PARADIGMA PERSAINGAN

(Topik bahasan live talkshow Provokasi bersama sahabat saya Prasetya M. Brata di Smart FM, kamis 24 Juni 2010 pukul 19:00 – 20:00).

Kompetisi dalam bisnis sering dianggap sebagai sebuah persaingan yang kejam. Banyak yang menganggap kompetisi itu ibarat perang, yang baru bisa dimenangkan apabila kita berhasil menghancurkan orang lain. Setidaknya itulah yang ditangkap orang pada makna perang seperti yang diuraikan Tsun Zu, yang sering dibawa ke ranah strategi bisnis saat ini. Padahal Tsun Zu sendiri mengatakan bahwa kemenangan terbesar dalam berperang adalah apabila kedua belah pihak mencapai perdamaian tanpa ada satu pun korban yang berjatuhan alias tanpa terjadi perang!

Sering juga orang menganggap kompetisi itu ibarat pertandingan tinju atau kumite dalam beladiri. Jika kita ingin memenangkan persaingan dalam bisnis, maka kita harus membuat kompetitor kita keok atau KO. Artinya, niatnya dari awal adalah untuk menjatuhkan lawan, meng-KO-kan lawan. Dalam istilah akademis, ini disebut dengan zero sum game. Untuk mendapatkan sesuatu, maka harus ada orang lain yang kehilangan sesuatu.

Bahkan seringkali dunia bisnis melahirkan orang-orang dengan kepribadian ganda. Mereka mengatakan bahwa business is business dengan segala “aturan” atau “pakem” yang disebutkan tadi. Sedangkan persahabatan (friendship) adalah hal lain. Pada saat berbisnis kita bertarung, sedangkan pada saat bersahabat kita saling memberi satu sama lainnya.

Apakah memang bisnis itu demikian? Apakah betul bisnis itu menghasilkan manusia dengan kepribadian ganda? Satu saat berbentuk setan, suatu saat berwujud malaikat, seperti yang diuraikan oleh Joel Bakan dalam bukunya “The Corporation“?

Apakah fitrah manusia di muka bumi adalah tumbuh kembang bersama, atau saling meniadakan / menghancurkan satu dengan yang lainnya? (seperti konsep zero sum game?). Menurut saya, sejatinya fitrah manusia itu adalah tumbuh kembang bersama.

Kembali ke topik dunia bisnis, menurut hemat saya, dan saya setuju dengan pandangan kaum humanis dalam berbisnis, bahwa sejatinya bisnis itu memiliki filosofi tumbuh kembang bersama. Bisnis itu bukanlah pertandingan tinju, kumite, apalagi perang! Bisnis itu adalah tumbuh kembang bersama dengan menciptakan value untuk sesama.

Berbisnis pada hakekatnya adalah, kita menciptakan value, dan value itu ditawarkan ke pasar. Value itu bisa berupa barang, ataupun jasa. Sebuah bisnis akan langgeng atau sustaianable jika value yang ditawarkan ke pasar sesuai dengan permintaan pasar tersebut. Selama terjadi kesesuaian antara value yang ditawarkan dengan value yang diinginkan, maka selama itu pula bisnis akan langgeng. Value itu bisa dalam wujud kualitas, fungsionalitas, kecepatan proses, wujud, dan juga harga, serta hal-hal lain, yang intinya manfaat apa yang diperoleh oleh si pembeli.

Value itu bersifat dinamis, artinya tidak akan sama setiap waktu. Itulah sebabnya kita harus selalu memperbaharui value setiap kurun waktu tertentu, supaya produk kita (baik barang maupun jasa) tetap diminati oleh konsumen atau pasar. Dunia akan terasa indah kalau kita berbisnis dengan menciptakan value yang saling melengkapi (komplementer), atau setidaknya menciptakan berbagai alternatif value untuk ditawarkan ke pasar tanpa harus saling menyerang satu dengan yang lainnya.

Nah, ketidakmampuan untuk memperbaharui value ini lah yang akan membuat seseorang akan kalah dalam berbisnis, bukan karena dia dikalahkan oleh orang lain, bukan karena bisnisnya dihantam oleh pesaingnya, tetapi karena memang dia tidak sanggup membuat value yang lebih baik lagi.

Jadi berbisnis itu sejatinya berfokus kepada value, bagaimana menciptakan value yang diminati oleh pasar atau konsumen, bukan berfokus kepada kompetitor. Jika kita berfokus kepada kompetitor, maka kita berpikir bagaimana mengalahkan kompetitor. Jika kita fokus kepada kompetitor, maka tindakan kita cenderung untuk menghantam bisnis si kompetitor, tujuannya menghapus si kompetitor dari gelanggang persaingan.

Tetapi jika kita berfokus kepada value. maka kita akan berkonsentrasi untuk selalu memperbaiki value yang kita tawarkan atau jual. Kalaupun kompetitor akhirnya kalah, bukan karena kita yang menghantam, melainkan karena ketidakmampuan dia untuk menciptakan value yang diminati oleh pasar atau konsumen ….

Selamat berbisnis …

Salam
Riri Satria

7 responses

  1. […] Nah, beberapa tahun terakhir ini, dia punya label baru yaitu mind provokator, melalui berbagai workshop yang dia bawakan mengikuti kesuksesan buku “Provokasi”. Bahkan Pras juga mengasuh acara Provokasi di Radio Smart FM dan saya pun pernah diundang sebagai nara sumber tamu (lihat di sini). […]

  2. Pak, ada rekamannya ngga? Kalau ada, diunggah dong. Hihihi… maklum, saya ketinggalan acara.

    Terima kasih.

    1. wah, saya juga gak punya rekamannya tuh Mas Dewo …

  3. Kiblat buku2 bisnis banyak diambil dari barat, sudah waktunya kita buka buku2 bisnis yang sekarang trend dg sebutan syariah bisnis, tapi kalau ditarik ke belakang prakteknya banyak diambil sejak jaman babylonia (sebelim Muhammad SAW), tetapi ditinggalkan seiring lahirnya paham kapitalisme

    1. Menarik Mas Imam … gimana kalau kita bahas ini di talkshow Provokasi? .. nanti saya kasih tahu Mas Pras …

  4. setuju pak. memang sekarang trend sudah mulai bergeser ke co-opetition (cooperative competition)

    1. setuju Dharma … sudah baca bkunya kan ? .. Co-opetition, oleh Bradenberger dan Nalebuff ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s