JANGAN ANGGAP ENTENG TWITTER

Menarik melihat tulisan utama harian Kompas hari Minggu kemarin (25 Juli 2010) tentang Twitter. Kompas menyimpulkan bahwa Twitter adalah sebuah perubahan total komunikasi melalui revolusi 140 karakter, serta ajang pembelajaran seperti kuliah gratis, bahkan membentuk “Twittizen atau warga negara Twitter”. Saya sependapat dengan ulasan Kompas tersebut. Saya sendiri juga pengguna Twitter walaupun tidak setiap saat melakukan tweet, tetapi merasakan apa yang ditulis oleh Kompas dalam ketiga tulisan tentang Twitter tersebut.

Kebetulan saat ini saya sedang menyusun disertasi doktoral berkaitan dengan penggunaan aplikasi jejaring sosial (blog) untuk pembentukan modal sosial di masyarakat. Twitter sendiri adalah suatu bentuk blog yang sering disebut dengan istilah blog mikro karena keterbatasan karakter untuk pengiriman pesan, tetapi itu pula yang menjadi kekuatannya, di mana unsur kesegeraan (immediate) menjadi terpenuhi. Apakah Twitter ini membentuk modal sosial di masyarakat? Eh, apakah itu modal sosial? Modal sosial adalah suatu kondisi di mana terbentuk suatu pengetahuan kolektif pada masyarakat, lalu merekatkan, dan akhirnya mampu melakukan aksi sosial secara kolektif. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa modal sosial mampu memberikan kontribusi positif kepada masyarakat baik dalam aspek pembangunan ekonomi maupun aspek lainnya.

Jika dilihat dari kerangka teori modal sosial, maka Twitter diperkirakan mampu membentuk 2 (dua) jenis modal sosial yaitu (1) bridging social capital, serta (2) linking social capital. Lihat tulisan saya mengenai modal sosial dan internet di sini, serta bentuk modal sosial (bonding dan bridging) di sini (khusus untuk linking social capital saya menemukan konsep itu setekah artikel di blog tersebut ditulis).

Dengan menggunakan Twitter, seseorang bisa menambah relasi atau jejaring baru yang memfokuskan kepada perluasan jejaring atau kuantitas jejaring (bridging social capital). Seseorang bisa dengan mudah mem-follow orang lain dan bahkan mengirimkan pesan. Tetapi kualitas relasi tidaklah tinggi di Twitter. Untuk kualitas relasi (bonding social capital), maka fasilitas lain seperti facebook, blog konvensional, atau blog komunitas jauh lebih ampuh (lihat studi kasus ngerumpi.com di sini). Bahkan Twitter juga sering dipergunakan sebagai alat menyebarkan kabar mengenai apa yang ditulis pada facebook, blog konvensional, atau pun blog komunitas.

Nah, apabila dengan menggunakan Twitter seseorang sudah bisa mengakses sebuah lembaga atau organisasi dengan beda strata, maka terbentuklah linking social capital. Misalnya, sekarang Menkominfo Tifatul Sembiring dan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum pun aktif di Twitter dan bisa diakses semua pihak. Maka secara tidak sengaja, terbentuklah suatu relasi dari masyarakat banyak ke tokoh puncak suatu organisasi, dan inilah linking social capital. Suara-suara ataupun aspirasi yang beredar di masyarakat luas pun bisa didengar dan menjadi masukan untuk organisasi tersebut, dan sebaliknya masyarakatpun bisa mendapatkan berbagai informasi dengan cepat.

Jadi … jangan anggap enteng ya si Twitter ini …. tweet!

Salam
Riri Satria

(terima kasih untuk Herlina Gea untuk ide judul tulisan ini sehingga lebih menarik)

15 responses

  1. Phenomena sekarang ini banyak politikus ,mantan/pensiun pejabat , Jenderal direkrut perusahaan utk jadi komisaris,direktur yg kadang2 hanya formalitas ,apa pendapat m’riri dlm konteks sosial capital.thanks

  2. […] Bagaimana konsentrasi massa ini bisa terjadi? Memang banyak hal yang bisa mempersatukan mereka. Mereka pasti diikat melalui suatu social capital yang tepatnya menurut saya adalah bridging social capital (lihat tulisan saya mengenai hal ini di sini). Tetapi yang menarik adalah, ternyata yang menjadi katalisator adalah social media, dalam hal ini yang dominan adalah twitter dan facebook, serta blog. Peran mobile communication seperti SMS dan BBM juga tidak bisa dianggap enteng untuk menjadi katalisator pembentuk massa ini. Jika kita buka timeline pada Twitter sejak kemarin, maka ajakan untuk berdemo ini sangat santer dan sangat banyak, demikian juga di Facebook. Salah satunya yang saya pantau adalah komunikasi antar kelompok suporter di Bogor, Bandung, Jakarta, Surabaya, dan Malang. Jangan anggap enteng Twitter! […]

  3. […] pernah menulis kehebatan Twitter di blog ini, tetapi begitu mendengar pernyataan Menteri Pertahanan (Menhan) RI Purnomo Yusgiantoro yang […]

  4. Wah bagus sekali mas ulasannya…
    Dulu sebelum twitter populer saya adalah salah satu penggunanya..Tapi akhrnya saya tinggalkan..Qarna mungkin pada saat yg bersamaan saya sudah kadung cinta dngan facebook..
    Namun setelah saya tau,bahwa dngan sgala keterbatasan dari twitter justru menjadi kekuatan sendiri..!!
    Terima kasih mas..

    Salam kenal.!

    1. salam kenal juga Mbak Dwie … memang kekuatan social media yang pesan singkat kayak Twitter memiliki kekuatan di kecepatannya dalam penyamapaian pesan … dampaknya luar biasa … terima kasih atas komentarnya …

  5. […] aplikasi jejaring sosial pada komunitas internet. , termasuk membahas fenomena facebook dan twitter. Saya mendapatkan banyak masukan dari para peserta, antara lain penajaman arah penelitian, maupun […]

  6. “Nice artikel, inspiring ditunggu artikel – artikel selanjutnya, sukses selalu, Tuhan memberkati anda, Trim’s :)”

    1. terima kasih Mas Yohan …

  7. tadinya saya menganggap enteng si burung biru ini🙂 ternyata ampuh!!🙂 terima kasih pak tulisannya, kalo sempet mampir ke FB nya i love bogor ya pak🙂 mohon masukan untuk pembentukan modal sosial secara membernya sudah lumayan banyak🙂

    1. okey Chandra … siip lah .. kapan kita ada acara lagi ya?

  8. […] Dalam dunia pemasaran melalui internet, fenomena information snowball ini memang diperlukan, bahkan kalau perlu diciptakan, untuk menciptakan market awareness dari suatu produk. Para praktisi pemasaran yang akrab dengan dunia internet sudah memanfaatkan berbagai fasilitas untuk hal ini seperti blog, facebook, twitter, dan sebagainya. Jangan anggap enteng semua aplikasi jejaring sosial ini (lihat : “Jangan Anggap Enteng Twitter“). […]

  9. Sebenarnya “bridging social capital” sudah lama ada, dulu sudah ada yang namanya sahabat pena (sekarang masih ada nggak ya, majalah yang memuat sahabat pena??😀 ) namun dengan adanya kemajuan teknologi, “bridging social capital” menjadi lebih cepat dan mudah serta lebih interaktif…. dan yang terpenting bisa meraup lebih banyak kuantitas jejaring lebih cepat dan efektif.

    Begitu juga dengan “linking social capital” dulu juga ada yang namanya PO BOX (walau kebanyakan yang pakai perusahaan namun beberapa ada juga perorangan), alamat khusus yang biasa buat “bulk mail” agar korespondensi bisa lebih terfokus. Begitu juga dengan “hotline” ataupun nomer telpon 0-800 dsb (dan bahkan e-mail dan berbagai chatting apps) bisa jadi merupakan sarana “linking social capital” yang cukup ampuh. Namun begitu kehadiran Twitter sedikit merubah fenomena tersebut karena sentuhan personalnya semakin terasa. Namun begitu mudah2an saja nggak ada orang2 “penting” yang membuka akun twitter namun sesudahnya ia percayakan pengelolaannya kepada sekretaris, atau wakilnya atau whateverlah. Ya kalau udah begitu ya sentuhan personalnya jadi sedikit (bisa jadi juga banyak) hilang… jadinya ya sama aja oblong! Bener nggak bang Riri?? Huehehe…

    1. Setuju dengan ulasan Kang Yari .. memang modal sosial bukanlah hal baru, dan bahkan sudah lama ada di masyarakat … tetapi memang ternyata aplikasi jejaring sosial juga mampu menjadi katalisator pembentukan modal sosial tersebut, tetapi bukan berarti satu-satunya .. Yup setuju Kang … terima kasih atas komentarnya yang sangat bagus ini🙂

  10. so, I am a TWITTIZEN …. add me http://twitter.com/stanleydavid

    1. thank you Mas David🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s