PERILAKU KERJA NON-PRODUKTIF DALAM ORGANISASI

Ini adalah topik obrolan dengan beberapa pejabat tinggi di lingkungan Polri mengenai perilaku kontra-produktif di dalam organisasi yang harus diwaspadai oleh setiap organisasi, termasuk di lingkungan Polri. Dalam teori organisasi, kinerja yang tinggi ditentukan oleh banyak variabel, dan salah satunya adalah variabel perilaku individu dalam bekerja. Nah, jika kita memahami konsep kompetensi, maka kita tahu bahwa perilaku (attitude) adalah salah satu komponen dalam kompetensi. Komponen kompetensi lainnya adalah pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skills). Selain kompetensi, juga terdapat variabel lainnya, seperti motivasi.

Setidaknya, ada 3 (tiga) perilaku kontra-produktif dalam bekerja (work attitude) di dalam organisasi yang harus diwaspadai. Ketiga perilaku tersebut adalah (1) perilaku kerja simbolik, (2) perilaku kerja minimalis, serta (3) perilaku kerja individu atau sektoral.

Perilaku kerja simbolik adalah suatu perilaku dalam bekerja yang hanya bertujuan untuk memuaskan atasan atau pihak lain, sementara kondisi sebenarnya berbeda dengan yang dilaporkan. Perilaku ini lebih mementingkan hal-hal yang sifatnya seremonial, tetapi substansi pekerjaan cenderung kurang mendapat perhatian. Pengertian seremonial di sini sangat luas, mulai dari sekedar menyenangkan atasan, sampai dengan sekedar menyenangkan masyarakat banyak melalui simbol-simbol yang tidak relevan dengan substansi pekerjaan. Tujuan pekerjaan hanyalah untuk memperoleh pengakuan simbolik, bukanlah untuk mengukir prestasi dalam kerangka tugas pokok yang sesungguhnya. Misalnya, kita telah menyelenggarakan program pembenahan perilaku dengan pelatihan spirituality quotient, dan itu pelaksanaan pelatihannya yang ditonjolkan, bukanlah dampak dari pelatihan itu sendiri yaitu apakah sudah terjadi perubahan perilaku atau belum. Inilah yang dimaksud dengan perilaku kerja simbolik.

Nah, perilaku kerja simbolik ini terbentuk karena atasan jarang “turun ke bawah” untuk melakukan pengawasan sehingga tidak mengetahui persis apa yang terjadi “di lapisan bawah”. Atasan cenderung langsung percaya dengan semua laporan yang masuk tanpa melakukan analisis lebih mendalam. Perilaku atasan seperti itu akan menimbulkan perilaku kerja simbolik pada bawahan, karena mereka tahu bahwa atasan “bisa dikibuli dengan laporan yang bagus-bagus saja”. Dengan demikian, atasan perlu untuk sering “turun ke bawah” untuk mencegah atau mengurangi perilaku kerja simbolik ini. Saya pernah menulis perilaku simbolik ini dalam skala yang lebih luas yaitu budaya simbolik (lihat di sini).

Perilaku kerja yang kedua yang kontraproduktif adalah perilaku kerja minimalis, yaitu suatu perilaku kerja yang tidak menghasilkan kerja yang tinggi, melainkan kerja yang seadanya, alias minimalis. Prinsip perilaku ini adalah kerja seadanya tanpa ada suatu keinginan untuk memberikan yang terbaik dengan mengerahkan segala daya upaya. Meminjam istilah Jim Collins dalam teori good to great, perilaku kerja orang-orang seperti ini tidak menggambarkan BHAG (big hairy audacious goals) yang dibutuhkan untuk berkinerja tinggi.

Mengapa perilaku kerja minimalis muncul? Penyebabnya ada 2 (dua) kemungkinan, yaitu (1) kurang kompeten, sehingga tidak mampu menghasilkan kinerja yang tinggi, atau (2) tidak memiliki kemauan untuk menghasilkan kinerja yang tinggi, biasanya karena tidak ada motivasi. Jadi, pengembangan kompetensi dan peningkatan motivasi sangat diperlukan untuk mencegah atau mengurangi perilaku kerja minimalis ini.

Perilaku kerja kontra-produktif yang terakhir adalah perilaku kerja sektoral yang sangat bertentangan dengan semangat teamwork atau sinergi. Perilaku kerja sektoral adalah suatu perilaku di mana orang-orang bekerja dengan saling penuh curiga, hanya ingin memajukan individu atau kelompoknya semata, dan tidak ada keinginan untuk mencapai kinerja yang tinggi secara organisasional.

Mengapa perilaku kerja individu atau sektoral ini muncul? Jawabannya adalah karena persaingan yang tidak sehat di dalam organsiasi. Masing-masing individu berlomba-lomba untuk unjuk kemampuan, tetapi tidak membangun sinergi. Padahal, berbagai persoalan yang dihadapi oleh organisasi membutuhkan pemecahan yang sifatnya holistik dan komprehensif, di mana ego sektoral harus disingkirkan. Pada perilaku kerja seperti ini, kesadaran akan pentingnya teamwork dan sinergi di dalam organisasi atau bahkan antar-organisasi harus dibangun.

Masih ada lagi perilaku kerja kontra-produktif lainnya, tetapi ketiga perilaku yang di atas itu yang dominan terjadi di dalam organisasi. Ada suatu perilaku pamungkas yang bisa menekan ketiga perilaku negatif di atas berkembang di dalam organsiasi, yaitu gaya kepemimpinan keteladanan atau leading by example yang ditunjukkan oleh atasan. Para atasan harus menunjukkan perilaku kerja yang produktif, yaitu tidak hanya simbolik, menghasilkan kinerja yang optimal dan tidak hanya minimal, serta membangun teamwork dan sinergi dengan pihak lain.

Salam
Riri Satria

8 responses

  1. thx atas tulisanya mas… sgt membantu

  2. Perilaku kontra produktif bisa juga di akibatkan karena leading by example yang ditunjukkan pemimpinnya, karena baik disadari maupun tidak, karakter pemimpin akan berpengaruh pada bagaimana dia menjadi teladan bagi bawahannya,

    1. iya, leading by example dalam pengertian yang negatif ya Bu .. benar juga … jadi example itu memang bisa positif, bisa negatif juga … terima kasih atas komentarnya Bu ..

  3. jdi kpngen belajar lebih banyak ni.. !! makasih ya ud shering sangat membantu sekali.. s

    1. terima kasih kembali … semoga bermanfaat ..

      1. saya ingin belajar lebih banyak lagi tentang kontraproduktif pak, tetapi saya kesulitan untuk mencari referensinya pak,, bisa share juga tentang referensi bukunya apa aja gak pak?
        terima kasih sebelumnya…🙂

  4. Tulisan yang sangat menarik pak…
    Leading by example…. saya setuju hal tersebut dapat menekan perilaku negatif tersebut…. dimana pemimpin tidak hanya secara simbolik saja atau hanya sekedar berada di level pemegang posisi penting saja, tapi memiliki produktifitas yang tinggi dan kinerja yang optimal dan tentunya disegani sehingga setiap orang di dalam organisasinya tersebut mau ikut berubah menjadi lebih baik.

    Salam

    Bambang Warsuta

    1. Betul Mbang .. kuncinya adalah leading by example … terutama di masyarakat yang masih butuh panutan seperti kita di Indonesia ini …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s