DOKTRIN PERANG DAN BISNIS : RELEVANKAH?

Pada suatu kesempatan ngobrol dengan beberapa pejabat tinggi militer di negara ini, saya mendapatkan ilmu baru, ya tentu saja mengenai perang, namanya juga ngobrol dengan petinggi militer. Saya mencoba untuk menyimpulkan hasil ngobrol ringan tersebut dan mengasosiasikannya dengan dunia saya, yaitu dunia manajemen dan strategi bisnis.

Rupanya setidaknya ada 4 (empat) doktrin militer yang ada di dunia ini, yaitu (1) pre-emptif, (2) preventif, (3) defensif, serta (4) gerilya.

Doktrin pre-emptif mengatakan bahwa kita harus menghancurkan musuh di tanah musuh itu sendiri, sebelum musuh itu menjadi kuat dan menyerang kita. Doktrin ini memang bersifat agresif, yaitu menghancurkan pihak lain di tanahnya sendiri, karena dicurigai akan membahayakan kita. Amerika Serikat adalah salah satu negara yang menganut doktrin ini, makanya negara ini sering memerankan dirinya sebagai “polisi dunia”. Jika ada kekuatan militer negara lain yang tumbuh menjadi kuat, maka pasti AS akan berupaya untuk “melemahkannya”, baik dengan cara yang “lunak” seperti diplomasi, “moderat” dengan berbagai tekanan dan embargo, sampai dengan yang “keras” dalam bentuk agresi militer. Doktrin perang yang pre-emptif sangat membutuhkan operasi intelijen yang sangat akurat, karena jika informasi intelijen yang diperoleh itu keliru dan membuat operasi militer salah sasaran, maka kecaman yang bertubi-tubi akan diterima. Jadi, doktrin pre-emptif sifatnya adalah menghacurkan potensi ancaman sebelum ancaman itu sempat terjadi.

Doktrin preventif mengatakan bahwa kita harus menghancurkan musuh dalam perjalanannya menuju wilayah kita. Ini berarti sudah ada suatu gerakan yang mengancam yang terjadi dan bukan hanya sekedar potensi. Biasanya musuh dihancurkan melalui serangan udara atau pertempuran di lautan sebelum menyentuh tanah wilayah kita. Jika perang terjadi dengan negara yang memiliki perbatasan darat dengan kita, maka musuh dihancurkan di wilayah musuh yang menjadi jalan menuju wilayah kita. Hampir semua negara dengan kekuatan militer yang cukup, memiliki doktrin seperti ini. Jadi, doktrin preventif sifatnya menghancurkan gerakan agresi musuh di perjalanan sebelum mencapai tanah wilayah kita.

Doktrin defensif mengatakan bahwa kita menghancurkan musuh begitu dia memasuki wilayah kita. Ini biasanya dilakukan oleh negara-negara yang tidak memiliki kekuatan militer yang cukup untuk menghadang musuh di perjalanan. Jadi, musuh ditunggu sampai di tanah wilayah kita, baru kita lawan. Doktrin militer defensif ini biasanya juga melibatkan masyarakat sipil dalam peperangan jika diperlukan. Jadi doktrin ini sifatnya mempertahankan diri dari serangan musuh dan tidak ada niat untuk melakukan tindakan agresif ke tanah wilayah orang lain.

Jepang adalah sebuah negara yang sudah mengalami metamerfosis dalam doktrin perang ini. Menjelang perang dunia kedua, Jepang adalah suatu negara dengan doktrin militer pre-emptif. Hal ini diperlihatkan sewaktu Jepang menyerbu pangkalan militer AS di Pearl Harbor – Hawaii, padahal saat itu Jepang dan AS tidak sedang berada dalam peperangan. Tetapi Jepang merasa pangkalan militer AS di sana merupakan ancaman, dan mereka menjalankan doktrin pre-emptifnya. Tetapi setelah kalah pada perang dunia kedua, militer Jepang mengibah doktrinnya menjadi defensif yang dikenal dengan istilah “Pasukan Bela Diri”. Tetapi perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan bahwa Jepang sudah mampu menjalankan doktrin preventif.

Doktrin gerilya adalah doktrin militer yang sangat menarik. Doktrin mengatakan bahwa kita akan menghancurkan musuh setelah musuh sampai di tanah wilayah kita, dan kita teror musuh secara terus-menerus sehingga musuh merasa gerah dan akhirnya pergi meninggalkan tanah wilayah kita. Doktrin seperti ini biasanya dianut oleh negara yang tidak memiliki kekuatan militer laut dan udara. Kekuatan militer hanya ada pada angkatan darat, itu pun dengan peralatan tempur yang minim, sehingga kekuatan terletak kepada kemampuan prajurit infrantri yang terlatih tetapi minim alutsista (alat utama sistem pertahanan) dan tentu saja teknologi. Doktrin gerilya ini memang memberikan kesengsaraan kepada rakyat atau masyarakat, tetapi biasanya juga, rakyat atau masyarakat itu juga bagian dari peperangan gerilya itu sendiri. Indonesia pernah menjalankan perang seperti ini pada perang pasca proklamasi RI melawan agresi Belanda.

Nah, sekarang coba kita asosiasikan dengan dunia bisnis. Saya sendiri adalah termasuk orang yang tidak setuju bisnis itu dijalankan dengan doktrin-doktrin yang mirip militer karena nuasanya berbeda. Tetapi pada praktiknya, saya mengamati banyak sekali praktik bisnis dilakukan dengan mengadopsi doktrin-doktrin militer. Misalnya, pada kasus LPI (Liga Primer Indonesia), kelihatan sekali PSSI mencoba untuk menjalankan doktrin pre-emptif sebelum LPI itu lahir dan dibentuk. Berbagai “serangan” diarahkan ke LPI oleh PSSI sebelum “tanah wilayah” PSSI yaitu sepakbola diduduki oleh LPI. Tetapi serangan pre-emptif ini ternyata gagal dan ternyata LPI bergulir juga. Serangan lanjutan dalam bentuk “meminjam tangan FIFA”. Apakah ini akan berlanjut sampai dengan gerilya? Mungkin saja. Bisa jadi lama-kelamaan terjadi konflik di tubuh LPI akibat serangan gerilya PSSI, siapa tahu?

“Peperangan” juga bisa kita amati dalam bisnis telekomunikasi. Iklan-iklan operator telekomunikasi saat ini sudah saling menyerang satu dengan yang lain, mulai dengan menyindir tokoh iklan pesaing, sampai dengan menyindir produk pesaing, bahkan menampilkan tokoh yang mirip dengan tokoh iklan pesaing tetapi dalam posisi yang “kalah”. Kesannya ini adalah “perang kreativitas”, tetapi menurut saya sesungguhnya ini adalah representasi “pertempuran bisnis” yang terjadi yang muncul ke permukaan (observed). Kita pasti sulit mendeteksi “peperangan” yang terjadi “di bawah tanah”, tetapi rasanya “peperangan” itu terjadi.

Saya suka mengibaratkan bisnis itu ibarat pertandingan. Paradigma yang pertama adalah paradigma kumite atau peperangan, di mana untuk meraih kemenangan, kita harus membuat lawan kita itu semaput alias KO. Sementara itu, paradigma kedua adalah paradigma Rally Paris-Dakkar, di mana walaupun mereka bersaing, tetapi jika ada peserta yang mobilnya terbalik di perjalanan, maka peserta lain akan membantunya, dan kemudian pertandingan dilanjutkan. Pada paradigma ini, persaingan adalah suatu bentuk interaksi pelaku dengan pasar, sementara pada paradigma kumite (yang sama dengan perang) persaingan adalah suatu bentuk interaksi antar pelaku bisnis. Batas kedua hal ini memang sangat tipis dan susah dibuat suatu garis batas yang jelas.

Jadi, apakah doktrin perang itu relevan dengan dunia bisnis? Bagaimana pendapat anda?

Salam
Riri Satria

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s