KELILING (SEBAGIAN) BALI

Kali ini kunjungan saya ke Bali sangat singkat, hanya 27 jam di Bali. Ya, kali ini saya memang bukan liburan, melainkan tugas mengajar dari Program Magister Teknologi Informasi – Univ. Indonesia. Saya sampai di Bali pada hari Sabtu 4 Desember 2010 pukul 9.30 pagi, dan langsung mengajar mulai pukul 10:00 sampai sore. Selesai mengajar, sorenya saya menghabiskan waktu di pantai Kuta untuk menikmati suasana matahari tenggelam. Hari Minggu tanggal 5 Desember saya sudah harus kembali ke Jakarta, dan saya memilih pesawat jam 13:05 siang kembali ke Jakarta. Setidaknya, saya punya sedikit kesempatan untuk jalan-jalan menikmati Bali mulai dari pagi menjelang ke bandara untuk kembali ke Jakarta.

Well, dibantu oleh sahabat saya Jimmy yang tinggal di Bali, akhirnya disusunlah rencana bagaimana bisa menikmati Bali dalam waktu singkat. Saya juga bertanya, apakah mungkin ke Ubud, karena saya ingin mengunjungi museum Antonio Blanco di Ubud, si pelukis terkenal yang pernah hidup di Bali. Jimmy jawab sangat mungkin, tetapi mari kita hitung-hitung waktu dulu. Setelah mengkalkulasi waktu, akhirnya disusun rencana sebagai berikut : pagi-pagi jam 5 saya check-out dari hotel (saya menginap di Hotel Harris di Kuta), lalu menuju Pantai Sanur (sebuah pantai yang menghadap ke Timur) untuk menikmati matahari terbit, kemudian terus ke arah Utara menuju Ubud untuk menikmati suasana tradisional di Ubud dan sekaligus sarapan di sini, kemudian terus berlanjur ke Tegalalang untuk menikmati suasana persawahan tradisional Bali, lalu kembali ke Ubud untuk menuju Museum Antonio Blanco, dan setelah menikmati museum langsung kembali ke Selatan menuju Bandara Ngurah Rai, dan diperkirakan sampai di bandara pukul 12 siang. Karena ini hari Minggu, diperkirakan jalan-jalan tidak macet, paling hanya kena pasar-pasar tumpah ke jalan. Oke, ini rencana yang bagus!

Nah, tujuan pertama adalah Pantai Sanur, untuk menikmati matahari terbit. Jujur saja, saya hampir tidak pernah melihat matahari terbit dari laut. Masa kecil sampai remaja saya di kota Padang – Sumatera Barat membuat saya selalu melihat matahari terbit dari gunung. Begitu juga setelah tinggal di Jakarta / Bogor, selalu melihat matahari terbit dari pegunungan. Jadi, buat saya, melihat matahari terbit dari laut adalah sesuatu hal yang baru. Benar juga, begitu saya sampai di Sanur, saya merasakan suasana yang sangat aneh, melihat matahari terbit di laut! Jujur saja, buat kebayakan orang mungkin ini adalah hal yang biasa, tetapi buat saya, ini adalah sebuah pengalaman yang baru dan menakjubkan. Suasananya sama saja dengan matahari tenggelam, di mana langit sama-sama berwarna merah, hanya saja semakin lama semakin terang. Suasana itu menjadi semakin indah dengan latar belakang Gunung Agung yang terlihat jelas tidak tertutup kabut.

Setelah selesai di Sanur, saya menuju ke Utara ke arah Gianyar untuk mengunjungi Ubud dan Tegalalang. Suasana tradisional Bali sangat terasa sepanjang perjalanan menuju Gianyar. Berbagai Pura mulai dari yang kecil sampai yang cukup besar banyak terlihat sepanjang jalan. Demikian pula dengan bangunan khas Bali dengan arsitektur yang unik. Apalagi Hari Raya Galungan akan berlangsung beberapa hari lagi, maka berbagai persiapan sudah banyak dilakukan. Berbagai pasar tradisional menjual perlengkapan perhiasan untuk Hari Raya Galungan dan juga perlengkapan sembahyang.

Sekitar pukul 8 pagi, saya sampai di Ubud. Tujuan pertama saya adalah mencari sarapan pagi. Saya kaget juga, ternyata banyak restoran Padang di Ubud, mulai dari yang kecil sampai yang menengah. Tetapi, saya memilih untuk menikmati sarapan omelet dan kentang goreng serta juice. Saya memang harus hati-hati memilih makanan di Bali, yang tidak ada unsur babi-nya.

Setelah sarapan, saya sejenak menikmati suasana Ubud di pagi hari, menikmati suasana pasar tradisional, lalu ke Istana Puri Saren Agung di Ubud. Rupanya Puri Saren lagi sibuk berhias menyambut Hari Raya Galungan. Berbagai hiasan yang terbuat dari bambu yang panjang, disebut penjor, sedang disiapkan, diisi berbagai hasil yang diberikan oleh alam seperti padi, yang dimaknai sebagai ucapan terima kasih dan rasa syukur kepada Tuhan atas karunia yang diberikan melalui alam. Menariknya, Ubud memposisikan dirinya sebagai kawasan seni dan budaya, maka tidak heran kita temukan banyak hasil karya seni di sini seperti patung, ukiran, banyak sekali meseum dan galeri seni, dengan sentranya Museum Pelukis Antonio Blanco yang terkenal. Makanya, tidak mengherankan kalau di daerah ini selalu diselenggarakan Ubud Writers and Readers Festival setiap tahunnya (jujur saya, saya ingin mengunjungi acara ini suatu saat, mudah-mudahan tahun depan / 2011).

Setelah itu, saya menuju Tegalalang, untuk menikmati suasana persawahan tradisional Bali. Sangat menakjubkan, bagaimana mereka membentuk bukit menjadi area persawahan yang sangat indah. Ini luar biasa, karena tidak hanya memperhatikan unsur fungsional utamanya sebagai penghasil padi, melainkan juga unsur estetikanya, supaya indah dipandang, dan ternyata unsur estetika ini juga memiliki nilai ekonomi kepada masyarakat sekitar. Meminjam bahasa bisnis atau ekonomi, sesungguhnya mereka menciptakan 3 (tiga) value di sini, yaitu (1) sebagai penghasil makanan (padi), lalu (2) value keindahan sebagai tujuan wisata, serta (3) ramah terhadap alam sehingga tidak akan menimbulkan longsor atau sejenisnya. Kepercayaan masyarakat Bali memang sangat akrab dengan alam, di mana mereka memandang alam adalah sesuatu yang harus dijaga kelestariannya. Semua aktivitas manusia, harus harmoni dengan alam.

Setelah itu, tujuan akhir saya adalah Museum Pelukis Antonio Blanco. Saya berada di museum ini agak lama, dan pengalaman saya di sini saya tulis di sini.

Setelah selesai dari Museum Pelukis Antonio Blanco, saya menuju Bandara Ngurah Rai dan sampai di sana sekitar pukul 11.45, dan siap-siap untuk kembali ke Jakarta dengan Lion Air pukul 13:05. Oh ya, sewaktu di Ubud, saya juga melewati monkey forest, tetapi sayang saya tidak punya waktu untuk turun jalan-jalan menelusurinya. Mungkin suatu waktu nanti …

Whew, jalan-jalan yang singkat, tetapi sangat menyenangkan.

Salam
Riri Satria

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s