GREAT BY CHOICE : SUATU SIKAP KEPEMIMPINAN

Sukses adalah sebuah pilihan, begitulah yang sering kita dengar dalam berbagai kesempatan. Saya sepakat dengan pernyataan tersebut. Demikian pula dengan kehidupan bisnis atau organisasi pada umumnya, menjadi sukses juga sebuah pilihan. Berkaitan dengan itu, maka buku Jim Collins ini (ditulis bersama Morten T. Hansen) menjadi relevan. Buku “Great by Choice” yang terbit pada tahun 2011 ini mungkin bisa dikatakan sebagai kelanjutan dari trilogi buku bisnis Jim Collins yang selalu mendapatkan apresiasi positif dari para akademisi maupun pelaku bisnis. Ulasan mengenai trilogi tersebut pernah saya tulis di sini. Khusus untuk buku “How the Mighty Fall” juga pernah saya tulis di sini.

Buku yang ditulis Jim Collins selalu menarik, dan mungkin juga layak diapresiasi mendapatkan predikat “great“. Mengapa demikian? Semua buku yang ditulis Jim Collins (bersama mitra penulisnya) selalu merupakan hasil riset yang komprehensif dan bukanlah buku yang berisikan hal-hal yang sifatnya masih hipotesis. Semua bukunya merupakan hasil riset mendalam yang ditunjang oleh data-data empirik yang valid.

Pada buku ini Jim Collins dan Morten T. Hansen memodelkan suatu sikap kepemimpinan yang mampu membawa organisasi “from good to great“, yang disebut dengan istilah 10X Leadership. Menurut model ini, terdapat 3 (tiga) komponen kepemipinan yang membawa organisasi “from good to great“, yaitu fanatic discipline, empirical creativity, serta productive paranoia, yang semuanya diikat oleh suatu kekuatan yang disebut dengan level 5 ambition.

Level 5 ambition didefinisikan sebagai “incredibly ambitious, but their ambition is first and foremost for the institution and its greatness, not for themselves“. Ini adalah suatu ambisi yang berada pada tataran level 5 leadership di mana fokus seorang pemimpin itu bukanlah ego dirinya, melainkan kemajuan organisasi.

Fanatic discipline adalah suatu sikap yang sangat disiplin kepada strategi organisasi yang sudah dibuat dengan cermat, dan tidak bersikap kompromis terhadap kepentingan-kepentingan lain selain kepentingan organisasi.

Lalu empricial creativity adalah suatu hal yang menarik, karena mempertemukan antara kreativitas dengan suatu penalaran lojik dengan data-data empiris, atau dengan kata lain bukanlah suatu kreativitas yang tidak terkendali. Kreatif harus, tetapi tetap lojik dan empirik.

Terakhir, productive paranoia, yaitu suatu sikap positif mengenai “ketakutan” (dalam makna yang positif) dan selalu ingin menjadi lebih baik dan lebih baik lagi dibanding kompetitor. Khusus untuk productive paranoia ini, saya teringat buku lama tulisan Andy Groove, mantan CEO Intel, yang berjudul “Only the Paramoid Survive“. Kira-kira pemikiran mereka sejalan.

Hasil riset komprehensif yang dilakukan oleh Jim Collins dan Morten T. Hansen ini memberikan khasanah baru dalam ilmu kepemimpinan. Penjabaran lebih lanjut dari konsep 10X Leadership ini dapat dibaca pada buku tersebut. Bukunya cukup menarik untuk dibaca (menurut saya).

Well, for me, this is a recomended book dan ini bukanlah buku yang berisikan teori isapan jempol belaka, melainkan suatu teori mengenai kepemimpinan yang merupakan hasil riset komprehensif pada berbagai perusahaan sukses “good to great” yang menjadi best practice di dunia.

Salam
Riri Satria

3 responses

  1. Mau Nanya beli bukunya di mana ya?

  2. […] 1912 mulai melirik dua buku Jim Collins yang lain, yaitu “Good to Great” dan “Great by Choice“. “Good to great” menguraikan bagaimana perusahaan-perusahaan besar di dunia […]

  3. great book for great people who wants to have great life …. (y)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s