SELAMAT JALAN BRO TIO ..

Selasa pagi, 8 Maret 2011, pukul 9 pagi. Tiba-tiba telepon genggam isteri saya berdering. Dengan wajah penuh keterkejutan, dia segera memberi tahu saya, itu telepon dari sahabat kami, Hasnawati yang akrab dipanggil Hessy, mengabarkan bahwa suami tercintanya Heru Suprantio alias Tio baru saja meninggal dunia … innalillahi wa inna ilai rojiuun.

Belum hilang rasa kaget kami, segera kami bersiap-siap menuju rumah duka, yang kebetulan berada satu kompleks dengan rumah kami, hanya beda blok, dan dalam waktu 5 menit kami sampai di rumah duka. Rupanya jenazah almarhum sedang dimandikan oleh para tetangga dipimpin oleh Uztad Lutfi. Dalam perjalanan menuju rumah duka, kami juga sempat memberi tahu beberapa teman mengenai kepergian alm Tio.

Suasana rumah duka masih sepi, hanya ada beberapa tetangga pria yang sedang memandikan jenazah, serta beberapa tetangga perempuan yang sedang menenangkan Hessy yang masih terlihat shock atas peristiwa ini. Menurut pengakuan beberapa tetangga, pagi-pagi tadi Mas Tio masih sempat menyapu halaman rumah dan mencuci mobil. Kejadiannya begitu cepat. Tidak diketahui secara persis penyebab meninggalnya Tio, walaupun ada dugaan mengalami serangan jantung, tetapi saya belum dapat informasi yang jelas. Begitulah, jika Yang Maha Kuasa Sang Pencipta sudah memutuskan kita harus menghadap-Nya, tidak ada yang sanggup mencegahnya. Pagi ini, rupaya Allah SWT memanggil Mas Tio untuk menghadap-Nya. Pagi itu, saya ikut serta bersama para tetangga untuk menyelenggarakan jenazah seperti yang disyariatkan oleh ajaran Islam.

Menjelang pemakaman dilakukan di siang harinya, ingatan saya kembali kepada tahun 2007, antara 3 – 4 tahun yang lalu. Saat itu sahabat kami, Hessy, yang kebetulan sama-sama berprofesi dengan isteri saya, Idrianita, sebagai dosen di Jurusan Akuntansi – Fakultas Ekonomi – Universitas Trisakti, meminta pendapat kami berdua. Kami sudah bersahabat baik dengan Hessy, dan saat itu sudah lebih dari 10 tahun, jadi mungkin Hessy juga sudah tidak sungkan-sungkan meminta pendapat kami untuk kondisi yang dia hadapi.

Apa yang sedang terjadi? Rupanya Hessy yang saat itu masih single, didekati oleh seorang pria, yang mengajaknya untuk serius sampai membangun rumah tangga. Apakah diterima atau tidak? Pria itu seorang duda yang sudah punya 2 anak perempuan yang sudah remaja. Menariknya, si pria ini mendekati Hessy melalui internet. Awalnya pria ini suka mengomentari tulisan-tulisan yang dibuat Hessy di blog pribadinya. Dari gayanya memberi komentar, terlihat si pria ini memiliki wawasan yang sangat luas, kemampuan menulis yang tinggi, karena kalimat-kalimatnya mengalir dengan teratur, dan sangat sopan. Saya memberi komentar yang singkat kepada Hessy saat itu, “He is a very smart guy, you can consider him“.

Belakangan kami mengetahui bahwa nama pria itu adalah Heru Suprantio, dan setelah ditelusuri melalui internet, ternyata beliau ini adalah salah satu wartawan senior di Indonesia, dan banyak meliput kegiatan olah raga, di samping berbagai kegiatan lainnya.

Ringkas cerita, akhirnya menjelang akhir tahun 2007, Hessy dan Tio pun menikah di Pekan Baru – Riau. Kami sekeluarga pun pergi ke Pekan Baru untuk menghadiri acara pernikahan mereka. Secara khusus Hessy dan Tio meminta kesediaan saya untuk menjadi saksi dalam akad nikah mereka, dan saya dengan senang hati tentu menerima tugas itu. Kami pun bahagia melihat Hessy dan Tio berbahagia di hari itu.

Setelah menikah, mereka tinggal satu kompleks dengan kami. Tetapi walaupun demikian, karena kesibukan masing-masing, kami jarang ketemu. Malahan saya lebih sering komunikasi dengan mereka, terutama Tio, melalui Facebook. Kami cukup sering berdiskusi mengenai berbagai hal, mulai dari hal-hal yang umum, tentang kepolisian, dan tentu saja sepakbola. Malahan Tio bercerita kepada saya mengenai kekisruhan yang terjadi di tubuh PSSI akhir-akhir ini, karena rupanya beliau juga ikut ke Malang waktu Kongres Sepakbola Indonesia diselenggarakan beberapa waktu yang lalu.

Hari ini, selasa siang, 8 Maret 2011, pukul 14 siang, jenazah alm Heru Suprantio disholatkan di sebuah musholla di dekat rumahnya, dan dimakamkan di pemakaman yang kebetulan juga dekat dengan rumahnya. Banyak para pelayat yang ikut mengantar ke tempat peristirahatan terakhir, para tetangga, para civitas akademika FE-Trisakti, para tokoh-tokoh dunia pers, serta para kerabat dan keluarga. Doa pun diucapkan untuk mengantar kepergian almarhum menghadap Sang Pencipta.

Kontak saya terakhir dengan almarhum adalah pada hari Minggu, tanggal 6 Maret 2011 atau 2 hari sebelum beliau wafat. Mas Tio meninggalkan sebuah komen di wall Facebook saya, isinya mengucapkan selamat kepada anak saya Raihan atas medali perunggu yang diperoleh pada Jakarta Tae Kwon Do Festival III 2011 yang lalu dan beliau berharap Raihan tahun depan dapat medali perak, dan terus medali emas …

Terima kasih banyak … selamat jalan Bro Tio … innalillahi wa inna ilaihi rojiuun.

(Berita mengenai meninggalnya beliau bisa dibaca juga di Harian Pelita, dan MetroTV).

8 responses

  1. Pak Riri, berikut adalah link tulisan yang saya copas dari Bapak. Terima kasih ya, Pak..

    http://harjakers.wordpress.com/2011/03/10/in-memoriam-heru-suprantio-selamat-jalan-bro-tio/

    1. terima kasih Mbak Nina …

  2. Saya adalah salah satu wartawan yang pernah dididik oleh Pak Tio. awal April 2004, saya bergabung dengan media cetak Harian Jakarta dan langsung dibawah bimbingan Pak Tio. Waktu itu beliau Redaktur Desk Investigasi. Meski saat itu saya sudah menjadi seorang penulis, rupanya dunia pers punya gaya tulisan berbeda. Pak Tio kemudian mengajari saya secara rinci dan sabar. Pembawaan beliau memang sangat humble, tidak pernah saya menyangka bahwa beliau adalah wartawan senior yang sudah keliling Asia pada usia 26, dan kemudian ke benua lain seiring kariernya sebagai wartawan olahraga. Seringkali saya mengetahui hal-hal hebat tentang beliau justru dari orang lain, bukan dari beliau sendiri. Lalu, dengan malu-malu beliau menunjukkan foto masa mudanya ketika sedang meliput ke luar negeri (saya lupa apa nama negaranya).

    Secara pribadi, beliau sangat enak diajak curhat, selalu memberi masukan yang memacu semangat. Secara profesi, tidak diragukan lagi integritas dan kapasitas beliau. Saya merasa sangat bersyukur bisa berguru pada beliau, karena hingga sekarang saya ketularan jadi wartawan “lurus” dan lugas, bahkan berani mengeluarkan buku (walau baru hasil karya ramai-ramai) adalah berkat encourage dari Pak Tio!

    Saya berharap, ketika suatu saat kontrak hidup saya berakhir, saya juga akan meninggalkan kesan seperti kesan yang ditinggalkan Pak Tio kepada kita semua: hangat, penuh keteladanan dan penghormatan..

    Oh ya, Pak Riri, mohon izin copy-paste tulisan ini untuk di blog kami. Saya akan cantumkan link-nya.. Terima kasih ya, Pak..

    Salam kenal, dan selamat untuk Raihan. Seperti kata Pak Tio, tahun depannya lagi perak, lalu emas. Betul-betul ciri khas Pak Tio, selalu meng-encourage tanpa memaksakan cepat-cepat berubah..🙂

    1. Ya, kita sepakat beliau orang baik dan sangat setia dengan profesinya .. buat saya pribadi, saya merasa kehilangan seorang sahabat baik, walaupun belum lama mengenalnya (hanya sekitar 3 tahun) …

      Salam kenal Mbak Nina .. terima kasih banyak atas komentarnya yang panjang … salam

  3. membaca tulisan ini kembali teringat sosok almarhum .. senyum khas dan sepertinya saya bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajah alamrhum saat menulis di wall FB bung Riri .. Vaya con dios Pak Tio..

    1. betul Mas … selalu tertawa dan gembira … well, kita memang kehilangan seorang sahabat, Mas …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s