TIGA TANTANGAN PROFESI TEKNOLOGI INFORMASI VERSI BETTI ALISJAHBANA

Pada acara wisuda Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Indonesia semester ini yang berlangsung hari Jum’at tanggal 4 Februari 2011, tampil Ibu Betti Alisjahbana (@BettiSA) yang memberikan graduation speech. Fasilkom-UI memang memiliki tradisi seperti itu, di mana pada setiap acara wisudanya, selalu diundang para tokoh dunia teknologi informasi di Indonesia untuk memberikan graduation speech ini, semacam sesi singkat untuk membuka wawasan dan pembekalan kepada wisudawan yang dilantik pada hari itu.

Jika melihat track record Ibu Betti ini, maka sudah selayaknya beliau tampil pada acara ini. Kenapa tidak? Berikut saya kutip informasi mengenai Betti Alisjahbana dari blog beliau sendiri :

Betti Alisjahbana telah lebih dari 20 tahun berkecimpung di dunia Teknologi Informasi dan memegang jabatan Presiden Direktur PT IBM Indonesia selama 8 tahun sejak 1 Januari 2000 sampai Desember 2007. Ia adalah wanita pertama di IBM Kawasan Asia Pasifik yang dipercaya untuk memimpin operasi IBM di suatu Negara. Betti memulai karinya di IBM pada tahun 1984 sebagai trainee. Ia telah menjabat berbagai posisi baik di Indonesia maupun di kawasan Regional ASEAN dan ASIA Selatan.

Sejak April 1 2008 Betti meninggalkan IBM untuk mendirikan dan memimpin PT Quantum Business International yang bergerak di Industri Kreatif. QB Leadership Center, QB Architects, QB Furniture dan QB IT Services adalah empat bisnis yang digelutinya kini.

Pada kesempatan memberikan graduation speech tersebut, beliau mengungkapkan 3 (tiga) tantangan dunia profesi teknologi informasi saat ini di Indonesia.

Tantangan pertama, bagaimana menghasilkan berbagai produk-produk teknologi informasi, terutama perangkat lunak, sebagai produk industri dalam negeri Indonesia. Jika dilihat dari sisi kompetensi, maka sebetulnya Indonesia tidak kekurangan tenaga ahli di bidang ini. Tetapi mengapa kita tidak mampu membangun industri perangkat lunak yang handal? Tantangan ini harus dijawab tidak hanya dengan mengandalkan kompetensi teknis di bidang TI, melainkan juga kompetensi untuk mengelola industri atau bisnis TI itu sendiri.

Tantangan kedua, bagaimana memanfaatkan TI untuk dapat memecahkan berbagai persoalan stratejik negara Indonesia ini. Sudah saatnya manajemen negara ini menggunakan teknologi modern untuk membangun good governance dan clean government. TI memiliki potensi untuk ikut serta memecahkan persoalan-persoalan seperti korupsi, penegakan demokrasi, dan sebagainya.

Tantangan ketiga, bagaimana menghasilkan para profesional TI yang tidak hanya mahir “berkomunikasi dengan teknologi”, melainkan juga mahir “berbicara dengan manusia”. Intinya adalah, bagaimana menghasilkan profesional TI dengan hard skills dan soft skills yang seimbang untuk mampu berkiprah di dunia industri TI saat ini dan ke depan.

Nah, buat saya, tantangan ketiga ini sangat menarik, karena jelas sekali Ibu Betti sebenarnya mengarahkan tantangan ini ke institusi pendidikan seperti Fasilkom-UI. Pertanyannya, di manakah proses mengasah soft skills ini dilakukan dalam kerangka kurikulum pendidikan di kampus? Setahu saya, ini selalu menjadi perdebatan, apakah ini merupakan suatu atau beberapa mata kuliah sendiri, atau suatu proses yang harus embedded di dalam setiap mata kuliah. Pertanyaan lebih lanjut adalah, bagaimana membangun soft skills mahasiswa kalau seandainya ternyata dosennya sendiri yang juga bermasalah soft skills-nya? … hehehehe …

Sayang sekali, waktu yang tersedia buat beliau untuk menyampaikan pemikirannya sangat terbatas, tetapi buat saya, apa yang disampaikan tersebut dangat menarik dan memang layak untuk dipikirkan bersama …

Salam
Riri Satria

21 responses

  1. Hmm,,, sebuah speech yang menggugah ^^

    1. iya .. setuju Mas … trima kasih🙂

  2. Menarik Pak.. terutama pernyataan terakhir. 🙂

    “Pertanyaan lebih lanjut adalah, bagaimana membangun soft skills mahasiswa kalau seandainya ternyata dosennya sendiri yang juga bermasalah soft skills-nya? … hehehehe …”

    Mungkin kudu lebih banyak dosen yang berkomunikasi lewat blog atau media lainnya kali yah Pak? Ya seperti Pak Riri, contohnya.

    1. soft skills itu lebih kepada human communications sih Mbak … justru lebih banyak materinya berkaitan dengan teamwork atau komunikasi antar manusia … kalau bisa unsur teknologi dikurangi lah untuk aspek ini …🙂

  3. hemm….mantap.., klo saya boleh nanya…gmn cara yang efektif pengenalan teknologi pada sekolah2 dasar / MI???apalagi yang pedesaan..rata2 mereka gaptek..thanks sebelumnya..

    1. bukannya karena gaptek itulah makanya diperkenalkan? … hehehehe … cara efektif? ya diajarkan … kalau untuk anak2 pendekatannya harus fun .. misalnya seperti game edukatif, itu adalah salah satu cara yg baik … terima kasih ..

  4. yang disutkan diatas merupakan sebagian tantangan yang ada dalam dunia TI pada khususnya dan dunia produksi kreatif pada umumnya.. nah kalo saya sering baca blognya Pak Riri.. mungkin Pak Riri bisa jelasin lebih banyak lagi tantangan di dunia TI di Indonesia

    1. mmmm … rasanya tidak juga … tantangan pertama, kayaknya berlaku untuk semua produk TI, mulai dari game kreatif sampai software untuk keselamatan / safety .. sementara tantangan kedua adalah hal-hal yang sangat serius untuk masalah negara … sedangkan tantangan ketiga, berlaku untuk semua profesional TI tetapi tentu saja dengan kadar yang berbeda-beda …

      mmmmm … pendapat saya .. nah, kapan-kapan deh saya tulis🙂

      terima kasih atas komentarnya …

  5. Saat ini kami sudah, sedang, dan akan menghasilkan produk TI terutama software dan akan ditambah hardware hasil karya putra – putri Indonesia, sudah digunakan di Indonesia dan di luar negeri.
    Tapi mereknya numpang bendera PMA, tai semoga bisa masuk dalam tantangan pertama.

    Produk TI di atas berkaitan dengan memecahkan masalah keselamatan yang sepertinya stratejik juga di negara ini. Semoga bisa masuk ke tantangan kedua.

    Berikutnya pengalaman kami, para lulusan TI kita masih lemah dalam dokumentasi, kurang taat dalam mengikuti proses, kurang mengenal software dependability, yang semuanya diutamakan dalam pengembangan software untuk sistem keselamatan, Kalau faktor – faktor ini bukan softskill ya ?

    1. Nah, kurang taat mengikuti proses ini yang termasuk soft skill .. kalau dalam bahasa softskill-nya adalah “attention to details” .. termasuk ke dalam “details” ini adalah tahapan-tahapan proses yang harus dilewati, apalagi kalau ini adalah software untuk sistem keselamatan, bukan hanya game kreatif .. terima kasih atas komentarnya …

  6. Wah komentar di atas kok seolah-olah menyiratkan bahwa MKOM “di bawah” MTI karena “dianggap” kurang porsi softskill-nya.😦

    1. maksud saya komentarnya Mas Wibi

    2. maksudnya komentar di bawah mungkin ya Mas Adila … hehehehe … saya juga komentarin tuh pendapat Wibi ..

    3. iya mas itu hanya kesan saya yang belum pernah kuliah di MKOM, kesan itu muncul karena melihat perbedaan komposisi kurikulum untuk MKOM dan MTI, salah satu fakta yang bisa saya ungkapkan adalah MTI punya dosen seperti pak Riri yang pada saat mengajar banyak meng-encourage softskill lewat diskusi kelompok yang saya kira akan lebih mungkin dilakukan untuk topik bahasan manajemen atau strategi ketimbang misalnya untuk topik bahasan algoritma teknik enkripsi

      tapi bayangan saya itu sangat mungkin tidak tepat, karena bisa saja apa yang terjadi didalam MKOM sangat berbeda

  7. Dari pengalaman saya bersekolah di Belanda, proses yang embedded di dalam setiap perkuliahannya adalah cara yang lebih efektif untuk mengasah soft skills para mahasiswa. Mulai dari hal2 yang sederhana seperti teamw rok assignments, assignments results presentations, etc.

    1. iya … dan tentu saja setiap dosen juga harus memiliki kapasitas untuk mengembangkan soft-skills mahasiswa .. maka pasti persyaratan jadi dosen sangat tinggi, di mana soft-skills pasti jadi faktor yang dipersyaratkan ..

      terima kasih atas komentarnya …

  8. bersukur saya di MTI yang porsi softskill nya lebih banyak dibanding MKOM… hehehe

    1. hehehe .. dari mana Wibi bisa memberi komentar seperti itu? .. how do you know? ..kecuali Wibi sangat mengenal program M.Kom sehingga bisa membandingkannya dengan MTI .. soalnya begini, saya seorang dosen MTI bahkan tidak mengenal proses belajar-mengajar di M.Kom …

      Dalam menarik kesimpulan setidaknya kita harus memiliki 3 hal, yaitu (1) fakta yang cukup, (2) kerangka konseptual yang relevan, serta (3) metode berpikir yang relevan .. jika ketiganya sudah dipergunakan, maka barulah kesimpulan kita bisa dianggap valid … hehehehe

      anyway, terima kasih atas komentarnya Wibi ..

      1. hehe… iya pak saya hanya berasumsi bahwa dengan kurikulum mti lebih banyak manajemen maka lebih banyak softskill yang dilibatkan🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s