DARI RAPIM TNI-POLRI 2011

Minggu yang lalu, saya berkesempatan mengikuti Rapat Pimpinan (Rapim) TNI-Polri, dimulai dengan Rapim Internal Polri selama 2 (dua) hari (19-20/01/11), lalu dilanjutkan dengan Rapim Gabungan TNI-Polri selama satu hari (21/01/11). Nah, pada Rapim Gabungan TNI-Polri yang berlokasi di Balai Samudera – Kelapa Gading inilah terjadi cerita Presiden SBY “curhat” tentang gaji Presiden (tulisannya bisa dibaca di sini). Khusus untuk Rapim TNI, saya tidak mengikutinya, karena dilaksanakan paralel dengan Rapim Polri, dan saya saat itu berada di acara Rapim Polri bertempat di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK, dulu bernama PTIK atau Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian).

Jujur saja, tidak banyak hal baru yang dibahas dalam Rapim Polri tersebut. Hal yang menarik disampaikan oleh Itwasum Polri, Komjen. Pol. Nanan Sukarna mengenai paradigma baru pengawasan di institusi Polri. Pak Nanan mengungkapkan paradigma baru internal audit yang bergeser dari “memeriksa dan menemukan kesalahan” menjadi “konsultan internal untuk quality assurance“. Pada tataran konsep ini memang bagus, karena memang paradigma internal audit di dunia ini sedang mengalami perubahan, tetapi pada tataran pelaksanaan, saya khawatir semua ini masih dalam fase wacana yang belum siap untuk diimplementasikan. Tetapi walaupun demikian, sebagai sebuah wacana baru yang dibuka di lingkungan Polri, ini tetap adalah hal yang menarik (setidaknya buat saya yang mengamati dari luar).

Hal menarik lainnya adalah berkaitan dengan sistem penempatan dan promosi, di mana Polri akan menerapkan uji kompetensi (pengetahuan, keterampilan, dan perilaku) untuk proses penempatan, apalagi promosi. Mabes Polri sudah membangun sebuah assessment center, dan siap untuk mengemban tugas uji kompetensi tersebut, terutama untuk jabatan stratejik, sehingga bisa mencapai cita-cita put the right person in the right place. Sekali lagi, buat saya ini menarik, karena secara konseptual, ini adalah suatu terobosan untuk institusi seperti Polri. Sebagai masyarakat, tentu saya berharap ini benar-benar dilaksanakan secara benar dan konsekuen.

Pemikiran yang menarik lainnya diungkapkan oleh Prof. Rhenald Kasali dari FEUI, yang menjelaskan konsep cracking zone, yaitu sebuah fase di mana kita sedang mengalami masa peralihan menuju era baru yang ditandai oleh perkembangan teknologi informasi serta kelancaran dan keterbukaan informasi. Khusus untuk cracking zone ini saya tulis di sini. Intinya Pak Rhenald men-challenge Polri apakah bisa melewati cracking zone ini dan menuju budaya yang baru. Beliau memperkenalkan 3 (tiga) jenis budaya organisasi, yaitu self-inward culture, service culture, dan new-age culture. Nah, tantangan Polri untuk berpindah menuju service culture secara lebih komprehensif.

Jika kita berpikir Rapat Pimpinan ini adalah sebuah rapat yang kita kenal di mana penuh dengan diskusi dan perdebatan, maka siap-siaplah untuk kecewa. Mengapa? Karena semua hal itu tidak terjadi selama Rapim berlangsung. Suasananya mirip dengan mendengarkan seminar, di mana para narasumber atau pembicara silih berganti melakukan paparan dan para hadirin duduk dengan manis mendengarkan walaupun sekali-sekali ada tanya jawab juga. Forum ini lebih tepat disebut sharing sessions, di mana setiap pembicara sharing pemikiran dan langkah-langkah yang dilakukan.

Tetapi berdasarkan informasi yang saya peroleh, forum ini memang lebih banyak bertujuan untuk forum konsolidasi atau koordinasi ketimbang diskusi atau perdebatan. Mungkin ada benarnya, soalnya tidak mudah mengumpulkan semua perwira tinggi Polri pada satu saat, apalagi jika digabung dengan TNI. Well, secara teori organisasi, hal itu masih bisa diterima, karena memang forum seperti ini juga penting, tetapi kapan forum diskusi dan perdebatan itu dilakukan? Mungkin semua sudah dilakukan sebelum Rapim, saya juga tidak mengetahui dengan persis.

Anyway, sebagai rakyat, saya tetap berharap kedua institusi ini, TNI dan Polri tetap kuat, karena suka tidak suka, sebuah negara memerlukan tentara untuk pertahanan negara dan polisi untuk keamanan. Secara institusi, keduanya harus kuat, dan kalau ada sisi jeleknya, maka oknumnya yang harus dibereskan, jangan institusinya dilemahkan. Menurut saya, kita harus bisa memisahkan antara institusi dan personel yang mengawaki.

Kita awasi mereka, kita kritisi mereka, kita berikan saran yang konstruktif, dan kita bantu mereka, dan jauhkan mereka dari kepentingan politik praktis.

Tetap jaya TNI dan Polri

Salam
Riri Satria

6 responses

  1. […] ketiga kalinya, saya terlibat dalam Rapat Pimpinan (Rapim) Polri (lihat yang pertama di sini). Status resmi saya pada ketiga Rapim Polri tersebut adalah sebagai peninjau atau pengamat, tetapi […]

  2. […] sore, saya terkesima menatap panggung depan auditorium di mana sedang berlangsung acara penutupan Rapat Pimpinan (Rapim) Polri tahun 2011. Saat itu saya mendapatkan kesempatan untuk ikut melihat jalannya Rapim Polri 2011 dengan status […]

  3. TNI kuat, kedaulatan negara terjaga, POLRI kuat, rakyat aman dan bahagia… .

    1. semoga begitu … itu yg diharapkan Bu .. plus harus menegakkan etika profesi dan sumpah mereka ..

  4. […] dengan penelitian untuk disertasi doktor saya. Prof. Rhenald menyampaikan topik ini pada acara Rapat Pimpinan (Rapim) TNI-Polri beberapa waktu yang lalu, bertempat di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK, dulu PTIK / Perguruan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s