POLITIK

Tadi seharian sampai malam ini, adalah kali kedua saya masuk ke lingkungan kantor DPR/MPR RI. Pertama kali saya masuk ke gedung ini pada tahun 1987 alias 23 tahun yang lalu! Saat itu saya masih duduk di bangku SMA di Padang dan menjadi finalis Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan diundang ke Jakarta bersama para finalis lainnya dari berbagai daerah di Indonesia. Saat itu kami mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke beberapa pejabat tinggi negara, termasuk Ketua DPR/MPR RI saat itu, yaitu Alm. Amir Machmud. Untuk anak SMA dari kota Padang seperti saya, kesempatan seperti itu sangat langka dan saat itu sangat membanggakan.

Nah, tadi siang, saya kembali mengunjungi gedung ini, tujuannya untuk melihat proses fit and proper test calon Kapolri, yaitu Komisaris Jenderal Timur Pradopo. Sebagai seorang konsultan manajemen organisasi yang kebetulan juga beberapa kali terlibat dengan isu-isu organisasi di Polri, maka proses fit and proper test ini tentu akan menarik untuk dilihat, terlepas dari rasa skeptis yang muncul dari berbagai pihak (jujur saja, ini juga termasuk saya). Walau bagaimana pun ini adalah panggung politik, yang sangat jauh dari dunia saya, yaitu dunia akademik dan konsultan (yang katanya juga setengah akademik). Jadi saya benar-benar awam di dunia ini.

Saya sempat mengamati proses fit and proper test yang berlangsung di ruang sidang Komisi III DPR, bahkan saya juga mengikuti proses penyampaian pandangan oleh fraksi-fraksi pada malam harinya. Kesimpulan saya, logika politik memang tidak bisa diikuti oleh logika akademik.

Perdebatan dengan landasan logika akademik memang bertujuan untuk menyimpulkan sesuatu berdasarkan fakta-fakta empiris dan analisis ilmiah yang lazim dipergunakan. Logika akademik membebaskan diri dari subyektifitas yang sarat dengan kepentingan, dan bertujuan untuk melakukan analisis seobyektif mungkin. Sementara itu, menurut pengamatan saya, perdebatan dengan landasan logika politik bertujuan untuk memenangkan kepentingan dengan argumen-argumen yang sangat keras dan menyerang, atau aneh bin ajaib, dan proses perdebatan yang bisa saja lucu mirip lawakan. Makanya dalam panggung politik, adu keras suara dalam berdebat, menyampaikan pendapat dengan kalimat yang pedas dan menyerang, dan bahkan sampai menciptakan suasana panas (pada beberapa kesempatan malah nyarus berkelahi) kelihatannya adalah hal yang lumrah. Ini yang menyebabkan saya susah untuk menarik suatu garis batas, ada nggak ya etika dalam berdebat dalam panggung politik ini? Atau memang demikiankah kondisinya? Entahlah …

Buat saya, yang besar di lingkungan akademik, terasa betul bahwa suasana panggung politik seperti itu sangat jauh dari dunia saya. Ada ganjalan dalam hati ini, dan merasa bahwa itu bukanlah dunia saya. Mungkin benar apa yang dikatakan banyak pihak, begitu seorang akademisi masuk ke panggung politik, maka dia akan kehilangan obyektifitas dalam berpikir …

Tetapi di sisi lain, politik juga diperlukan sebagai salah satu bentuk proses negosiasi untuk mencapai kesepakatan sosial di dalam suatu masyarakat. Prosesnya memang penuh silang pendapat dan memang terjadi proses memperjuangkan kepentingan, dan hasilnya adalah suatu kebijakan yang disepakati bersama (atau disepakati secara mayoritas).

Ah, mungkin setiap kita ini sudah ada tempatnya masing-masing … dan tempat saya memang bukan di gedung ini … Saya masih merasa nyaman dengan dunia yang penuh buku dan teori, lalu menyampaikannya di depan para mahasiswa di kampus sekaligus membimbing tesis mereka, atau setidaknya menjadi nara sumber seminar atau diskusi terbatas sebagai konsultan di berbagai organisasi …

Salam
Riri Satria

4 responses

  1. kita sedang memandang potret dunia politik tanpa panutan, sebenarnya dalam lintasan sejarah politik RI pernah muncul tokoh yang baik jadi panutan namun entah kenapa belum berhasil mentranformasikan karakter panutan menjadi karakter partai… sebuah impian

    1. iya setuju Wibi … mungkin itu kondisinya … mudah2an kondisi ini makin lama makin membaik seiring dengan kedewasaan berpolitik .. hopefully ..

  2. Di kalimat pertama sedikit koreksi pak, 23 tahun lalu adalah tahun 1987🙂

    1. oh iya .. seharusnya tahun 1987 .. sudah dikoreksi .. terima kasih Rob ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s