SOCIAL MEDIA : MUSUH REZIM MESIR SAAT INI

Ternyata social media merupakan salah satu garda depan yang memicu terjadi gelombang unjuk rasa terhadap kepemerintahan Presiden Hosni Mubarak untuk perbaikan sosial di Mesir. Setidaknya itulah yang dilaporkan oleh CNN (lihat beritanya di sini). Memperkuat argumen tersebut, media massa hari ini (29/01/11) memberitakan bahwa di Mesir saluran telepon seluler dan internet sudah dimatikan (lihat beritanya di Republika). Bahkan para jurnalis berkesimpulan bahwa internet, terutama social media, sudah tidak lagi dianggap ancaman bagi rezim pemerintah Mesir saat ini, melainkan sudah dijadikan musuh (lihat beritanya di VivaNews). Dua situs social media besar di dunia, yaitu Facebook dan Twitter sudah diblokir di Mesir.

Konon salah satu garda depan itu adalah sekelompok anak muda yang tergabung dalam kelompok “6 April Movement” yang menggunakan social media seperti Blog, Facebook, dan Twitter sebagai media komunikasi, sosialisasi, koordinasi, penggalangan, serta hubungan masyarakat. Dengan demikian, salah satu aktor pemicu gelombang unjuk rasa di Mesir saat ini adalah para blogger yang senantiasa menyuarakan pemikirannya untuk perbaikan sosial. Tentu saja suara para blogger tidak berdiri sendiri, karena untuk menjadi sebuah aksi sosial yang demikian masif, diperlukan sinergi dengan berbagai pihak lain.

Dalam teori ilmu sosial, apa yang dilakukan oleh para blogger ini dikenal dengan istilah social capital atau modal sosial. Saya pernah menulis tentang modal sosial pada blog ini, lihat di sini dan juga di sini.

Bagaimana penjelasannya? Salah satu literatur yang saya rujuk untuk keperluan disertasi doktor saya yang juga mengambil topik tentang social media dan social capital adalah tulisan “Analyzing The Social Capital Value Chain In Community Network Interfaces” yang merupakan hasil riset Chewar, McCrickard, dan Carroll, tahun 2005, yang dimuat pada jurnal Internet Research Vol. 15 No. 3, 2005 : 262-280. Mereka menyajikan sebuah model (lihat gambar di samping ini) di mana teknologi informasi mampu membentuk social capital. Pembentukan social capital dengan menggunakan teknologi informasi (termasuk internet) dilakukan dengan 4 (empat) tahap, yaitu activity notification atau tahap awal pengenalan, tahap sosialisasi atau social transluence, tahap menumbuhkan keinginan kolektif atau collective efficacy context, dan terakhir tahap melakukan tindakan kolektif atau distributed community activities.

Pada tahap awal, yaitu activity notification, sasarannya adalah terciptanya suatu kesepahaman bersama mengenai isu yang dibahas, terdapat keselarasan pembahasan antara di dunia virtual melalui internet (situs jejaring sosial) dengan dunia nyata, serta semakin lama semakin banyak kesepahaman yang terbentuk (improve synchronicity) atas berbagai isu. Sedangkan pada tahap kedua, yaitu social transluent, sasarannya adalah semakin banyaknya pihak yang menerima ide yang digulirkan dan mau terlibat dalam aksi nyata yang akan dilakukan. Jika fase dua dilakukan tanpa pematangan pada fase pertama, maka komunitas yang terbentuk bisa jadi terlibat dalam mendiskusikan isu yang digulirkan, tetapi tidak terdapat kesamaan visi dalam menyikapi isu dan manjalankan aksi nyata nantinya. Jika ini terjadi, maka proses ini akan terhenti pada tahap kedua tanpa ada kelanjutan pada fase ketiga.

Fase ketiga sudah mempertajam apa yang harus dilakukan dengan mempertajam tujuan kegiatan dan bahkan sampai menyusun rencana tindakan secara rinci. Fase ketiga hanya bisa ditempuh dengan baik kalau fase pertama dan kedua dilalui dengan baik. Fase keempat adalah fase implementasi kegiatan atau melakukan aksi nyata, sambil terus menjaga semangat interaksi melalui media internet. Dalam perjalanan implementasi, maka bisa saja muncul berbagai isu yang baru, dan siklus ini akan terus bergulir. Semua proses pada fase pertama sampai dengan fase keempat adalah proses pembelajaran kolektif. Proses ini jika dilakukan dengan baik, maka modal sosial akan terbentuk dengan difasilitasi oleh internet.

Literatur lain yang saya rujuk ternyata berkaitan dengan Mesir, yaitu “Revolutions Without Revolutionaries? Network Theory, Facebook, and the Egyptian Blogosphere” yang merupakan hasil penelitian Faris tahun 2008, dan dimuat dalam jurnal Arab Media and Society edisi September, 2008. Faris meneliti dampak internet terhadap pembentukan social capital di Mesir menyimpulkan bahwa internet (dalam hal ini aplikasi jaringan sosial yaitu blog dan Facebook) ternyata mampu memainkan peranan besar.

Modal sosial yang terbentuk terlihat jelas pada tiga hal, yaitu (1) mengurangi biaya transaksi antar warga negara. Dengan ketersediaan informasi yang disebarkan secara voluntir melalui internet, maka masyarakat mampu mengetahui informasi berkaitan dengan suatu barang atau jasa, sehingga mengurangi biaya transaksi. Lalu (2) mengurangi kesenjangan sosial, di mana dengan ketersediaan internet sebagai media untuk lalu lintas informasi, maka kesenjangan sosial dalam pengertian tersendatnya aliran informasi antar komunitas sosial bisa diatasi, dan keeratan sosial (social integration) menjadi terbentuk lebih baik. Terakhir (3) menciptakan pengawasan terhadap pemerintah yang ada. Ini merupakan suatu bentuk political actions untuk social capital.

Well, jangan-jangan, inilah sebabnya mengapa Menteri Pertahanan RI beberapa hari yang lalu mengeluarkan pernyataan bahwa social media ini merupakan suatu bentuk ancaman baru yang non-militer untuk kedaulatan negara.

Bagaimana menurut Anda?

Salam
Riri Satria

7 responses

    1. silakan … terima kasih karena sudah mampir .. salam kenal🙂

  1. […] yang pernah saya jelaskan pada kasus demonstrasi di Mesir pada blog inii, saya merujuk kepada tulisan “Analyzing The Social Capital Value Chain In Community Network […]

  2. topik yang ramai dibahas di forum #gov2: apakah social capital yang dimulai dari tahap satu itu memprasyaratkan demokrasi atau tidak?

    1. jika suasananya lebih demokratis, dugaan saya, prosesnya akan lebih cepat … tetapi perlu penelitian lebih lanjut nih kayaknya🙂

  3. Saya malah tertarik dengan informasi dari sini pak riri,
    http://blogs.wsj.com/digits/2011/01/28/how-egypt-killed-the-internet/
    Sedemikian khawatir nya pemerintah mesir pada saat ini dengan internet.

    1. iya sih … ternyata powerful sekali ya Mas …🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s