APAKAH BENAR BAHWA KITA SUDAH “BENAR”?

Apakah yang anda bayangkan pertama kali begitu melihat gambar di samping ini? … Well, apapun yang anda bayangkan, ya sah-sah saja kan?

Bisa jadi anda langsung membayangkan bahwa ini adalah sebuah tanda atau iklan resto burger, karena memang ada gambar burger di sana. Tapi jika anda baca tulisan di bawahnya “want a piece of me?”, lalu anda menatap gambar Farah Quinn dengan pose seperti itu, bisa jadi yang anda bayangkan menjadi lain (hahahaha … ini mungkin lho).

Apapun yang anda bayangkan, itu adalah hasil konstruksi yang terjadi di ruang pikiran anda, termasuk saya juga begitu. Artinya adalah, kita sendiri yang menkonstruksi atau menafsirkan apa yang kita lihat. Penafsiran itu belum tentu sama dengan pesan sebenarnya yang ingin disampaikan oleh si penyampai pesan. Kita yang mengkonstruksi suatu penafsiran dengan membentuk suatu peta pikiran. Nah, peta pikiran itu sendiri belum tentu sama dengan keadaan yang sebenarnya. Repotnya, kita tentu saja akan bertindak sesuai dengan peta pikiran yang kita konstruksi sendiri di ruang pikiran kita masing-masing. Bagaimana jika penafsiran itu salah? Sementara suatu tindakan yang destruktif atau negatif (seperti melukai orang lain) sudah terlanjur dilakukan?

Inilah repotnya dalam interaksi sosial di masyarakat. Setiap individu akan membuat penafsiran masing-masing mengenai apapun yang dia lihat, dengar, rasakan, bahkan yang tidak jelas sekalipun. Kemampuan setiap individu untuk menkonstruksi penafsiran tersebut sangat ditentukan oleh latar belakangnya, misalnya lingkungan keluarga, pendidikan, lingkungan pergaulan, agama dan kepercayaan, dan sebagainya. Satu kejadian yang sama, bisa ditafsirkan berbeda oleh orang yang memiliki latar belakang yang hampir sama, apalagi oleh mereka yang sangat berbeda. Potensi untuk “salah tafsir” pun sangat besar.

Jadi apa yang sebaiknya dilakukan? Memang, jalan yang terbaik adalah mengkonfirmasikan suatu pesan, berita, informasi, dan sebagainya, kepada sumber yang bisa dipercaya. Dengan mengkonfirmasikan ke sumbernya, maka kita bisa memperbaharui penafsiran yang sudah kita buat sebelumnya. Tetapi bagaimana jika sumbernya tidak diketahui? Inilah pentingnya sebuah diskusi dengan pihak-pihak yang kompeten, di mana akan terjadi proses untuk saling mengoreksi penafsiran atau peta pikiran yang dibuat.

Susahnya adalah, mungkin ada dari kita yang mengkonstruksi peta pikiran dengan cepat dan tidak komprehensif, lalu tidak mau mendiskusikannya dengan orang lain, kemudian membuat tindakan sendiri yang negatif. Inilah namanya yang mau menang sendiri, di mana selalu merasa dirinya benar.

Jika kita semakin mendalami konsep konstruksi peta pikiran ini, maka rasanya kita bisa semakin mawas diri, dan tidak terjebak dengan definsi “kebenaran” yang kita tarsirkan sendiri …

Salam
Riri Satria

5 responses

  1. sepertinya saya pernah denger tentang hal ini di kelasnya Pak Riri….he.he…..

    1. hahaha .. begitu ya? di kuliah apa ya?

      1. Sepertinya di kelas bimbingan, waktu itu Pak Riri ngejelasin ttg validitas responden….
        Masih saya ingat sampai skrg….he.he….

  2. Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku : http://www.yohanwibisono.com, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx

    1. terima kasih Pak Yohan atas kunjungan dan apresiasinya .. i will visit your blog, Pak .. salam sukses selalu ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s