FILOSOFI MANCING DAN STRATEGI BISNIS

mancingAkhir-akhir ini saya punya hobby baru, yaitu mancing ikan, dan ditularkan oleh anak saya, Raihan. Ternyata mancing itu seru juga ya. Lebih dari itu, memancing rupanya juga memiliki filosofi yang sama dengan dunia bisnis. Ringkasnya, ada konsep strategi bisnis yang kita pelajari dalam mancing ini … Karena berbisnis itu sendiri adalah mancing, yaitu mancing customer untuk membeli produk kita.

PASAR SASARAN : MANCING DI EMPANG ATAU LAUT?

Filosofi pertama adalah, kita harus menentukan, mau mancing di mana? Apakah di empang atau di laut? Kalau maunya mancing di empang, ya harusnya sudah disadari bahwa paling dapatnya ikan mas, gurame, atau mungkin ikan lele. Tidak mungkin memancing ikan tenggiri di empang. Kalau mau mancing tenggiri, ya harus ke laut. Begitu pula dengan berbisnis, kita harus menentukan pasar yang menjadi sasaran kita, apakah pasar kelas bawah, menengah, atau papan atas … Oh ya, baik di empang maupun di laut, kita harus yakin di mana kira-kira banyak ikannya …

TEKNOLOGI : ALAT PANCING YANG CANGGIH ATAU SEDERHANA?

Kalau mau mancing tenggiri di laut, ya alat pancingnya tentu harus canggih, gagang pancingnya kuat, benangnya yang kawat lentur, dan roll-nya harus yang oke punya. Kalau tidak begitu, mana bisa mendapatkan tenggiri. Kalau mancing tenggiri dengan alat pancing sederhana yang biasa dipakai di empang, bisa-bisa putus dan tenggirinya tidak dapat-dapat. Tetapi jika memang mau mancing di empang, tentu saja alat pancing yang lebih sederhana bisa dipergunakan. Intinya, harus selaras (align) antara teknologi yang dipergunakan dengan pasar sasaran yang dituju. Begitu juga dalam berbisnis, untuk segmen pasar tertentu penggunaan infrastruktur teknologi informasi dan internet menjadi suatu keharusan, tetapi mungkin di segmen pasar yang lain, hal seperti itu tidak perlu.

KOMPETENSI : SKILL MANCING KELAS EMPANG ATAU LAUT DALAM?

Mancing juga butuh skill tersendiri. Tentu saja skill yang dibutuhkan untuk mancing di empang berbeda dengan di laut, apalagi laut dalam. Pemahaman tentang umpan yang dipergunakan, teknik memasang umpan, teknik melempar kail, sampai teknik menarik ikan kalau nyangkut di kail pun berbeda … Kalau saya sendiri untuk urusan mancing, skill-nya masih kelas empang, jadi belum berani ke laut, tapi saya ingin suatu saat mancing di laut, jadi mesti berguru sama yang sudah jago … Begitu juga dengan berbisnis, kita harus menyesuaikan kompetensi kita dengan pasar sasaran. Setiap segmen pasar membutuhkan kompetensi (knowledge, skill, dan attitude) yang berbeda.

IKLAN / PROMOSI : UMPANNYA CACING ATAU IKAN?

Kalau memang mau mancing tenggiri di laut, ya jangan pakai umpan cacing. Tenggirinya pun pasti akan menggerutu dan merasa terhina kalau kita pancing pakai umpan cacing … hahahahaha … Kalau mau mancing tenggiri, umpannya mesti ikan kecil. Tapi kalau di empang, mau mancing ikan mas, ya cacing cukuplah … Begitu juga di dunia bisnis, kita harus berani mengeluarkan biaya untuk iklan atau promosi. Kalau mau dapat customer premium, ya promosinya juga mesti premium. Kalau memang targetnya customer kelas bawah, ya promosi seadanya mungkin cukup (bahkan tidak jarang, mesti menngeluarkan uang banyak juga untuk segmen bawah ini) …

MANAJEMEN RISIKO : BERANI KE LAUT ATAU HANYA EMPANG?

Kalau takut kena hujan di laut (apalagi kena badai), takut gelombang, ya sudah, mancing di empang saja. Untuk mendapatkan ikan tenggiri di laut, ya harus berani menanggung risiko. Kalau nggak mau, ya mari kita mancing di empang saja .. hehehehe … tapi dapatnya hanya ikan mas atau lele. Makanya, kita mesti mengkalkulasikan risiko untuk memancing ikan ke laut, mempertimbangkan cuaca, dan sebagainya. Kalau sekedar di empang sih, tidak perlu manajemen risiko yang canggih-canggih amat. Begitu juga di bisnis, karena kita masuk ke segmen pasar yang premium, investasinya mesti banyak, maka harus mampu memanajemeni risiko dengan baik. Kalau hanya bisnis kecil-kecilan, ya mungkin tidak terlalu ribet manajemen risikonya.

SIKAP : SABAR DAN TERUS MENCOBA

Kalau mancing, ya mesti sabar, kalau gak dapat, ya coba lagi. Adakalanya umpan dimakan ikan, tapi ikannya tidak nyangkut di kail, ya sudah, coba lagi. Sabar dan terus mencoba. Ini berlaku baik di kelas empang maupun laut dalam. Begitu juga dalam berbisnis, kalau kita sudah memperhitungkan pasar sasaran, teknologi sudah pas, kompetensi juga oke, manajemen risiko sudah oke, nah tinggal diuji kesabaran dan terus mencoba, sambil menyerahkan segala keputusan sama yang Yang Maha Kuasa … that’s what we should do

Salam sukses buat semuanya …
Riri Satria

14 responses

  1. pada saat memancing kita harus sabar dan jang terlalu terburu 2 menarik

    andre

  2. menarik pa ulasannya, sy mnt izin utk menjadikan artikel ini sebagai bahan tulisan sy blh tdk pa. Terima kasih

  3. trims, bagus artikelnya….

    1. terima kasih juga … salam

  4. Kalau main sepak bola dan strategi bisnis apa ada hubungannya juga pak? Tks

    1. wah jelas ada Mas … hehehe .. sepakbola itu kombinasi yang unik antara strategi, operasional, kompetensi, kepemimpinan, dan sebagainya …

  5. Wah, filosofinya bagus, Pak… MEnjadikan strategis bisinis sebagai sesuatu yang lebih “membumi”. Hanya saja, mungkin di dalam bisnis kita seringkali dikejar oleh dead line atau waktu.

    1. Mancing juga dikejar waktu Mas … hehehe … sebelum hujan deras turun … hehehe … kalau gelap mah lebih asyik mancingnya, tinggal bawa lampu …

  6. numpang mengomentari yah om hihihi
    * Teknologi – mancing tenggiri pake handline juga jadi om, gak usah ribet2 beli joran dan reel canggih dan mahal. Semakin sederhana semakin mengasikan dan menantang. Udah gak jaman sekarang mancing pake piranti canggih dan mahal (soalnya kata orang laut indonesia udah gak ada ikannya hehehe jadi rugi beli alat mahal-mahal)
    * Kompetensi – saya rasa mancing mah sama aja antara empang dan laut kecuali teknik jigging gak bisa diterapkan soalnya empang gak ada yang dalem ampe puluhan meter. Di empang bisa popping, casting, dasaran, fly fishing. Tergantung empangnya. Sekarang malah ada empang dengan ikan-ikan air laut. Ada empang kakap, empang bandeng, empang Giant Travelly dll.

    1. waaahhh .. terima kasih atas komentarnya … bener juga … wah, saya sudah kunjungi bloh Mancing Gembira nih … menarik … saya jadi banyak belajar tentang memancing … salam mancing !

  7. yandi herdiansyah | Balas

    waaaahh.. menarik sekali artikelnya!! terimakasih.. mungkin filosofi bisnis itu tidak hanya dari mancing aja ya.. contoh catur, bola, dan lain sebagainya.
    oh iya buat bang yari NK, kalo masalah menangkap ikan itu bisa pake apa aja.. salah satunya pake jaring, tidak hanya pake robotik loh untuk menangkap ikan lebih banyak dalam waktu cepat. mungkin itu yg di sebut alat / teknologi yg di katakan di artikel bang riri di atas. kalo menurut ” robert t kiyosaki ” mungkin ini yang di sebut daya ungkit. dan di bisnis juga ada yg menggunakan seni ( sesuai prosedur ) atau yang tidak ( bermain curang ) begitu juga dalam menangkap ikan. lam kenal aja bt bang riri dan bang yari

    1. Maksud saya di atas bukan alatnya tapi lebih kepada seseorang pemancing sejati yang lebih “menikmati proses”nya dibandingkan hasilnya sendiri. Mungkin bagi seseorang pemancing sejati lebih enak memancing cara tradisional namun hasilnya lebih sedikit dibandingkan dengan cara ultramodern yang menghasilkan tangkapan sangat banyak (malah jauh lebih banyak dari jaring mungkin saja) namun “seni” memancingnya tidak dapat ia rasakan. Nah, ini sedikit berbeda dengan bisnis di mana “alat apapun” bisa digunakan asal bisa menjamin meningkatnya pelanggan (tentu dengan cara yang etis sedangkan bermain curang tentu bukan hal yang etis jadi tidak termasuk konteks).

      Namun begitu tentu saja ini bukan penyangkalan artikel bang Riri di atas. Apa yang diungkapkan bang Riri di atas memang benar adanya, karena itulah persamaan2nya, sedangkan apa yang saya tulis adalah sedikit perbedaan2nya yang mungkin memang di luar topik yang dibahas bang Riri (karena memang bang Riri mungkin hanya berniat mengutarakan kesamaannya saja). Got it??😉

      Salam kenal juga untuk anda…

    2. Mas Yandi dan Kang Yari … terima kasih atas komentar-komentarnya … menarik menyimak komentar kawan-kawan berdua … jadi, kapan nih kita mancing bareng .. hehehe … salam.

  8. Tapi ada perbedaannya juga sedikit antara mancing dan bisnis bang Riri. Mungkin di masa mendatang akan tercipta robot2 akuatik kecil yang mampu menangkap ikan sehingga mungkin akan lebih banyak ikan yang tertangkap dalam waktu yang lebih singkat. Namun bagi orang yang benar2 senang memancing, yang sangat menikmati kesabaran memancing sebagai bagian dari seni memancing, mungkin akan merasakan cara seperti ini kurang berseni dan kurang menantang. Sementara dalam bisnis, cara apapun (walaupun tentu saja harus halal dan etis) mungkin sah-sah aja ditempuh karena semakin banyak pelanggan yang diraih dalam waktu yang singkat akan semakin baik bagi bisnis tersebut (terlepas dari kapasitas produksi bisnis tersebut tentu saja…)… hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s