MASIH TENTANG CRACKING ZONE : CRACKER LEADERSHIP

Setelah menyimak uraian Prof. Rhenald Kasali tentang cracking zone sebelumnya pada Rapat Pimpinan (Rapim) Polri minggu yang lalu (20/01/11), maka tadi (25/01/11) saya mengikuti acara diskusi dengan topik sejenis yang diselenggarakan oleh Obrolan Langsat bertempat di markas mereka di Jalan Langsat – Jakarta. Tentu saja kali ini suasananya jauh lebih santai, dan interaksi dengan Pak Rhenald pun lebih intensif melalui sesi tanya jawab. Acara ini dimoderatori oleh Ndoro Kakung Wicaksono yang membuat suasana tetap segar.

Rupanya istilah cracker bukanlah sekedar gaya leadership di tingkat organisasi, melainkan suatu kemampuan untuk membuat terobosan pada tingkat industri, sehingga mengubah “aturan main” industri yang selama ini diyakini modelnya. Ini berarti, cracker mengubah model dan struktur industri, serta memaksa para pemain lain di industri tersebut mengikuti suatu “aturan main” baru dalam persaingan bisnis. Prof. Rhenald mendefinisikan leader sebagai orang yang mampu membuat terobosan pada tingkat organisasi, sedangkan cracker pada tingkat yang lebih tinggi, yaitu industri. Misalnya, konsep low-cost airline betul-betul mengubah model dan struktur industri penerbangan, dan bahkan memberikan dampak kepada industri lain seperti bis, kereta api, dan kapal pengangkut penumpang. Mungkin bisnis shuttle Jakarta – Bandung seperti Cipaganti pun adalah suatu bentuk crack, karena sanggup membuat pemain yang sudah lama seperti Taxi 4848 tersingkir, dan bahkan kereta api Parahyangan pun terpaksa berhenti beroperasi.

Seorang cracker biasanya menemui banyak tantangan, tidak hanya di internal organisasinya, justru yang paling besar adalah di luar organisasinya, misalnya seperti dari pemain yang lain, atau bahkan dari masyarakat luas. Keberadaan Lion Air sebagai low-cost airline pertama di Indonesia pada awalnya mendapat kecaman, terutama dari para pemain lain. Tetapi Rusdi Kirana (CEO Lion Air) dengan konsep low-cost air airline-nya tetap jalan terus, dan akhirnya benar-benar mengubah model dan struktur industri penerbangan di Indonesia. Bisa dikatakan bahwa Rusdi Kirana bukan sekedar seorang leader, melainkan seorang cracker (dalam definisi Prof. Rhenald).

Pada institusi pemerintahan, NKRI ini memang membutuhkan para cracker yang sanggup melakukan perubahan pada skala makro untuk membawa negara ini menjadi lebih baik. Indonesia adalah negara yang kaya dengan sumber daya alam, dan bahkan kemampuan sumber daya manusia Indonesia pun tidak kalah dengan negara maju. Lantas apa yang salah? Ibarat membangun rumah, bahan bangunannya sudah oke, tetapi mungkin manajemen proyeknya yang tidak pas, sehingga hasil bangunan rumahnya pun tidak optimal.

Berkali-kali Prof. Rhenald menyebutkan kecepatan sebagai salah satu ciri khas cracker, lebih tepatnya kecepatan dalam bertindak, dan tidak hanya berhenti dalam berwacana. Tetapi bukan berarti berwacana itu salah, tidak! Berwacana itu penting sebagai suatu landasan berpikir atau mencari suatu pemikiran yang tajam, tetapi jangan berlama-lama, karena yang terpenting adalah eksekusi yang cepat dan tepat dari wacana tersebut.

Well, menarik bukan?

Salam
Riri Satria

NB : catatan pertama saya tentang cracking zone bisa dilihat di sini.

5 responses

  1. […] kita mengenal nama Rhenald Kasali dari Universitas Indonesia dengan pemikiran change DNA serta cracking zone yang sudah beliau tulis dalam bentuk buku. Biasanya pemikiran para university professors ini berada […]

  2. hmmm …

    Orang manado bilang: “okey brur Riri, so pasti kita mo BACA tu buku … ”

    :D:D:D

  3. Wah, bahasan yang “baru” dan menarik …

    hmm, Pak Riri megang buku-nya ya … semoga dalam waktu dekat buku-ny bisa “tiba” di Manado.

    jadi, “kecepatan” dalam bertindak adalah unsur penting sebagai seorang “cracker”. tapi bukankah seorang “cracker” juga harus dapat menemukan “path” untuk bisa di-exploit (saya melihatnya dari sudut pandang security).

    Pak Riri, apa ada “kesamaannya” dengan konsep “blue ocean strategy”?

    1. Stanley, saya melihat ada kemiripan konsep cracking ini dengan blue ocean strategy, karena dalam blue ocean strategy kita juga diajak berpikir beyond the existing industry boundary … well, ini buku yg kayaknya harus dibaca nih Stanley … cheers

  4. […] Pendidikan ← CURHAT PRESIDEN SBY TENTANG GAJI PRESIDEN MASIH TENTANG CRACKING ZONE : CRACKER LEADERSHIP → […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s