TRUST BUILDING : PEKERJAAN RUMAH POLRI YANG BELUM SELESAI

Tulisan ini adalah kata pengantar yang saya berikan untuk buku “Perpolisian Masyarakat dalam Trust Building” yang ditulis oleh A. Kadarmanta, yang baru saja diterbitkan.

———————–

Perkembangan akan perubahan yang terjadi di masyarakat sebagai pengaruh dari perubahan global maupun lokal, maka tugas pokok, fungsi dan peran Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) saat ini mengalami tantangan. Tantangan tersebut diantaranya adalah bagaimana pelayanan yang diberikan oleh Polri kepada masyarakat. Banyak kalangan yang menilai bahwa persoalan yang paling utama ternyata adalah birokrasi di Polri yang dinilai kurang efektif dan efisien dalam menghadapi tantangan kinerja dan pelayanan masa kini dan masa depan. Akibatnya, masyarakat masih menyimpan rasa pesimis dan skeptis terhadap Polri.

Menurut saya, langkah Polri untuk menempatkan membangun kepercayaan masyarakat atau trust building pada fase pertama (2005-2009) dari Grand Strategy Polri 2005 – 2025 adalah suatu langkah berani. Mengapa demikian? Di tengah-tengah pandangan skeptis dan pesimis masyarakat melihat Polri, maka tindakan tersebut tentu menjadi sangat berat, apalagi begitu banyak variabel yang mempengaruhinya. Permainan politik tingkat tinggi pun sangat mempengaruhi keberhasilan upaya untuk membangun kepercayaan ini. Bahkan Kapolri pun merasa perlu untuk meluncurkan program akselerasi pada tahun 2008 untuk mewujudkan trust building ini, walaupun hasilnya masih belum menggembirakan, tetapi menurut saya, sudah banyak kemajuan.

Salah satu upaya untuk membentuk trust building ini adalah perpolisian masyarakat (community policing) yang dikenal dengan istilah polmas. Kegiatan ini sebenarnya tidak terlalu baru di Indonesia, tetapi sebagai sebuah upaya yang dilakukan secara besar-besaran dan sistematik, maka ide ini memang sebuah terobosan. Tetapi pada tataran implementasi, Polmas ini mendapat tantangan yang tidak ringan. Tantangan utama yang harus diatasi oleh Polri sendiri adalah kultur, bahkan mungkin paradigma.

Walaupun secara kebijakan organisasi Polri sudah mencanangkan polmas yang menempatkan berbagai elemen masyarakat sebagai mitra sejajar, tetapi paradigma rasa superior polisi terhadap masyarakat di lapisan bahwa memang tidak mudah untuk dihilangkan dalam waktu cepat.

Sekarang sudah tahun 2010. Jika melihat kepada Grand Strategy Polri 2005 – 2025, maka fase pertama yaitu trust building sudah berakhir. Kita memang belum pernah mendengar suatu pernyataan resmi dari pimpinan Polri, apakah trust building ini sudah tercapai atau belum, atau setidaknya bagaimana progress pencapaiannya? Jika dilihat kemampuan Polri mengungkap kasus bom Bali dan penanganan terorisme, ada sebuah harapan dan rasa optimisme masyarakat yang tumbuh. Menjelang akhir fase trust building ini, gelombang besar juga menghantam Polri, yang menyeret Polri kepada permainan politik tingkat tinggi. Hal ini semakin diperparah dengan penilaian berbagai lembaga yang menempatkan Polri sebagai institusi yang memiliki angka korupsi yang tinggi.

Dengan demikian, jelaslah bahwa trust building ini memang pekerjaan rumah yang sangat berat untuk Polri dan masih belum selesai.

Sisi lain dari trust building adalah pada lapisan grassroot di masyarakat. Inilah peran polmas. Jika pada lapisan atas Polri mengalami berbagai hantaman gelombang, maka pada lapisan grassroot, terbuka peluang yang sangat besar untuk membangun trust building dengan pola kemitraan dengan masyarakat, apalagi dengan masyarakat yang lebih komunal seperti di Indonesia. Inilah tantangan lain Polri dalam upaya membangun trust building.

Pada kerangka ini, maka buku yang ditulis oleh Kadarmanta ini memang sangat tepat. Pada buku ini dijelaskan secara tajam, apa yang harus dilakukan oleh Polri untuk mensukseskan implementasi polmas dalam rangka membangun trust building. Apalagi setelah saya baca, ternyata buku ini membahas sampai dengan tingkat eksekusi, dan tidak hanya tingkat wacana. Menurut saya, inilah nilai lebih dari buku ini.

Tetapi jika dilihat dari sisi waktu, maka memang buku ini agak terlambat. Seharusnya buku ini terbit 6 tahun yang lalu, yaitu pada saat Polri sedang hangat-hangatnya membahas wacana mengenai trust building dan Polmas. Jika buku ini terbit 6 tahun yang lalu, maka ini akan menjadi kontribusi yang sangat berharga untuk Polri dalam menempuh perjalanan mewujudkan amanah trust building dalam fase pertama Grand Strategy Polri 2005 – 2025.

Tetapi walaupun demikian, banyak hal yang menarik pada buku ini yang bisa menjadi pembelajaran buat kita semua. Setidaknya, menurut saya, pekerjaan rumah Polri yang berkaitan dengan trust building ini dan juga polmas masih belum selesai. Jika dilihat pada konteks ini, maka kehadiran buku ini menjadi penting.

One response

  1. bukunya bisa aku dapetin dmn ya?? saya lg butuh buku mengenai Polmas… trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s