JUSUF MANGGABARANI

Kamis, 20 Januari 2011, di Auditorium Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), menjelang sore, saya terkesima menatap panggung depan auditorium di mana sedang berlangsung acara penutupan Rapat Pimpinan (Rapim) Polri tahun 2011. Saat itu saya mendapatkan kesempatan untuk ikut melihat jalannya Rapim Polri 2011 dengan status sebagai pengamat sekaligus memberikan beberapa masukan mengenai isu-iasu yang dibahas. Jujur saja, pada awalnya saya berpikir bahwa acara penutupan ini hanya bersifat sermeonial dengan beberapa sambutan dan ucapan terima kasih, lalu para peserta pulang atau kembali ke tempat masing-masing. Sebagai orang luar Polri, saya mengamati jalannya Rapim tersebut memang masih banyak yang perlu dibenahi, terutama pembahasan isu-isu stratejik yang sangat penting untuk Polri dan negara Indonesia pada umumnya (dari sisi keamanan tentunya). Jadi, saya menduga, acara penutupan pun akan datar-datar seperti biasa, tanpa ada suatu yang istimewa.

Tetapi dugaan saya salah, Wakapolri Komjen Pol. Jusuf Manggarabarani duduk di mimbar. Sebagai Wakapolri, tentu beliau harus membacakan amanat Kapolri pada saat acara penutupan tersebut. Setelah beliau selesai membacakan amanat Kapolri, saya pikir acara sudah selesai. Tanpa diduga, ternyata beliau memberikan pengarahan sendiri pada acara penutupan, yang menurut saya sangat bagus, sangat tegas, lugas, terarah, dan tanpa basa-basi. Inti pembicaraan beliau adalah, Pak Jusuf sangat prihatin dengan kondisi yang menerpa Polri akhir-akhir ini. Berbagai isu miring dan cercaan banyak diarahkan ke organisasi Polri, karena memang secara individual banyak personel Polri yang tidak sungguh-sungguh bekerja secara profesional dan menjalankan prinsip Tri-Brata. Kemudian secara organisasional, masih banyak hal-hal yang masih perlu diperbaiki, bahkan menurut beliau ada hal-hal yang sangat lamban perbaikannya. Pak Jusuf berbicara dengan wibawa yang tinggi, suara keras, tetapi tegas dan terarah, mirip seorang ayah sedang memarahi anaknya. Beliau mengatakan bahwa Polri dihujat orang karena memang kesalahan kita (beliau menggunakan kata-kata “kita” saat itu) sebagai anggota Polri yang masih jauh dari profesional. Secara spesifik beliau menunjuk kinerja reserse kriminal yang masih sangat jauh dari yang diharapkan.

Itulah pertama kalinya saya mendengarkan Pak Jusuf berbicara secara langsung. Saya memang banyak terlibat dalam berbagai kegiatan di Polri, terutama sewaktu restrukturisasi dan pengembangan organisasi, dalam kapasitas saya sebagai nara sumber atau konsultan manajemen organisasi. Tetapi selama itu, saya belum pernah berinteraksi dengan Pak Jusuf, bahkan sampai sekarang pun belum pernah, jadi saya memang tidak kenal Pak Jusuf sama sekali. Ketegasan dan kelugasan yang jujur pada saat bicara di Rapim Polri tersebut sangat menarik perhatian saya. Nah, kira-kira seperti inilah sosok pimpinan Polri yang dibutuhkan, tegas, lugas, jujur, dan berani.

Kebetulan di dekat saya waktu itu ada beberapa perwira tinggi Polri, dan saya tanya kepada mereka mengenai Pak Jusuf ini. Dari jawaban 2 (dua) orang perwira tinggi yang memberikan jawaban, ternyata sosok Pak Jusuf ini memang dikenal sebagai polisi yang penuh pengabdian, istilah mereka, Pak Jusuf itu polisi yang bersih dan lurus, dan mengkedepankan pengabdian.

Salah satu kalimat Pak Jusuf saat itu yang masih saya ingat, “Omong kosong anda semua meminta kepercayaan masyarakat! Minta dipercaya sedangkan anda sendiri tidak jujur dan tidak adil”. Suara beliau sangat keras di depan sekitar 200 perwira tinggi Polri berpangkat bintang satu sampai bintang tiga. Menyinggung kinerja reserse, beliau berucap, “Kalau perkara sudah P21 atau lengkap, sudah harus langsung diserahkan ke Kejaksaan. Oleh karena ini kalau sudah P21 tidak perlu ditahan atau didiskusikan lagi, karena menahan dan mendiskusikan hanya akan menimbulkan pertanyaan, mau diapakan? Apakah mau diuangkan?”. Pedas mungkin di telinga petinggi reserse. Tetapi itulah Pak Jusuf rupanya, tegas tanpa basa-basi.

Secara tak sengaja, beberapa hari yang lalu, saya menemukan buku Birografi Pak Jusuf di toko buku dan langsung saya beli. Ternyata semua yang diucapkan oleh Pak Jusuf saat acara penutupan Rapim Polri 2011 dimuat dalam buku tersebut pada halaman 130 – 136. Itulah sebabnya tulisan ini saya buat. Jujur saja, tadinya saya sudah ingin menulis hal ini pada bulan Januari 2011 yang lalu, tetapi saya merasa ini adalah kejadian internal Polri sehingga tidak usah ditulis untuk publik. Dengan terbitnya buku Pak Jusuf ini, maka ini sudah menjadi public domain, sehingga layak untuk dituliskan.

Suka tidak suka, sebuah negara membutuhkan kehadiran aparat kepolisian, sehingga wajarlah kalau rakyat mendambakan aparat kepolisian yang bersih dan lurus, tegas dan profesional. Walaupun demikian, tantangan dan godaan untuk aparat kepolisian memang sangat banyak, termasuk dari rakyat juga, di mana sebagian kelihatannya memang tidak suka melihat Polri menjadi kuat.

Mudah-mudahan akan ada generasi penerus di Polri yang memiliki karakter seperti Pak Jusuf, dan bahkan lebih baik lagi ..

Salam
Riri Satria

One response

  1. Polisi satu ini memang luar biasa pak. Saat terjadi bentrok antara polisi dan mahasiswa UMI, 2003 yang lalu sebagai Kapolda ia menyatakan bertanggungjawab atas kejadian tersebut yang terpaksa ia harus diberhentikan sebagai Kapolda oleh Jendral Da’i Bachtiar. Yang paling ku ingat dr pak Manggabarani ialah kebiasaannya naik motor untuk melihat dan merasakan sendiri bagaimana kontrol yg dilakukan terhadap anak buahnya. Pernah saat ini jadi Kapolda ia naik bus umum (antar kota) untuk membuktikan apa ada pungli oleh Satlantas …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s