DILEMA TNI-AU

Hari Sabtu tanggal 9 April 2011 yang lalu adalah HUT TNI-AU yang didirikan tahun 1946, atau hanya setahun lebih muda daripada usia negara Republik Indonesia ini. Menyimak perjalanan TNI-AU sepanjang sejarah sejak didirikan memang penuh dinamika. Pada zaman pemerintahan Orde Lama, TNI-AU pernah sangat disegani di kawasan Asia Tenggara, bahkan konon Asia, karena beberapa pesawat tempur dan pembom modern di zaman itu dimiliki oleh TNI-AU.

Peta politik yang berubah pada tahun 1966 dengan pergantian ke rezim Order Baru membuat TNI-AU “dikerdilkan” bahkan seperti “macan ompong”. Rezim Orde Baru memilih untuk membesarkan TNI-AD dan menempatkan TNI-AD sebagai “elit militer” di negara ini. Semua Panglima ABRI / TNI berasal dari TNI-AD, dan barulah setelah Era Reformasi ada Panglima TNI yang berasal dari TNI-AL (2 orang) dan TNI-AU (1 orang).

Beberapa sahabat saya yang kebetulan pengamat militer mengatakan bahwa dalam konteks pertahanan nasional (national defence) sesungguhnya peranan TNI-AU (bersama TNI-AL) justru memegang peranan yang sangat strategis. Jika terjadi perang di mana ada pasukan negara lain mencoba memasuki wilayah kedaulatan Republik Indonesia, maka unit tempur yang bisa siap bertugas dengan cepat dan juga mencapai lokasi musuh dengan cepat adalah pesawat tempur TNI-AU. Unit temput TNI-AU bertugas untuk mengintersepsi musuh dalam perjalanannya menuju wilayah kedaulatan negara ini.

Fungsi yang sama juga diemban oleh TNI-AL, tetapi tetap saja TNI-AU yang memiliki kemampuan untuk melakukan intersepsi dengan cepat. Bahkan TNI-AU dan TNI-AL juga berperan besar untuk menjadi pengangkut pasukan TNI-AD jika ingin dimobilisasi ke berbagai wilayah Indonesia.

Doktrin militer Republik Indonesia adalah pertahanan nasional (national defence), dengan demikian Indonesia tidak memilik doktrin untuk “menyerang dengan mengirim pasukan” ke negara lain. Kalaupun ada pasukan Indonesia dikirim ke luar negeri, itu pasti dalam rangka misi perdamaian di bawah bendera PBB. Akibatnya, peranan TNI-AD sebagai unit tempur baru berguna apabila musuh sudah mendaratkan pasukannya di pulau-pulau atau tanah wilayah kedaulatan Negara Indonesia. Selain itu, TNI-AD lebih banyak melakukan pembinaan teritorial, dan di banyak hal, tumpang-tindih dengan pekerjaan Kepolisian RI (Polri) terutama dalam aspek keamanan dalam negeri.

Sebagai suatu kekuatan yang memiliki kemampuan kecepatan yang tinggi, maka tentu saja peranan TNI-AU sangat strategis di Indonesia, sebuah negara yang luas dan berbentuk maritim ini. Beberapa catatan menunjukkan, beberapa kali kekuatan militer negara lain mencoba untuk mengusik wilayah kedaulatan Indonesia, bahkan pesawat F-16 Falcon TNI-AU pernah “berhadapan” dengan pesawat F-18 Hornet US Navy dalam “insiden Bawean” beberapa tahun yang lalu. Sewaktu kasus Ambalat dengan Malaysia memanas, Panglima TNI pun memerintahkan TNI-AU menaruh pesawat F-16 di Balikpapan untuk mendukung patroli TNI-AL di perairan Ambalat tersebut.

Tetapi sampai saat ini, TNI-AU masih mengalami situasi dilematis. Tuntutan penugasan dengan ketersediaan dan kesiapan peralatan tempur (terutama pesawat) dan persenjataan sangatlah terbatas. Silakan bandingkan kekuatan TNI-AU dengan AU Singapura di Wikipedia ini. Terlihat dengan jelas, kekuatan AU Singapura jauh di atas TNI-AU, terutama dari sisi pesawat dan persenjataan. Dilematis bukan? Untuk menjaga wilayah yang sangat luas ini, kekuatan TNI-AU masih di bawah AU Singapura yang menjaga sebuah negara dengan luas hampir sama dengan pulau Batam dan sekitarnya.

Hal ini menyebabkan TNI-AU tidak bisa menjalankan tugasnya dengan optimal sebagai unit tempur yang mampu bereaksi cepat untuk pertahanan nasional negara Indonesia ini. Bahkan kalau dilihat lebih lanjut, tidak ada pangkalan tempur TNI-AU di wilayah Indonesia Timur, kecuali di Makasar. Hal ini berbeda dengan Indonesia bagian Barat, di mana terdapat pangkalan pesawat tempur di Pontianak, Madiun, dan Pekanbaru. Sementara akuadron penunjang juga ada di Jakarta, Bogor, Yogyakarta, dan Malang, serta pasukan elit TNI-AU Paskhas di Subang.

Melengkapi pesawat, persenjataan, dan peralatan lainnya (seperti radar) jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal ini diperlukan supaya TNI-AU sanggup menjalankan tugasnya dengan optimal. Tetapi di sisi lain, anggaran negara lebih dibutuhkan untuk program pembangunan nasional lainnya yang tidak kalah pentingya, bahkan penting dan mendesak, yaitu mengentasan kemiskinan dan pendidikan.

Apa yang harus dilakukan? Dilematis memang. Kelihatannya TNI-AU memang masih harus bersabar untuk memperbaharui pesawat, senjata, dan peralatannya. Mudah-mudahan kerja sama mengembangkan pesawat tempur KF-X dengan Korea Selatan bisa dilakukan dengan baik dan dalam jangka menengah kita bisa membuat pesawat tempur sendiri.

Suka tidak suka, kita membutuhkan kehadiran TNI-AU (dan militer pada umumnya, TNI-AD dan TNI-AL) untuk kepentingan negara ini. Sekali lagi, suka tidak suka, kewibawaan suatu negara di pentas internasional juga sangat ditentukan oleh kekuatan militer yang dimilikinya. RRC telah membuktikan, mereka memiliki kekuatan militer, ekonomi, dan pendidikan, sehingga mulai merajai kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara.

TNI-AU memiliki tempat dalam perjalanan hidup saya walaupun sedikit. Sewaktu saya kecil di Padang, saya banyak berinteraksi dengan lingkungan TNI-AU, bahkan saya bersekolah di TK Angkasa yang dikelola oleh TNI-AU di pangkalan TNI-AU Tabing – Padang. Saya tinggal di kompleks dosen Universitas Andalas yang bersebelahan dengan kompleks perumahan TNI-AU, sehingga saya banyak punya kawan anak-anak dari lingkungan TNI-AU sewaktu kecil.

Untuk itu, saya ucapkan … Dirgahayu TNI-AU … the guardian wings of the nation!

15 responses

  1. saya sangat menantikan kehadiran pesawat kfx di indonesia,karena pesawat itu adalah pesawat generasi 4.5
    dan TNI A.U jadilah Wing of Protector

    1. nah .. kita semua menunggu kayaknya tuh .. kalau terwujud, Indonesia bakal punya pesawat tempur generasi modern lah …

  2. saya ingin menjadi TNI-AU

    1. semoga tercapai .. amin ..

  3. TNI AU. adalah Pengayom NKRI dan TETAP JAYA……….!!!!!!!!

  4. aswrwb selamat malam, bung riri majalah bumi cirebon bulan mei sudah terbit, rencananya mau di kasihkan cuma alamat bung riri saya tidak tau, untuk itu saya mohon alamat rumahnya. terima kasih

    1. kok belum saya terima nih Bos .. alamat sudah dikirim via email lho .. hehehe

  5. sekalian, boleh tidak artikel ini saya muat di majalah bumi cirebon edisi 1 mei 2011.
    terima kasih

    1. silakan Mas … terima kasih

  6. tulisan yang cukup luar biasa, salut buat anda

    1. terima kasih banyak atas apresiasinya … mudah2an bermanfaat Mas🙂

  7. Di kalimat kedua tampaknya bapak salah ketik, TNI-AU menjadi TNI-UI.

    1. wah jeli sekali .. terima kasih atas koreksinya .. tulisan sdh diperbaiki🙂

      1. Tulisan Bang Riri ini pas banget dengan apa yang saya rasakan ketika kemarin berkunjung ke Museum US Air Force di Dayton. Membandingkan dengan Indonesia, saya iri sekali melihat ratusan pesawat US dipajang di situ lengkap dengan senjata-senjatanya sepanjang perjalanan sejarah USAF sejak awal abad 20 lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s