HYPERSOCIAL ORGANIZATION

Buku yang ditulis oleh Gossieaux and Moran pada tahun 2010 yang lalu mengungkapkan teori hyper-social organization yaitu menyimpulkan bahwa ada 4 (empat) perubahan paradigma pemasaran akibat munculnya social media yaitu:

1. From market segmen to tribes
Pola pikir perusahaan harus segera berpindah dari fokus pada segmen pasar menjadi fokus pada tribes (komunitas online yang terbentuk dan melakukan interaksi melalui social media). Gossieaux and Moran berpendapat bahwa segmentasi pasar klasik dibentuk berdasarkan karakteristik individu dari manusia (demografi), bukan berdasarkan pada karakteristik perilaku sosialnya (behavior). Sedangkan karakteristik individu manusia tidak bisa memberikan informasi yang cukup pada perusahaan tentang bagaimana manusia tersebut melakukan interaksi sosialnya, termasuk pertimbangan dalam membuat keputusan untuk membeli.

2. From company-centricity to human centricity
Paradigma lama yang menganggap pelanggan adalah pelanggan harus segera dihentikan. Pada dasarnya, pelanggan adalah manusia yang memiliki berbagai macam kebutuhan, seperti teori Maslow yang memaparkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki 3 (tiga) jenis kebutuhan, yaitu kebutuhan untuk hidup, kebutuhan kasih sayang serta kebutuhan penghargaan. Dengan demikian, fokus perusahaan harus mulai beralih dari company-centricity yang lebih mengedepankan kepentingan perusahaan dan menganggap pelanggan sebagai konsumen perusahaan, menjadi human-centricity yang menganggap pelanggan sebagai manusia dengan segala kebutuhannya. Gossieaux and Moran menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan hyper-social yang telah berpindah dari company-centricity ke human centricity menambahkan customer-centricity kedalam value proposition mereka.

3. From information channels to knowledge network
Beberapa tahun yang lalu saat social media belum muncul, information channel menjadi salah satu faktor penting dalam pemasaran produk atau jasa suatu perusahaan. Perusahaan dapat membanjiri konsumen dengan informasi maupun pesan tentang suatu produk atau layanan karena para konsumen mereka belum terhubung satu sama lain secara luas. Pada masa ini, informasi tentang produk dan layanan berjalan bersama dengan produk atau layanan itu sendiri. Namun semenjak social media muncul, hal ini tidak dapat dilakukan lagi. Melalui social media, dimana masing-masing orang dapat terhubung dalam suatu komunitas secara online, perusahaan tidak dapat mengetahui ketika pelanggan, calon pelanggan potensial, atau bahkan detractor (pencela yang tidak menyuka produk atau layanan perusahaan) terhubung pada suatu komunitas yang sama dan saling berbagi pengalaman tentang produk dan layanan perusahaan tersebut. Dengan kata lain, perusahaan tidak dapat mengendalikan tribes yang terbentuk dalam dunia maya. Oleh karena itu, paradigma mengelola information channels harus mulai bergeser menjadi pengelolaan knowledge network dengan mencari dan mendapatkan pengetahuan tentang jaringan diantara tribes yang telah terbentuk melalui social media.

4. From process and hierarchy to social messiness.
Tribes yang terbentuk dengan memanfaatkan social media tidak hanya berisi orang atau kelompok orang yang menyukai produk atau layanan suatu perusahaan, namun juga dapat berisi orang atau kelompok orang yang memberikan dampak negatif terhadap suatu perusahaan. Kerugian yang besar dapat diderita perusahaan akibat propaganda yang dilakukan sekelompok orang yang memberikan opini negatif terhadap produk atau layanan perusahaan ini. Sehingga kelompok detractor ini perlu dirangkul dan diajak bicara. Untuk itu, pada era social media saat ini, perusahaan tidak bisa hanya memfokuskan diri pada proses dan hirarki saja, namun sudah harus berfikir untuk lebih fokus dalam mengantisipasi social messiness yang ditimbulkan kelompok detractor dalam dunia maya. Dalam merangkul kelompok detractor ini, Gossieaux and Moran memperkenalkan kerangka SEAMS (sensing, engaging, activating, measuring and storytelling) yang merupakan tahapan dalam mengatasi social messiness.

Gossieaux and Moran menyatakan bahwa perkembangan social media beberapa waktu belakangan ini telah mampu merubah cara menciptakan dan mendistribusikan produk, serta cara mendapatkan perhatian calon pelanggan dan kemudian menjual produk atau jasa kepada pelanggan tersebut. Sebuah penelitian membuktikan bahwa dua per tiga keputusan membeli dibuat berdasarkan informasi yang bukan berasal dari perusahaan yang menjual produk atau jasa yang dibelinya. Sebuah survey dari Deloitte’s 2009 States of the Media Democracy membuktikan bahwa 63% konsumen di Amerika mempelajari suatu produk baru untuk pertama kalinya secara online, dimana 51% diantaranya menyatakan bahwa mereka membeli produk karena online review. Studi lain dari McKinsey membuktikan bahwa lebih dari 50% konsumen elektronik di Amerika saat ini sangat bergantung pada web-based research untuk mempersempit pilihan dalam memilih suatu produk dibandingkan dengan mengikuti saran dari staf penjualan ketika memilih produk dalam sebuah toko.

So, welcome to social media and hyper-social organization era …

7 responses

  1. […] besar dari materi kuliah tersebut sudah pernah saya ulas pada blog ini, antara lain hypersocial organization, the long tail, groundswell and open leadership, social capital, serta bahan yang saya […]

  2. Menarik pak, karena organisasi selalu tidak dapat lepas dari konteks sosialnya (termasuk perilaku masarakatnya), dan secara alami dalam kerangka pertumbuhan makhluk hidup “kesesuaian” dengan lingkungan berbanding lurus dengan harapan hidup. Kata peribahasa : kita (dan organisasi), dituntut untuk bisa mengendalikan kapal dibanding mengatur besarnya gelombang (sudut pandang praktisi ya😀 ). Permasalahannya sekarang adalah kecerdasan-skill-pengalaman si nahkoda untuk mengatur arah kapalnya, nah kayaknya bisa satu topik KA nih. hahahahaha…. (kalau ada istilah soft marketing, adakah istilah untuk rayuan yang soft, secaranya merayu sendiri pada dasarnya pasti dilakukan secara soft).

    Salam.

    1. yup .. begitulah Mas Denny .. organization is like a living organism …🙂

  3. dalam gov 2.0 dikenal istilah hyperlocal website di mana pemberdayaan komunitas lokal sebagai partner gov dalam memberikan layanan publik: http://www.facebook.com/gov2indonesia/posts/135261456489993

    fenomena ini hanya mungkin terjadi di era hypersocial seperti yang digambarkan oleh Gossieaux and Moran

    1. terima kasih Wibi atas infonya … salam sukses selalu🙂

  4. Social media memang fenomenal. Organisasi tempat saya bekerjapun sangat peduli dengan pentingnya social media yang digunakan untuk menginformasikan isu-isu, kegiatan-kegiatan dan hasil-hasil penelitian. Jumlah dan respon subscriber, seringkali dijadikan ukuran keberhasilan, meskipun belum ditelaah lebih mendalam. Setidaknya, kami dapat melihat berapa banyak subscriber yang akhirnya landing di website kami.

    Tidak bisa dipungkiri, kebanyakan komunitas yang kita bicarakan berasal dari “negara facebook”, “negara twitter” dan “negara blogger”, dan tidak jarang ada yang menjadi anggota lebih dari satu warga negara.

    Gak kebayang, bagaimana kalau negara-negara itu bangkrut, siapa yang akan menyelamatkannya?

    Menarik juga kalau melihat perilaku komunikasi para warga negara itu. Seringkali apa yang diungkapkan disamping memberikan fakta, disisi lain
    merupakan sebuah pencitraan. Kalau benar demikian, apakah perilaku komunitas selama ini bukanlah perilaku yang utuh dari pribadi yang sesungguhnya.

    1. hehehehe .. begitulah Pak Yahya .. emang ada yang bisa menggambarkan perilaku yang utuh? 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s