SOCIAL MEDIA DAN DEMO TERHADAP PSSI

Kembali social media menunjukkan keampuhannya sebagai katalisator untuk membentuk suatu social capital, dalam kasus ini adalah demo besar-besaran yang dilakukan aliansi supporter sepak bola Indonesia ke kantor PSSI hari ini (Rabu, 23/02/11). Demo besar-besaran ini melibatkan berbagai kelompok supporter dan masyarakat ini memang sangat besar dalam sejarah sepak bola di negeri ini. Berita terakhir yang saya pantau saat membuat tulisan ini, sekitar 1.500 suporter yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia memasuki Stadion Senayan / Gelora Bung Karno.

Bagaimana konsentrasi massa ini bisa terjadi? Memang banyak hal yang bisa mempersatukan mereka. Mereka pasti diikat melalui suatu social capital yang tepatnya menurut saya adalah bridging social capital (lihat tulisan saya mengenai hal ini di sini). Tetapi yang menarik adalah, ternyata yang menjadi katalisator adalah social media, dalam hal ini yang dominan adalah twitter dan facebook, serta blog. Peran mobile communication seperti SMS dan BBM juga tidak bisa dianggap enteng untuk menjadi katalisator pembentuk massa ini. Jika kita buka timeline pada Twitter sejak kemarin, maka ajakan untuk berdemo ini sangat santer dan sangat banyak, demikian juga di Facebook. Salah satunya yang saya pantau adalah komunikasi antar kelompok suporter di Bogor, Bandung, Jakarta, Surabaya, dan Malang. Jangan anggap enteng Twitter!

Seperti yang pernah saya jelaskan pada kasus demonstrasi di Mesir pada blog inii, saya merujuk kepada tulisan “Analyzing The Social Capital Value Chain In Community Network Interfaces” yang merupakan hasil riset Chewar, McCrickard, dan Carroll, tahun 2005, yang dimuat pada jurnal Internet Research Vol. 15 No. 3, 2005 : 262-280. Mereka menyajikan sebuah model (lihat gambar di samping ini) di mana teknologi informasi mampu membentuk social capital. Pembentukan social capital dengan menggunakan teknologi informasi (termasuk internet) dilakukan dengan 4 (empat) tahap, yaitu activity notification atau tahap awal pengenalan, tahap sosialisasi atau social transluence, tahap menumbuhkan keinginan kolektif atau collective efficacy context, dan terakhir tahap melakukan tindakan kolektif atau distributed community activities.

Pada tahap awal, yaitu activity notification, sasarannya adalah terciptanya suatu kesepahaman bersama mengenai isu yang dibahas, terdapat keselarasan pembahasan antara di dunia virtual melalui internet (situs jejaring sosial) dengan dunia nyata, serta semakin lama semakin banyak kesepahaman yang terbentuk (improve synchronicity) atas berbagai isu. Sedangkan pada tahap kedua, yaitu social transluent, sasarannya adalah semakin banyaknya pihak yang menerima ide yang digulirkan dan mau terlibat dalam aksi nyata yang akan dilakukan. Jika fase dua dilakukan tanpa pematangan pada fase pertama, maka komunitas yang terbentuk bisa jadi terlibat dalam mendiskusikan isu yang digulirkan, tetapi tidak terdapat kesamaan visi dalam menyikapi isu dan manjalankan aksi nyata nantinya. Jika ini terjadi, maka proses ini akan terhenti pada tahap kedua tanpa ada kelanjutan pada fase ketiga.

Fase ketiga sudah mempertajam apa yang harus dilakukan dengan mempertajam tujuan kegiatan dan bahkan sampai menyusun rencana tindakan secara rinci. Fase ketiga hanya bisa ditempuh dengan baik kalau fase pertama dan kedua dilalui dengan baik. Fase keempat adalah fase implementasi kegiatan atau melakukan aksi nyata, sambil terus menjaga semangat interaksi melalui media internet. Dalam perjalanan implementasi, maka bisa saja muncul berbagai isu yang baru, dan siklus ini akan terus bergulir. Semua proses pada fase pertama sampai dengan fase keempat adalah proses pembelajaran kolektif. Proses ini jika dilakukan dengan baik, maka modal sosial akan terbentuk dengan difasilitasi oleh internet.

Wujud akhir dari suatu pembentukan social capital adalah kemampuan untuk melakukan aksi secara kolektif atau massal, tentu saja ada suatu agenda besar yang diperjuangkan bersama. Social media akan membantu untuk mempercepat proses ini melalui tahap-tahap yang dijelaskan di atas.

Well, ke manakah akhir dari kisruh PSSI ini? Kita tunggu saja.

Salam
Riri Satria

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s