TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL

are we under their control? or are they under our control? or what?

computer age is now, everyone must have a machine
they say it’s gonna make life easier, well i can’t stand it ….
they say we should put them in control, well, maybe next we’ll give them a soul
i guess we must now think that we’re gods, while we’re less men than ever

i know the Lord cannot be too glad, in fact, I’m sure He must be quite mad
to see us take His role from our lives, and give it to computers
for here we sit in our easy chairs, as our machines decide how we’ll fare
who will suffer, who will survive? it’s up to the computers

Ada yang kenal dengan lirik di atas? Bagi yang masa remajanya berada di kurun waktu 1980-an dan merasakan era breakdance pasti mengenal lirik di atas. Itu adalah potongan lirik lagu “Computer Age” oleh Newcleus, sebuah grup musik aliran rap yang termasuk generasi pertama. Buat saya, lagu ini adalah lagu paling favorit untuk era breakdance pada tahun 1984-1985 dulu, lebih dari 25 tahun yang lalu.

Lirik lagu ini berkisah mengenai kekhawatiran masyarakat saat itu di AS mengenai perkembangan teknologi komputer. Kita bayangkan era 1980-an, di mana komputer mungkin belum memasyarakat seperti saat ini, sehingga masih dianggap sebagai sesuatu yang penuh misteri dan menakutkan. Para seniman jalanan seperti Newcleus mengungkapkan kekhawatiran mereka melalui musik ini.

Inilah yang kita kenal dengan isitilah computer-phobia atau techno-phobia, yang kemudian melahirkan teori technology acceptance model (TAM) yang digagas oleh para ahli teknologi dan sosiologi. Tujuannya adalah, bagaimana manusia bisa menjadi “akrab” dengan mesin atau teknologi, sehingga bisa berdaya guna untuk membantu manusia dalam kehidupan sehari-hari. Selaras dengan teori ini, berkembang pula riset di bidang human-computer interaction (HCI) di dunia teknologi informasi, yang memiliki tujuan kurang lebih sama dengan TAM.

Pada semester yang baru saja berakhir ini, saya membimbing 3 (tiga) karya akhir dengan topik TAM serta 1 karya akhir dengan corporate culture dan implementasi TI pada program S2 Magister Teknologi Informasi – Universitas Indonesia …

Oke, kembali ke TAM. Hasil penelitian yang dilakukan oleh para mahasiswa saya tadi, ternyata menunjukkan kesimpulan yang menarik. Ternyata, setiap organisasi memiliki pola yang berbeda mengenai TAM. Apakah yang menyebabkan perbedaan itu? Teori organisasi mengatakan bahwa tidak ada organsiasi di dunia ini yang identik sama. Setiap organisais itu unik dan memiliki kekhasan sendiri. Secara teori, penyebab utama perbedaan itu adalah budaya organsiasi atau corporate culture, yang merupakan agregasi dari perilaku individu yang ada di dalam organisasi, baik dibentuk secara sistematis, maupun terbentuk dengan sendirinya.

Teori TAM mengupas penerimaan teknologi dari sisi manusia sebagai pengguna, sehingga mengabaikan faktor kompleksitas teknologi itu sendiri. Kompleksitas teknologi dikaji bukanlah dari sisi teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana persepsi manusia (perceived) atau pengguna yang terbentuk terhadap kompleksitas teknologi tersebut. Apa yang menjadi persepsi manusia atau pengguna memang tidak selalu sama dengan kenyataan pada aspek teknologinya. Tetapi persepsi inilah yang akan menggiring manusia akan menggunakan teknologi atau tidak. Jadi, perlu ada suatu upaya untuk membangun suatu persepsi yang positif terhadap teknologi pada ruang pikiran manusia atau pengguna supaya bisa diterima dengan baik.

Jadi dengan demikian, bisa dikatakan TAM adalah suatu bentuk manifestasi budaya organsiasi. Hal ini semakin memperkuat argumen bahwa kita perlu mengembangkan riset di aspek sosial-budaya pada teknologi informasi seperti yang pernah saya tulis di sini.

Riset-riset seperti TAM dan HCI memiliki tujuan untuk membantu pada perekayasa atau pengembang sistem dan teknologi informasi agar mengembangkan teknologi yang sangat manusiawi, sehingga benar-benar bisa mempermudah kehidupan kita …

Kadang-kadang saya berpikir, apakah saya memang sangat meminati bidang sosio-teknologi ini sejak awal? Entahlah. Tetapi yang pasti, skripsi S1 saya di Fakultas Ilmu Komputer – Universitas Indonesia dulu mengambil topik tentang HCI. Tesis S2 saya di bidang manajemen mengambil topik internet-based learning untuk topik manajemen, dan disertasi S3 yang sedang saya kerjakan saat ini mengambil topik social media di internet untuk bisnis dan organisasi. Kalau ditarik garis suatu pola, kelihatannya memang saya menekuni dunia sosio-teknologi ini.

and I believe this should be done

Salam
Riri Satria

6 responses

  1. permisi mau tanya, referensi buku yang membahas TAM atau TPB atau keduanya apa ya?

    1. wah saya lupa persisnya, tapi bisa dicari kok lewat Google ..sukses ya😀

  2. […] mahasiswa menulis topik tentang TAM (technology acceptance model) suatu konsep yang membahas bagaimana suatu model tentang penerimaan teknologi informasi di dalam […]

  3. Mas, apa TAM hanya bisa dianalisis jika perusahaan memakai sistem yang baru? thx.

  4. menarik tentang TAM ini, apakah dengan lahirnya socmed maka terjadi perubahan yang mendasar pada TAM?

    1. nah menarik pertanyaan Mas Wibi … barangkali ada mhs MTI berikutnya yg mau meneliti ini ? …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s