MAHATHIR MOHAMAD

Beberapa hari belakangan ini, MetroTV menyiarkan serial tentang biografi mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad. Saya tidak melewatkan sedikitpun serial biografi Mahathir Mohamad ini. Beliau memang salah satu tokoh yang saya kagumi, seorang tokoh yang sanggup membawa negara Malaysia menjadi sebuah negara modern. Dulu konon Malaysia yang pernah belajar kepada negara Indonesia, sekarang mengalami pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan yang jauh lebih pesat dibanding Indonesia.

Saya pernah mendengarkan ceramah beliau pada saat jadi peserta pada “The 2nd Annual Top Executive Forum on Governance : Cultural Perspectives on Governance” yang diselenggarakan di Bali bulan November 2008. Pada saat acara makan malam, saya pun berkesempatan ikutan nimbrung dalam percakapan bersama beliau, walaupun tentu saja beliau lebih banyak bicara dan yang lain mendengarkan. Nah, jika semua apa yang saya catat dalam kesempatan itu digabung dengan apa yang saya lihat pada serial birografi beliau, saya menyimpulkan beberapa hal :

Pertama, menjadi pemimpin itu berarti berpolitik, dan berpolitik artinya harus berani menentukan sikap. Seorang pemimpin harus berani menentukan sikap tertentu, yang tentu saja sesuai dengan apa yang menjadi tujuan, dan jika itu pemimpin negara, tentu sikap tersebut harus sesuai dengan cita-cita negara yaitu meningkatkan kesejahteraan dalam pengertian yang luas. Banyak pilihan jalan yang tersedia, dan seorang pemimpin harus berani menentukan sikap mengenai jalan yang dipilih untuk kesejahteraan bersama. Kepemimpinan adalah suatu keberanian untuk menentukan sikap.

Kedua, dalam menentukan sikap, kita tidak bisa menyenangkan semua orang, pasti ada saja yang tidak sesuai dengan sikap kita, baik itu berasal dari kalangan di dalam negeri, maupun kalangan luar negeri. Setiap kalangan itu pasti memiliki kepentingan, dan tidak semua kepentingan itu bisa terakomodasi dalam sikap kita tadi. Kita harus berani menghadapi tantangan tersebut. Pihak-pihak itu akan memberikan tekanan, baik melalui media massa, menggerakkan masyarakat, dan sebagainya. Kepemimpinan adalah suatu keberanian menghadapi tantangan.

Ketiga, seorang pemimpin negara itu memiliki visi jangka panjang untuk membawa negara menjadi lebih sejahtera, dan visi jangka panjang itu pasti akan ada saja berbenturan dengan kepentingan-kepentingan jangka pendek berbagai kalangan. Mereka tentu akan menggalang opini dan dukungan untuk mengakomodasi kepentingan jangka pendek tersebut, tetapi seorang pemimpin negara tidak boleh terpengaruh dan harus tetap berada pada koridor visi jangka panjang tadi. Kepemimpinan adalah suatu sikap yang tetap fokus pada visi jangka panjang dan persisten dalam mewujudkan visi tersebut.

Keempat, budaya Timur (Asia) cenderung untuk lebih humanistik, yaitu selalu menjaga perasaan orang lain ketika berbicara, lebih mementingkan aspek humanis, sehingga sering orang Timur tidak straightforward dalam menyampaikan pemikirannya. Sementara itu budaya Barat (Eropa, AS, Australia) cenderung untuk straighforward dalam berbicara dan menyampaikan pendapat. Dengan demikian, dalam beberapa hal, kita orang Timur juga harus mampu menyuarakan opini dan sikap kita secara straightforward kepada pihak Barat, supaya mereka mengerti dengan jelas sikap kita. Kita harus mampu berkomunikasi dengan baik, kapan menggunakan pendekatan humanis, kapan straightforward, dan sebagainya. Kepemimpinan itu juga berarti memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan tepat.

Nah, itulah catatan singkat saya mengenai gaya Mahathir Mohamad .. bagaimana pendapat Anda?

Salam
Riri

(gambar saya link dari Wikipedia).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s