POLISI YANG IDEAL?

Pada akhir tahun 2010 ini, harian Kompas (27 Desember 2010) menurunkan hasil survei yang menunjukkan bahwa dari 4 (empat) institusi penegak hukum di negara ini, yaitu KPK, Kejaksaan, Kehakiman, dan Polri, maka nilai terendah diperoleh oleh Polri. Survei yang sifatnya persepsional ini menunjukkan bahwa di mata masyarakat, Polri masih dianggap belum menunjukkan kinerja yang maksimal dan masih belum memperoleh kepercayaan yang diharapkan. Sekitar 77% responden menilai kinerja Polri itu buruk, dan hanya 16% yang menilai baik, sedangkan sisanya tidak memberikan pendapat.

Bagi saya, hasil survei ini tidaklah mengejutkan. Sebagai orang yang memiliki kesempatan untuk melihat dan menganalisis organisasi Polri dengan dekat, saya menilai hasil survei ini wajar, dan kawan-kawan polisi tidak perlu gusar apalagi defensif terhadap hasil survei ini. Bukankah hasil survei merupakan salah satu indikator kinerja outcome organisasi Polri? Jadi, sudah selayaknya hal ini dijadikan sebagai masukan untuk lebih banyak melakukan pembenahan ketimbang bersikap defensif. Bukankah grand strategy Polri periode pertama itu adalah trust building? Hasil survei ini menunjukkan bahwa trust building itu sendiri masih jauh dari capaian.

Bagaimanakah sosok polisi yang ideal? Siapakah yang layak dijadikan panutan sebagai sosok polisi yang ideal? Nah, saya memaknai pertanyaan ini selaras dengan teori manajemen kompetensi, di mana kita butuh suatu benchmark atau role model mengenai sosok yang kompeten di bidangnya, dalam hal ini kepolisian. Pertanyaan ini pernah muncul dalam suatu diskusi terbatas tentang kepolisian beberapa waktu yang lalu (masih dalam tahun 2010). Banyak peserta yang menyebut nama mantan Kapolri, Jenderal Hoegeng, sebagai salah satu sosok polisi ideal yang layak dijadikan contoh. Saya sependapat, bahwa Pak Hoegeng bisa dijadikan suatu role model.

Namun pada kesempatan itu, saya juga menampilkan sosok yang lain, yang menurut saya layak dijadikan contoh juga, yaitu Eliott Ness, seorang kepala polisi di Chicago, AS, yang sukses menjebloskan super gangster Al Capone ke dalam penjara. Nama Eliott Ness sendiri sudah menjadi legenda di kepolisian AS, dan sepak terjangnya sudah diangkat ke layar lebar dengan judul “The Untouchables“, sesuai dengan memoar yang dia tulis menjelang akhir hayatnya.

Eliott Ness lahir di Chicago tanggal 19 April 1903, lulusan University of Chicago yang terkenal itu untuk bidang hukum dan bisnis dan anggota sigma alpha epsilon, yaitu kelompok lulusan dengan indeks prestasi tinggi. Ness juga memiliki gelar S2 atau master di bidang kriminologi dari universitas yang sama. Jadi terlihat bahwa Ness ini adalah polisi yang makan bangku sekolahan dan lulusan sebuah universitas ternama di AS, dan memiliki kompetensi di bidang hukum, bisnis, dan kriminologi. Dia memulai karir sebagai penyidik, dan karirnya terus meningkat di kepolisian Chicago.

Pada kurun waktu 1920-an, penegakan hukum di AS mencapai titik yang terendah seiring dengan sulitnya perekonomian di AS saat itu, gangster merajalela, kejahatan jalanan adalah kehidupan sehari-hari, korupsi sudah berakar kuat di kalangan birokrasi, politisi, dan tentu saja kepolisian itu sendiri. Nah, pada situasi sulit seperti itulah Ness bertugas, dan berhadapan dengan super gangster yang hidup di Chicago saat ini, yaitu Al Capone.

Al Capone adalah pemilik sebuah imperium bisnis yang besar di Chicago saat itu, dan tentu saja, sebagian besar dari bisnisnya itu illegal. Walaupun bisnisnya illegal, saat itu polisi tidak ada yang berani menyelidiki bisnis si Al Capone ini, karena Al Capone berhasil membangun pencitraan yang bagus tentang dirinya di masyarakat. Masyarakat menilai Al Capone adalah sosok dermawan yang menjadi “juru selamat” di Chicago pada saat ekonomi sulit. Dia banyak memberikan sumbangan, sehingga dielu-elukan oleh masyarakat. Saat Ness dan timnya ingin menyelidiki Al Capone, dia justru berhadapan dengan masyarakat Chicago sendiri yang mengecam Ness karena “merusak nama baik sang juru selamat mereka”. Belum lagi pejabat setempat, politisi, dan bahkan rekan-rekan Ness sesama polisi juga sudah disuap oleh Al Capone, sehingga mereka tidak memberikan dukungan apa-apa terhadap Ness, bahkan cenderung menghalanginya. Itulah sebabnya, selama bertahun-tahun tidak ada yang berani mengutak-atik Al Capone di Chicago, sampai muncul polisi yang rada “nekad” seperti Eliott Ness.

Ness sendiri lolos dari beberapa upaya percobaan pembunuhan, tetapi rekan-rekan dalam timnya banyak yang tewas terbunuh. Al Capone juga pernah mencoba untuk “menjinakkan” Ness dengan suap tentunya, tetapi tidak mempan. Justru beberapa kolega Ness yang akhirnya “dijinakkan” oleh Al Capone, apalagi Al Capone juga “menguasai” birokrasi di Chicago yang membawahi institusi kepolisian di sana (di AS institusi kepolisian berada dibawah pemerintah negara bagian / birokrasi).

Ringkas cerita, Ness berhasil menggulung Al Capone. Tetapi Ness berhadapan dengan tantangan berat berikutnya, yaitu sistem hukum yang saat itu juga sudah korup di sana. Hakim, jaksa, pengacara, bahkan juri yang berada di pengadilan banyak yang sudah “dipegang” oleh Al Capone. Tetapi upaya keras Ness dan timnya mendapat simpati juga dari berbagai kalangan di Chicago, sampai akhirnya ada jaksa, juri, dan hakim yang berani memenjarakan Al Capone, bahkan sampai dipenjarakan di Alcatraz, yaitu penjara dengan tingkat intensitas keamanan tertinggi di AS dan hanya diperuntukkan bagi penjahat kelas kakap di negara tersebut.

Eliott Ness juga manusia, yang pasti tidak sempurna. Prestasi tertingginya menggulung kelompok Al Capone di Chicago juga meminta “korban”. Rumah tangganya berantakan dan dalam beberapa saat, Ness sempat berteman dengan alkohol, walaupun tidak sampai menjadi pecandu.

Saat ini, Eliott Ness adalah legenda polisi di AS sana, dan sudah menjadi role model untuk sosok polisi yang ideal, setidaknya untuk masyarakat AS.

Apa pelajaran yang kita tarik dari pengalaman Eliott Ness, terutama saat dia menggulung Al Capone di Chicago?

Pertama, penegakan hukum memang bukan pekerjaan mudah, dan untuk menegakkan hukum memang diperlukan suatu strategi yang cerdas dan terukur. Untuk itu, polisi memang harus cerdas. Dengan gelar akademik di bidang hukum, bisnis, dan kriminologi, lalu menjadi anggota kelompok sigma alpha epsilon dari sebuah universitas papan atas di AS sudah menunjukkan kualitas kompetensi seorang polisi yang bernama Eliott Ness.

Kedua, penegakan hukum membutuhkan suatu ketegasan dalam prinsip, apapun yang terjadi, hukum harus ditegakkan. Ness sudah pasti menantang arus saat itu dan memilih untuk berhadapan dengan Al Capone walaupun saat itu Al Capone dianggap sebagai “juru selamat masyarakat” yang dielu-elukan rakyat Chicago karena sangat dermawan. Pada saat mulai menyidik Al Capone, Ness dan timnya justru dicerca oleh masyarakat, tetapi Ness tidak mundur demi sebuah pencitraan dari masyarakat, karena suara masyarakat belum tentu suara Tuhan yang merepresentasikan kebenaran.

Ketiga, penegakan hukum memang membutuhkan keberanian untuk menantang risiko. Saat itu situasi di Chicago sudah amburadul. Birokrasi, politisi, rekan-rekan polisi, pengadilan, kejaksaan, juri di pengadilan, dan juga media, sudah korup dan “dipegang” oleh Al Capone. Alih-alih mendapatkan dukungan, Ness malahan dipersulit, dan sering dijebak supaya gagal. Tetapi keberanian Ness akhirnya mendapatkan simpati dari berbagai kalangan di sana, dan akhirnya Al Capone digulung.

Tetapi sayang sekali, dari berbagai sumber atau literatur yang saya baca tentang Eliott Ness, tidak ada yang menjelaskan mengapa Ness sampai memiliki nyali yang demikian luar biasa sebagai polisi. Apakah Ness seorang yang religius dan memiliki kematangan spiritual yang tinggi? Ataukah Ness penganut paham humanis yang tinggi sehingga hukum dan keadilan harus ditegakkan? Ataukah Ness punya dendam pribadi kepada Al Capone sehingga apapun yang terjadi, dia bertekad menggulung super gangster ini? Jujur saja, saya belum memiliki kesimpulan apa-apa mengenai hal ini.

Terakhir, polisi juga manusia, sosok Eliott Ness yang legendaris juga manusia, di satu sisi dia berhasil menegakkan hukum dengan konsisten, tetapi di sisi lain dia gagal membangun rumah tangga yang bahagia.

Saya bermimpi, suatu saat akan ada polisi seperti Eliott Ness di Indonesia .. Apakah ini akan terus jadi impian? … Mudah-mudahan tidak, suatu saat akan jadi kenyataan, dan saya terus berupaya untuk optimis di tengah-tengah pusaran rasa pesimis …

Salam
Riri Satria

2 responses

  1. lama gak berkunjung nih, Pak. Apa khabar???:mrgreen:

    Kalau menurut saya, dari awalnya model rekrutmen-nya sudah kacau, dengan banyaknya “permainan” oknum dalam penerimaan calon Polisi…. Kalau ingin polisi2 kita ideal, maka harus dilakukan reformasi total secara menyeluruh…😎

    1. iya … itu salah satu masalahnya … nah, reformasi itu sendiri sedang berjalan, tetapi memang masih belum selesai dan masih banyak sekali hal-hal yang perlu dilakukan … terima kasih atas komentarnya Mas Bintang …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s