TENDANGAN DARI LANGIT

Masih dalam suasana liburan Idul Fitri, maka ada satu lagi film yang menarik untuk ditonton bersama keluarga, yaitu Tendangan Dari Langit. Film ini berkisah tentang Wahyu, seorang anak remaja SMA dari Desa Langitan di dekat kota Malang – Jawa Timur, yang memiliki bakat bermain sepakbola. Sayang, bakat dia ini ditentang oleh ayahnya, yang diceritakan dulu juga pemain sepakbola di klub Persema Malang, tetapi karirnya habis karena terus dirundung cedera. Bakat Wahyu ini dimanfaatkan oleh pamannya yang selalu mengajak Wahyu untuk ikut dalam pertandingan sepakbola antar kampung di sekitar desanya.

Seperti halnya sebuah film, ceritanya memang penuh konflik, yaitu konflik Wahyu dengan ayahnya di mana ayahnya melarang dia bermain sepakbola karena trauma dan khawatir Wahyu bernasib seperti dirinya, lalu ada konflik antara ayah Wahyu dengan pamannya karena memiliki pandangan yang berbeda mengenai sepakbola dan masa depan Wahyu, juga ada konflik kisah cinta khas anak remaja SMA, dan konflik tertinggi adalah konflik batin pada diri Wahyu mengenai jalan hidupnya termasuk ketika dia gagal masuk seleksi tim Persema Malang karena ada kelainan pada lututnya.

Satu persatu konflik selesai, dan akhirnya Wahyu menjadi bagian dari tim Persema Malang. Proses penyelesaian konflik dibuat cukup menarik dan juga melibatkan logika penyelesaian konflik khas anak remaja SMA. Penyelesaian konflik yang dramatis adalah penyelesaian konflik antara Wahyu dan ayahnya. Ego ayahnya luluh setelah melihat tekad Wahyu dan dia juga mulai terbuka terhadap berbagai perkembangan baru.

Film ini memberikan banyak pesan moral, mengenai sikap pantang menyerah, persahabatan, sampai bagaimana membangkitkan kepercayaan diri. Film ini juga memberikan edukasi kepada kita semua bagaimana cedera pada pemain sepakbola harus ditangani secara profesional oleh seorang fisioterapi sehingga pemain cepat pulih kembali.

Kehadiran Irfan Bachdim dan Kim Jefrey Kurniawan dalam film ini memang lebih banyak sebagai pemanis dan sebagai faktor untuk menarik penonton, karena memang mereka bukanlah tokoh sentral film, walaupun posisinya adalah menjadi ikon atau idola dari tokoh utama, yaitu Wahyu. Justru peran ayah Wahyu yang dimainkan oleh Sudjiwotejo lah yang menjadi sangat sentral dalam film ini dan Sudjiwotejo memerankannya dengan sangat baik. Bahkan peran yang dimainkan Matias Ibo sebagai dirinya sendiri lebih besar karena dia harus menjelaskan bagaimana manangani cedera pada pemain dan apa itu profesi fisioterapis dalam sebuah tim sepakbola.

Saya memberikan nilai 8.5 pada skala 1 – 10 untuk film ini, dan merekomendasikannya untuk ditonton bersama keluarga. Apalagi soundtrack yang dibuat oleh grup band Kotak juga sangat atraktif menemani kita menikmati film ini.

Salam
Riri

2 responses

  1. Seharusnya film2 seperti inilah yang menghiasi layar bioskop tanah air kita. Bukannya film2 mengenai cerita hantu gak jelas yang hanya mengedepankan dan mengeksploitasi sensualitas belaka. Cerita semacam ini memang gak rugi kalau kita tonton bersama keluarga ya Pak…:mrgreen:

    1. setuju Mas Bintang .. kita memang kekurangan film-film bermutu .. terutama untuk anak-anak … salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s