adalah suara Tuhan dalam perpektif keimanan, maka dia bisa ditafsirkan sebagai suatu kebenaran absolut oleh sebagian orang. Implikasinya adalah, suara rakyat adalah suatu kebenaran absolut. Jargon ini tentu saja sangat ampuh dipergunakan untuk gerakan oposisi dalam menentang pemerintah dalam suatu sistem politik kenegaraan.

Sampai saat ini saya memang masih belum bisa menerima pernyataan “vox populi, vox dei“, karena masih banyak yang harus dijelaskan dalam memaknai hal ini. Jika memang vox populi, vox dei, mengapa banyak konflik di tengah masyarakat terutama konflik korizontal? Kalau begitu vox populi yang manakah yang vox dei? Ada suatu penalaran yang belum terpuaskan di sini buat saya.

Kecuali kalau kita menerima “vox populi, vox dei” sebagai sebuah keimanan, maka tentu tidak usah diperdebatkan secara rasional. Tetapi buat saya, ini bukanlah ranah keimanan, melainkan ranah filsafat manusia yang masih terbuka untuk didiskusikan atau diperdebatkan, dan dikiritisi maknanya.

Sampai saat ini, saya masih beranggapan, vox populi bukanlah vox dei … mungkin saya harus belajar lagi lebih jauh🙂

Salam
Riri Satria

9 responses

  1. Pemimpin terbaik lahir ditunjuk oleh Tuhan Yang Maha Esa.. Bukan dipilih oleh rakyat

  2. Memang mengkhawatirkan…. seolah “Menyamakan” Suara Rakyat dengan Suara Tuhan… Padahal Tuhan (Allaw swt) adalah dzat yang TIDAK BOLEH disama-sama kan dengan manusia… Mungkin yang benar adalah “SUARA RAKYAT “DIKETAHUI” TUHAN…. karena TUHAN memang MAHA MENGETAHUI…. Sebaiknya Kita berhati hati dengan paham BARAT yang MUNGKIN Berbeda dengan Paham dari penganut ISLAM…..

  3. Konfik horizontal terjadi karena kebenaran objektif yang dipakai sebagai dasar pemikiran sepihak. Bilamana wakil rakyat dipilih ala demokrasi, itulah kebenaran subjektif yang dipakai oleh kepentingan pribadi/kelompoknya. Berbicara keimanan adalah percaya adanya Tuhan sebagai pencipta dan pengatur alam semesta, untuk itulah mahluk yang diciptakanNya wajib percaya Dia sebagai majikan yang patut dituruti. Baik kemauan maupun kebiasaanNya yang sudah mentradisi dalam peradaban manusia sepanjang kehidupan ini berlangsung. Adalah dusta yang maha besar bilamana hari ini ada yang paham demokrasi buatan Tuhan, karena sesuai rumus kehidupan “bilamana mengikuti kehidupan orang banyak maka kebenaran itu hanyalah dibibir semata”. Jelasnya bagaimana dapat menuruti kemauan majikan kalau tidak mengetahui kebiasaanNya.

  4. Buat provokator kayak guwe, ini penguatan yang bagus untuk meng-install ‘kebenaran’ internal gue pelan2 ke rakyat biar guwe untung besar ….

    1. hahahaha .. begitu ya Boz🙂

  5. Lebih setuju jika vox populi, vox dei dianggap sbg bagian ranah “iman”, bukan sains …

    1. Teman Riri, terimakasih bahwa teman bertanya tentang ungkapan ‘Vox Populi Vox Dei”. Saya, Anton Bele, sudah mencoba memberikan ulasan singkat di Harian Pos Kupang, tgl. 7 Juli 2012, dalam kolom opini. Mungkin sedikit ada jawaban di sana. Salam. Dari, Anton Bele, Dosen Sekolah Tinggi Pastoral, Kupang-Timor-NTT-Indonesia.

      1. Terima kasih banyak Bung Anton Bele .. salam hangat dari saya🙂

    2. mmmm .. i see .. begitu ya Stanley .. terima kasih🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s