WILLIAM FAULKNER DARI TUTI

Akhirnya kembali juga ke Jakarta setelah liburan yang cukup panjang selama 2 (dua) minggu di Padang .. Whew, capek juga beres-beres rumah karena sudah ditinggal cukup lama, bersih sana, bersih sini, dan sekarang baru bisa istirahat. Padahal kami sampai tadi di rumah sekitar jam 4 sore.

Pas sampai di rumah, ternyata ada paket yang dikirim oleh seorang sahabat jauh dari AS sana, Retna Ariastuti. Akhirnya paket ini sampai juga, padahal katanya sudah lama dikirim. Rupanya si paket sempat nyasar melanglang buana dulu entah ke mana dan akhirnya kembali ke si pengirimnya di Oregon – AS sana. Lalu dikirim ulang dan akhirnya sampai juga .. Terima kasih banyak ya Tut ..

Isinya 3 (tiga) novel yang ditulis oleh William Faulkner, salah seorang pemenang hadiah Nobel untuk Sastra, masing-masing berjudul “As I Lay Dying” (1930), lalu “The Sound and The Fury” (1929), serta “Light in August” (1932). Bahkan dalam paket itu juga disertai panduan membaca novel-novel tersebut. Buset dah, baca novel saja ada panduan alias manual guide-nya. Saya jamin, jika anda bukan peminat novel atau sastra, maka baca buku karangan si Faulkner ini pasti bikin pening kepala .. hehehe .. Saya memang suka baca novel, tetapi tidak yang kelas berat seperti novel-novel si Faulkner ini.

Mengapa karya-karya Faulkner ini susah dibaca oleh awam? Mungkin karena dia memiliki gaya penulisan stream of consciousness, di mana penulisan dilakukan dengan multi-perspektif, yaitu dari masing-masing perspektif aktor dalam cerita, dan bersifat monolog untuk setiap aktor, tetapi jika dipadukan dengan monolog aktor-aktor lainnya akan membuat suatu bingkai cerita.

Kata si Wikipedia, ” … stream of consciousness is a narrative mode that seeks to portray an individual’s point of view by giving the written equivalent of the character’s thought processes, either in a loose interior monologue, or in connection to his or her actions. Stream-of-consciousness writing is usually regarded as a special form of interior monologue and is characterized by associative leaps in syntax and punctuation that can make the prose difficult to follow.”

Oh well, kayaknya saya mesti meluangkan waktu khusus untuk membacanya .. berat! Anyway, sekali lagi terima kasih atas kirimannya Tut …

Salam
Riri Satria

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s