MBAK INGGIT DAN TAKSINYA

Namanya panggilannya Inggit, usia ngakunya 43 tahun, pekerjaan pengemudi taksi Tiara Express (sudah hampir setahun dijalani), pekerjaan sebelumnya adalah pengemudi bus TransJakarta (melintasi busway) selama sekitar 2 tahun. Postur tubuhnya sih sedang-sedang saja, tidak tinggi, juga tidak kekar, tetapi sesuai dengan pekerjaannya, dengan sigap dia mengemudikan taksinya melewati kemacetan kota Jakarta di sore hari .. hehehe .. lebih cekatan dari saya nyetir malahan ..

Saya pernah dua kali menaiki taksi yang pengemudinya perempuan, dan keduanya adalah taksi Blue Bird. Nah, kali ini Tiara Express. Kisah hidup para pengemudi perempuan ini nyaris sama, di mana mereka adalah single parent, harus menghidupi anak-anak, tidak punya keahlian pekerjaan kantoran, tetapi punya nyali yang tinggi, maka pekerjaan sebagai pengemudi pun dilakoni. Ternyata menjadi pengemudi taksi tidaklah mudah bagi para perempuan ini. Mereka mengalami banyak tantangan dibandingkan dengan pengemudi laki-laki.

Tantangan terbesar bukanlah rentan terhadap perampokan, melainkan perilaku tidak terpuji dari beberapa penumpang laki-laki yang cenderung melakukan pelecehan seksual. Mbak Inggit menceritakan bahwa dia pernah dipegang-pegang oleh penumpang laki-laki, lalu taksi dia pinggirkan, dia ngomong baik-baik sama penumpang bahwa dia tidak senang diperlakukan begitu, dan jika penumpang masih terus bersikap begitu, maka kunci roda yang ada di bawah jok pengemudi sudah siap-siap untuk melayang ke kepala di penumpang.

Tetapi menurut dia, jumlah penumpang seperti itu hanya sedikit, hanya dua atau tiga orang saja, selebihnya sih para penumpang itu sopan-sopan dan menghormati dia walaupun pekerjaannya pengemudi taksi, bahkan tidak jarang dia mendapat simpati dari para penumpang, walaupun dia merasa biasa-biasa saja menjalani profesinya. Ada satu hal yang menarik, ternyata masih banyak penumpang laki-laki yang merasa takut disopiri oleh perempuan sehingga kelihatan wajah cemas .. hahahaha .. mungkin itu ego laki-laki Mbak, karena di benak kami para laki-laki, perempuan itu pantasnya disopiri, sehingga kalau perempuan jadi sopir atau pengemudi, rasanya kok aneh🙂

Cuma ya itu, mungkin karena keberadaan pengemudi taksi yang perempuan itu masih jarang, sehingga Mbak Inggit selalu mendapatkan pertanyaan yang sama dari para penumpang, dan dia terus menceritakan kisah yang sama, walaupun berkali-kali diulang kepada penumpang yang berbeda.

Begitulah, para pengemudi perempuan baik taksi seperti Mbak Inggit ataupun kendaraan umum lainnya terus melakoni jalan hidupnya mencari nafkah yang halal dan baik di jalan raya dengan penuh optimis untuk membesarkan anak-anaknya …

(Note : saya potret Mbak Inggit dari jok belakang taksi setelah dapat izin beliau)

Terima kasih kepada moderator Ngerumpi.com yang telah memasukkan tulisan ini ke dalam pilihan moderator.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s