IBU / NYONYA

Kebiasaan masyarakat di negara yang berbahasa Inggris (seperti AS dan Inggris tentunya yang notabene konon katanya adalah negara maju dengan paradigma terbuka), seorang wanita yanng sudah bersuami dipanggil dengan cara resmi dengan menggunakan nama suaminya. Misalnya nama first lady AS, Michelle Obama, maka secara formal dipanggil Mrs. Obama atau dipanggil secara lengkap Mrs. Michelle Obama. Kelihatan bahwa identitas seorang wanita itu mengikuti identitas laki-laki (sebagai family name), di mana saat dia kecil maka dia mengikuti nama ayahnya, dan setelah menikah dia mengikuti nama suaminya. Berbeda dengan laki-laki, di mana saat kecil dia mengikuti identitas ayahnya (atau nama lain yang diwariskan ayahnya seperti marga). Kecuali untuk nama panggilan atau nickname, tentu tetap dipanggil dengan identitas aslinya.

Bagaimana di Indonesia? Inilah yang menarik. Saya berasal dari kota Padang, di mana budaya atau adat Minang bersifat matrilineal, maka nama suku atau marga diwariskan dari Ibu. Suku atau marga saya adalah Koto, dan ini diwarisi dari ibu saya, sementara ayah saya memiliki suku atau marga Tanjung. Identitas seorang wanita di Minang memang tidak pernah mengikuti laki-laki walaupun dia sudah menikah. Pada berbagai acara tetap saja ayah dan ibu saya dipanggil Pak Chaidir Anwar dan Ibu Rohida Yetti, dan tidak pernah saya lihat ibu saya menaruh nama Chaidir atau Anwar di belakang namanya. Ibu tetap tampil dengan identitas aslinya. Saya amati lebih luas, ternyata memang begitulah budaya atau adat di Minang atau di Sumatera Barat.

Begitu juga saya amati di Sumatera Utara dengan adat Batak-nya. Jika seorang wanita sudah menikah, maka dia tetap menggunakan nama marga aslinya yang dipergunakan sejak kecil. Kalaupun sudah menikah, dia menggunakan istilah br (boru) dengan tetap menggandengkan nama marga asli dia dengan nama marga suaminya.

Tetapi kondisi yang berbeda saya temui setelah pindah ke Jakarta. Di sini, umumnya wanita yang sudah menikah akan mengikuti identitas suaminya. Misalnya nama first lady negara kita, dipanggil dengan nama Ibu Ani Yudhoyono, di mana identitas nama suami yaitu Pak SBY dipergunakan di belakang nama Ibu Ani yang memiliki nama asli Kristiani Herawati. Hal ini mirip dengan di AS tadi.

Dalam masyarakat Islam, nama seseorang selalu diikuti oleh nama ayahnya, sehingga ada bin (anak laki-laki dari) atau binti (anak perempuan dari). Saya tidak tahu persis dengan budaya masyarakat Timur Jauh seperti Cina, Korea, dan Jepang.

Nah, bagaimana “budaya nasional” Indonesia? Saya kira karena “budaya nasional” kita didominasi oleh budaya Jawa, maka besar kemungkinan identitas seorang perempuan akan mengikuti identitas suaminya jika telah menikah, walaupun hal itu kurang lazim di beberapa masyarakat di Indonesia seperti di Minang.

Bagaimana menurut anda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s